Seperti hari-hari sebelumnya, bulan Desember adalah saat ketika kabut selalu betah bercanda di hamparan bumi Lembanna. Rinai yang menghambur seperti tirai yang melayang malu-malu. Seakan ingin menyembunyikan setiap hasrat hati yang menggemuruh untuk menjangkau Bawakaraeng yang tertutup awan kelabu.
     Dan di tiga puluh desember tahun sembilan puluh itu, baris-baris doa yang tulus, disemai bersama setiap harap yang menyertai bibit pinus yang ditanam. Kegiatan penghijauan Korpala Unhas itu menghimpun harapan dari setiap insan pencinta alam yang sering mampir ke Bawakaraeng untuk berkegiatan bersama. Berbuat dalam kesatuan langkah yang seirama. Menghimpun rasa sehati untuk suatu kepedulian akan pelestarian lingkungan.
     Yang menjadi catatan terpenting adalah partisipasi masyarakat Lembanna sendiri. Hampir seluruh laki-laki dewasa terlibat langsung mulai dari menyiapkan lubang tanam hingga mengumpulkan bibit pinus yang tumbuh liar untuk disemai kembali di lahan yang menjadi target. Paritsipasi yang tulus, tanpa ada iming-iming dan embel-embel imbalan yang menggerakkan mereka.
     Bagi penduduk Lembanna waktu itu, suksesnya pelaksanaan penghijauan ini adalah bentuk implementasi dari kesadaran akan pemahaman mereka tentang pentingnya berbuat untuk menghijaukan lahan yang gundul. Berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan dan tentu saja untuk kebaikan kelangsungan hidup mereka. Diperlukan lebih dari sekadar slogan untuk melestarikan lingkungan. Setiap ayunan cangkul mereka membentuk lubang tanam adalah bukti nyata tentang kepedulian itu.
Ketum Korpala, Ferry Gani berpidato di pembukaan kegiatan
bersama bapak PR-3 Unhas dan sebagian peserta yang berpartisipasi. ada juga bapak yang mewakili dinas kehutanan dan satu dua orang penduduk yang ikut rame-rame acara seremonial.
 salah satu sudut lahan yang menjadi target penghijauan. ada Farida Indriani, Arahab Mansyur, angko Ferry Gani dan Roby Karel
 Guntur, Mukhlis Mansyur, Mukhlis Marhaban, Hero Fitrianto, Asadi Abdullah, Harsiadi, Welly Turupadang, Fauziah Djafar
 ada Cecep Iwan Setiawan, Nevy Tonggiroh dan Bastian
 ngobrol dengan PR-3 Unhas, bapak Kahar Idu desertai Nyonya. Berharap ada mahasiswa Unhas yang ditempatkan untuk KKN di desa ini, untuk membantu mempercepat perbaikan jembatan yang sementara digunakan oleh Robi untuk mejeng. Ada juga almarhum Sayarifudin 'Faye' Ahmad.
 persiapan bibit di depan rumah Daeng Supu'. Ada Awaluddin Lasena, Arifin Sijaya dan yang baju biru topi merah itu, 'lupa' namanya..
 Mengajukan proposal bantuan bibit sebanyak 2000 bag, namun yang direalisasikan oleh dinas kehutanan hanya 500 bag. Di sinilah partisipasi masyarakat Lembanna berperan sangat penting. Suksesnya acara ini adalah suksesnya Lembanna. Namun bila gagal karena tidak ada bibit, maka itu adalah siri' yang tidak bisa ditunaikan dengan baik. 
Mengetahui begitu minimnya bantuan bibit yang disediakan oleh pemerintah, masyarakat Lembanna berinisiatif mencari bibit yang tumbuh liar. Hasilnya begitu luar biasa, dari target tanam 2000 bibit, maka di kegiatan ini terealisasi sekitar 5000 bibit.. partisipasi yang begitu luar biasa.
     Dan baris-baris doa itu, terbang tinggi abadi ke langit pengharapan. Semoga kerja sederhana itu mengguratkan makna yang berarti ke dalam hati setiap kita. Makna yang lahir dari ketulusan masyarakat Lembanna dan keikhlasan Bawakaraeng menerima setiap jejak kaki kita.

banyak kisah yang menyertai kegiatan ini,
yang menjadi abadi di kenangan kita
untuk menyelenggarakan kegiatan ini hingga tuntas.
dengan segala kerendahan hati, saya menunggu
kisa-kisah seru kalian saudara dan adik-adikku,
mengisi lembar komentar di bawah untuk
melengkapi mozaik kenangan kita di waktu itu..

miss U all brader n sista.. 

     Cerita ini bukan khayalan belaka, tetapi benar-benar pernah terjadi. Hanya nama-nama mereka yang tersangkut dalam kejadian ini saya ganti dengan nama-nama fiktif sesuai permintaan yang bersangkutan. Peristiwanya terjadi baru kira-kira dua tahun yang lalu, menimpa diri seorang teman akrab saya bernama Kadir.
     Kala itu Kadir masih dalam suasana pengantin baru bersama istrinya, Nurjannah. Masih berbulan madu, begitulah. Meskipun bulan madunya tidak berlanglang-buana ke seantero jagad sebagaimana biasanya dilakukan oleh orang-orang golongan berduit tetapi cuma memanfaatkan masa cuti saja dengan bertandang ke rumah sanak famili. Namun demikian tidak mengurangi kesenangan masa-masa yang paling mengesankan itu.
     Pada suatu malam datang utusan dari ayah Kadir yang disuruh menemui saya, memberi kabar bahwa Kadir sakit.
     "Sakit?" saya bergumam hampir tak percaya. Soalnya baru seminggu yang lalu dia sehat walafiat duduk bersanding di pelaminan. Tetapi sebaliknya saya berpikir cepat pula. Kalau musibah mau datang kapan saja memang bukan mustahil. Kemarin sehat lalu hari ini nyawa dijangkau maut. Mati mendadak, kata orang, dapat saja terjadi.
     "Baiklah. Sebentar aku datang, kau pulang saja duluan", kata saya kepada anak muda yang menjadi utusan itu.
     "Jangan lama-lama, Bang. Soalnya ayah Bang Kadir berpesan betul, agar Abang datang secepatnya," kata anak muda itu.
     "Baik, baik. Aku segera ke sana", saya memutuskan.
     Anak muda itu pergi, saya berpikir keras. Tentu berat penyakitnya. Kalau tidak, takkan saya sampai disusul. Dan saya maklum mengapa saya diminta datang, berarti penyakit Kadir bukan penyakit yang harus diobati secara medis.
     "Kalau tak sanggup jangan dikerjakan, Bang", pesan istri saya waktu saya pamit menyatakan akan menengok Kadir yang dikabarkan sakit itu.
     "Jangan dipaksakan. Ingat, Abang baru mulai belajar. Kalau tak kuat, serahkan saja kepada Tok Guru", pesan istri saya seraya memberikan sepotong kunyit, kemiri, sahang dan sebilah pisau kecil dari baja murni.
     Pesan istri saya itu dapat saya maklumi. Saya memang baru mulai belajar berdukun dari Tok Guru. Jadi saya tak boleh mengada-ada.
     Hari telah menunjukkan hampir pukul dua belas tengah malam. Dingin malam memaksa saya melapisi tubuh dengan jaket tebal. Diawali dengan membaca Bismillahitawakaltu, saya melangkah turun dari rumah.
     Di ujung gang tempat tinggal mertua Kadir, tempat Kadir tinggal setelah menjadi suami Nurjannah, kedatangan saya disambut oleh Pak Iksan, ayah sahabat saya itu. Setelah mematikan kunci kontak motor dan menyandarkannya, Pak Iksan berkata dengan suara yang penuh kecemasan.
     "Cepatlah tengok si Kadir, mengapa dia jadi begitu".
     "Tenanglah, saya akan menengoknya. Kalau saya sanggup tentu akan saya bantu sepanjang kemampuan terbatas yang saya miliki. Di mana dia sekarang?" kataku dengan nada sugesti. Kami memasuki gang kecil sejauh kira-kira 300 meter untuk mendapatkan rumah Pak Hamid, ayah mertua Kadir.
     "Itu dia di sana", Pak Iksan menunjuk ke sebuah pojok di pekarangan rumah.
     Di pojok itu, di bawah sebatang pohon mangga, saya melihat sesosok tubuh yang mulai kehilangan wujud segarnya duduk herpeluk lutut. Dia, Kadir, sahabat karibku. Saya dekati dia, dia diam saja tak bereaksi.
     "Dir, apa kau buat di sini?" tegur saya. Tetapi dia tetap diam.
     "Ayo kita naik ke rumah. Tak baik malam-malam begitu berembun," sambung saya.
     "Takuuuuut . . . ", katanya menyahut.
     "Apa yang kautakutkan?" tanya saya.
     "Takuuut.."  katanya lagi.
     "Sudah berapa lama dia di sini, Pak?" tanya saya beralih kepada Pak Iksan.
     "Tiga hari, jadi mulai lima hari setelah malam resepsi perkawinannya", jawab ayah Kadir.
     "Selama itu apakah dia tidur di sini?"
     "Tampaknya dia antara tidur dan tidak, seperti tidur-tidur ayam. Kalau kami ajak naik ke rumah selalu dijawab dengan perkataan takut. Begitu pula kalau kami suruh makan, nasi yang kami sodorkan selalu dipandangnya dengan perasaan jijik dan dia menolaknya dengan perkataan takut".
     "Jadi selama itu dia tidak tidur dan tidak makan?"
     "Jangankan makan, minum pun dia tak mau", jelas Pak Iksan.
     Kepada Pak Iksan saya minta supaya orang-orang yang tidak berkepentingan yang berkerumun di sekitar pekarangan tempat Kadir berada, diusir saja. Pak Iksan memaklumi permintaan saya dan menyuruh mereka pergi. Hingga tinggallah saya sendiri, Pak Iksan, Pak Hamid mertua Kadir, dan anak muda yang tadi diutus memanggil saya.
     "Semalam kami kesal juga. Kami paksa beramai-ramai dengan mengangkatnya naik ke rumah, tetapi dia meronta-ronta dan kembali lagi ke tempat ini", jelas Pak Hamid.
     "Jangan dipaksa, tak ada gunanya", saya mengingatkan.
     "Apa yang kau takutkan, Dir?" saya coba memancing. Tetapi Kadir diam saja.
     "Nurjanah di mana?" tanya saya kepada Pak Hamid.
     "Di kamarnya. Tiga hari ini dia pun tak tentu tidur, menangis saja memikirkan suaminya", kata Pak Hamid.
     "Boleh saya menjenguknya sebentar?" saya minta izin.
     Setelah diperbolehkan, saya naik ke rumah bersama Pak Iksan dan Pak Hamid. Sedangkan si anak muda saya suruh menemani Kadir. Tetapi hampir saja anak muda itu saya tampar, karena tak mau menemani si Kadir dengan alasan takut.
     "Kalau kau takut, potong saja ***mu...!  jangan jadi laki-laki", bentak saya  Barulah dia mau menuruti perintah saya.
     Di kamarnya, kamar pengantin, saya mendapati Nurjanah sedang terisak-isak dikelilingi oleh ibunya, ibu Kadir, dan beberapa perempuan separuh baya lainnya. Kamar itu masih semerbak bau bunga rampai pewangi kamar mempelai.
     "Nur, ini Abang datang membawa kabar gembira. Kau jangan bersedih terus, penyakit suamimu tak sulit diobati. Dia segera sembuh", aku menghiburnya. Meskipun saya menyadari saya telah berbohong, sebab saya belum pasti tentang sulit tidaknya mengobati penyakit "takut tidur" dan "takut makan" si Kadir itu. Maklum baru sekali ini saya bertemu penyakit "takut" itu.
     Nurjanah agak tenang setelah saya minumkan air penenang hati, segelas air putih yang telah saya jampi-jampi.
     "Nur, Abang mau tanya. Adakah Nur pernah menjalin cinta dengan pemuda lain sebelum dengan Kadir? Atau apakah untuk mendapat Nur tempo hari, Kadir ada bersaing dengan laki-laki lain?" saya mulai mengorek keterangan untuk keperluan pertolongan terhadap sahabatku itu.
     Di sela-sela sedu sedannya, Nurjannah menggeleng-gelengkan kepala.
     "Kalau begitu apakah Nur pernah menyakiti hati orang lain?" Nurjannah juga cuma menggeleng.
     "Atau Nur tahu, barangkali Kadir pernah menyakiti hati orang lain?"
     "Nur tak tahu, Nur tak tahu...", katanya setengah berteriak. Memang pertanyaan ini seharusnya saya ajukan kepada Kadir tetapi dalam keadaannya yang saya nilai gawat, belum mungkin untuk menanyinya langsung.
     “Sudahlah. Sekarang Nur cabalah usahakan untuk tidur, agar Nur tidak jatuh sakit”, saya menasehatkan. Kemudian  mereka saya tinggalkan.
     Saya duduk di tangga rumah. Dengan pisau baja kecil yang tadi dibekali oleh istri, saya mencincang-cincang kunyit sambil menjampi-jampinya dengan beberapa potong ayat-ayat suci Al Quran. Disertai oleh Pak Iksan dan Pak Hamid, saya kembali menghampiri si Kadir yang masih ditunggui oleh anak muda penakut itu.
     "Dir, lihat ini", saya sodorkan kunyit itu tiba-tiba ke mukanya.
     "Jangan ... takuuuut ...", katanya merinding dengan menciutkan posisi duduknya yang berpeluk lutut.
     "Astagfirullah, positif dia kena guna-guna", ujar saya kepada Pak Iksan dan Pak Hamid.
     "Jadi bagaimana?" tanya Pak Iksan.
     "Cobalah bawa ke sini segelas air putih, beri sedikit garam", pinta saya. Setelah air yang diminta datang dan saya jampi-jampi, saya berikan untuk diminumkan kepada Kadir. Celakanya si Kadir tak mau meminumnya. "Takut", katanya. Tetapi saya kumur-kumur dan saya semburkan ke mukanya.
     "Sakit ...", kata Kadir lirih kena air semburan itu.
     Bingung juga saya. Guna-guna apa pula ini? Kalau kena polong, atau jenis tenung kiriman lain yang membuat korban tak sadar atau kemasukan, dapat dipancing dengan menanyainya dari mana asal usulnya. Tetapi yang seperti diderita Kadir, saya belum pernah menemui. Polong bisu pun bukan. Sebab Kadir masih sadar dan masih dapat bicara, walaupun cuma berkata "takut", "jangan" atau "sakit".
     "Pak Iksan, Pak Hamid. Saya minta waktu kira-kira empat puluh menit untuk menjemput seseorang yang saya rasa layak untuk menyembuhkan si Kadir", ujar saya kemudian.
     "Bapak-bapak tunggu saja di sini. Mudah-mudahan cuaca baik, kalau turun hujan kasihan juga si Kadir", kata saya.
     Saya harus memberi tahu Tok Guru, bahwa seorang sahabat karib saya telah menjadi korban guna-guna aneh. Ada pun yang saya maksud dengan Tok Guru, adalah seorang laki-laki berusia 80 tahun, saudara sepupu datuk (kakek) saya sendiri. Beliau seorang dukun yang disegani, dukun dalam pengertian kebajikan, bukan dari kalangan dukun black magic. Nama beliau sendiri Syarif Abdurrakhman Alaydrus, tetapi oleh murid-muridnya biasa dipanggil Tok Guru, karena beliau juga guru mengaji. Sehingga kekallah khalayak yang mengenal beliau memanggilnya dengan sebutan Tok Guru. Meskipun usia beliau sudah mendekati 80 tahun, tetapi langkahnya masih tegap. Matanya belum rabun, telinganya masih terang mendengar, hanya mata sudah cekung dan kulit keriput oleh tua usia. Sedikit-sedikit beliau ada menurunkan ilmu kebajikan untuk saya. Tidak kepada sembarang orang Tok Guru mau mengajarkan ilmu kebajikan itu. Maksudku kepandaian untuk mengobati orang yang terkena guna-guna atau memberi pekasih kepada orang yang biasanya selalu kurang bernasib mujur.
     Dengan mengebut motorku, dalam tempo seperempat jam kemudian saya telah sampai di rumah Tok Guru. Mudah-mudahan Tok Guru tak ada halangan, sehingga dapat saya bawa melihat keadaan si Kadir.
     Tak payah saya menggedor pintu rumah Tok Guru. Begitu kaki menginjak anak tangga rumahnya, Tok Guru muncul menguakkan daun pintu.
     "Maaf, Tok. Ulun mengganggu," ujar saya masih di tangga rumah. (ulun= saya).
     "Naiklah sebentar, aku sudah tahu maksud kedatanganmu. Kawan kau itu memang perlu bantuanku," kata Tok Guru.
     "Bagaimana Tok Guru tahu?" tanya saya heran. Sebab saya belum bercerita tentang maksud kedatangan saya, tetapi Tok Guru telah tahu lebih dahulu.
     "Itulah yang dinamakan kontak batin. Beberapa saat tadi, kau sebagai muridku mempunyai niat akan datang menemuiku untuk minta dukungan, karena kau belum sanggup mengatasi persoalan ini. Hatimu mengatakan, hanya Tok Guru yang sanggup mengatasi persoalan sahabatmu itu. Nah, secara tak langsung kau telah berbicara kepadaku untuk meminta bantuan. Begitulah. Tunggu sebentar", Tok Guru melangkah masuk. Tinggal saya terbingung-bingung duduk di tangga rumah.
     Saya, kagum kepada Tok Guru. Sayang beliau hanya mau menurunkan kepandaiannya sangat minim kepadaku, alasan beliau karena saya masih terlalu muda, baru berumur 33 tahun.
     "Kalau sudah berumur empat puluh tahun ke atas, bolehlah kutambah-tambah sedikit lagi", kata Tok Guru begitu muncul di ambang pintu. Agaknya beliau mengetahui kerisauan hati saya tentang ketidakpuasan saya akan kepandaian yang minim yang beliau turunkan. Tetapi Tok Guru sendiri menurut cerita, sejak berumur 20 tahun sudah mewarisi kepandaian ilmu Kebajikan dari almarhum abah (ayah)nya. Mengapa Tok Guru ragu-ragu menurunkan ilmunya kepada para anak cucunya? Beliau pernah bercerita kepada saya, bahwa beliau khawatir akan disalahgunakan.
     Tak sampai empat puluh menit yang saya janjikan, kami telah berada kembali di pekarangan rumah ayah Nurjannah. Sepanjang jalan tadi telah saya ceritakan keanehan-keanehan yang menimpa diri Kadir kepada Tok Guru yang duduk tenang-tenang dibocengan motorku.
     Setelah berkenalan dan berbasa-basi sekedarnya dengan Pak Iksan dan Pak Hamid, kami langsung mendekati Kadir yang masih meringkuk di bawah pohon mangga. Tampak ia semakin kedinginan, waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dinihari.
     Tok Guru jongkok di hadapan Kadir. Lalu secara tiba-tiba saja Tok Guru menampar pipi Kadir kiri dan kanan. Mengaduh tidak, merintih pun tidak ia oleh tamparan itu. Kadir cuma semakin menciutkan diri saja.
     "Jadi dia takut naik ke rumah? tanya Tok Guru kepada ayah Kadir.
     "Ya, selain itu dia juga takut melihat nasi dan bantal", kata Pak Iksan.
     "Coba minta sebuah bantal", perintah Tok Guru.
     Perintah itu saya teruskan kepada si anak muda tadi yang rupanya saudara sepupu Kadir. Dia berlari naik ke rumah dan tak lama turun lagi membawa sebuah bantal yang diterima oleh Tok Guru.
     "Dir, tidurlah", kata Tok Guru sambil menyodorkan bantal itu kepada Kadir.
     "Takut ....takut ...", Kadir menutup mata dengan lengannya.
     "Ada nasi yang masih tersisa di subuh begini?" tanya Tak Guru pula. Setelah ditanyakan ke rumah, untunglah masih ada tersedia nasi dan sisa lauk pauknya. Satu piring nasi yang lengkap dengan lauknya disediakan dan diserahkan kepada Tok Guru. Tok Guru memberikan nasi itu kepada Kadir.
     "Makanlah, Dir. Tiga hari, sudah kau tidak makan dan tidak tidur, bisa mati kelaparan kau", kata Tok Guru mencoba berkomunikasi dengan Kadir.
     "Takut . . . Kadir lagi-lagi menyatakan takut setelah melihat nasi yang disodorkan Tok Guru.
     "Astagfirullah al adzim.." gumam Tok Guru.
     "Mengapa, Tok?" bisik saya di telinga Tok Guru.
     "Dia ditenung orang, timang ayun-ayun", bisik Tok Guru.
     "Timang ayun-ayun itu apa?" saya ingin lekas tahu.
     "Nanti kalian juga akan tahu", jawab Tok Guru singkat.
     Setelah itu Tok Guru mengajak kami semua naik ke rumah dan membiarkan Kadir sendirian di bawah pohon mangga itu.
     "Untung belum terlambat benar saya diberi tahu. Insya Allah dalam empat atau lima hari ini jika anak itu kuat tak makan dan tak tidur, tak akan membawanya sampai ke jurang maut", ujar Tok Guru setelah minum beberapa teguk kopi dan menikmati pisang goreng yang disuguhkan.
     "Tetapi malam ini saya belum bisa mengobatinya. Saya harus mempersiapkan sesuatu dulu di rumah. Insya Allah penyakitnya gampang disembuhkan dengan perkenan Allah,    lanjut Tok Guru tanpa menjelaskan "sesuatu" apa yang akan dipersiapkannya.
     "Kita tunggulah besok malam", ujar Tok Guru pula.
     Besok malamnya kami telah berada kembali di rumah Pak Hamid. Satu masalah lain yang harus kami hadapi ialah menghindarkan pengobatan yang akan dilakukan oleh Tok Guru dari tontonan orang ramai. Tetapi dengan suatu kekuatan batin dan sorot mata yang tajam, Tok Guru berhasil memerintah pasiennya untuk pindah ke tempat yang dikehendaki oleh Tok Guru. Kadir lari ke sebuah sudut di pekarangan belakang, di dekat sebuah perigi (sumur).
     "Tok, kalau dapat dipindahkan ke tempat lain begini, mengapa Tok Guru tidak dapat memerintahkannya supaya mau naik ke rumah dan tidur atau makan?" tanya saya penasaran.
     "Itu lain persoalan, tak segampang yang kaukira", jawab Tok Guru acuh tak acuh.
     Hanya saya yang diperkenankan hadir oleh Tok Guru untuk menemaninya dalam upacara pengobatannya. Pak lksan walaupun ayah kandung Kadir sendiri, tak diperkenankan ikut serta. Tok Guru khawatir terjadi hal-hal yang tak diingini bila keluarga korban mengetahui siapa orang jahil yang telah menyakiti korban.
     Setelah mencelupkan sebilah pisau baja kecil ke dalam semangkuk air putih yang telah dijampi-jampi, Tok Guru memberi isyarat yang saya mengerti. Lalu saya jongkok di belakang Kadir yang duduk bertekuk lutut dengan muka pucat dan tubuh yang cepat sekali telah menjadi kurus. Kemudian Tok Guru menyemburkan air itu ke ubun-ubun Kadir, membuat dia lunglai dan jatuh terguling ke dalam pelukan saya yang telah berjaga-jaga di belakangnya. Lalu saya lepaskan dia tergeletak di sisi perigi.
     "Bismillahirahmanirakhim...” desis Tok Guru.
     Tok Guru lalu membakar kemenyan putih di tempat bara yang sebelumnya telah kami persiapkan. Reaksi pertama, Kadir bangkit duduk bersila. Kedua belah tangannya bertelekan pada kedua ujung lututnya.. Matanya liar menyala-nyala, lalu tak beralih menentang pandangan mata Tok Guru. Tetapi kemudian mata itu menjadi layu bagaikan terkantuk-kantuk oleh tentangan mata Tok Guru.
     "Timang-timang ... ayun-ayun ... temiang bulun berayun-ayun. Buang buang ... kekasih buang ... buang sayang jauh-jauh ... ", Kadir menyanyi terangguk-angguk. Tetapi yang terdengar bukan suaranya sendiri, melainkan suara seorang perempuan tua. Berdiri segenap bulu di tubuhku bila mengingat kejadian malam itu.      "Heh! Kau perempuan tua, berhentilah menyanyi. Siapa kau ini sesungguhnya? Siapa yang sedang kautimang?" tanya Tok Guru kepada perempuan tua yang menyusup di tubuh Kadir. Sesungguhnya, jasad Kadir yang sedang sakit itu berkat ketangguhan Tok Guru, berhasil dikosongkan dari rohnya sendiri dan digantikan oleh setan yang menyaru sebagai roh perempuan tua yang berhasil diundang oleh Tok Guru. Perempuan tua itu adalah dukun jahat yang sedang menganiaya Kadir. Apa-apa yang dikatakan oleh Kadir pada saat-saat itu begitu pula yang diucapkan oleh perempuan tua yang entah di mana itu membuat Tok Guru segera menggunakan "ilmu kundang"nya.
     "Heh ... heh ...", Kadir tertawa dengan suara perempuan tua yang amat menyeramkan. "Aku sedang menimang Kadir, cucuku".
     "Untuk apa kautimang-timang?" tanya Tok Guru, sementara mataku tak lepas-lepasnya memperhatikan Kadir yang berubah mirip perempuan tua baik suara maupun gerak-geriknya.

     "Supaya cucuku tak dapat tidur", jawab Kadir.
     "Lalu yang akan kaubuang jauh-jauh?" tanya Tok Guru pula.
     "Hatinya...".
     "Mengapa mesti begitu?"
     "Entahlah".
     "Mengapa kau tak tahu?"
     "Aku cuma disuruh".
     "Disuruh siapa?" kejar Tok Guru.
     "Rahasia ... heh ... heh ... ".
     "Kalau kau merahasiakannya, berarti kau tidak bersedia bekerja sama dengan Tok Guru. Mau kau jadi musuh Tok Guru?" ancam Tok Guru.
     "Jangan .. Tok Guru kuat ... ", jawab nenek tua yang tak lain setan gambaran roh nenek tua yang menyaru ke dalam tubuh Kadir.
     "Kalau begitu sebutkan, siapa yang menyuruhmu!"
     Nenek tua itu menyebutkan nama seorang laki-laki.
     "Kau sendiri siapa?" tanya Tok Guru.
     "Aku Mariam", jawabnya.
     "Di mana kau tinggal?"
     "Timang-timang... ayun-ayun ... temiang buluh berayun-ayun. Buang-buang ... kekasih buang ... buang sayang jauh-jauh ..", Kadir menyanyi lagi dengan suaranya yang khas tak menghiraukan pertanyaan Tok Guru yang terakhir.
     "Kalau kau mau selamat, sebaiknya kita bekerja sama. Sebuatkan di mana kau tinggal. Atau kubunuh kau!" ancam Tok Guru dengan gerakan seolah-olah akan menghunjamkan ujung pisaunya ke dalam air putih di dalam mangkuk.
     "Ampun..! Jangan bunuh aku. Aku tahu kau lebih kuat dari aku ...", jerit perempuan tua di tubuh si Kadir.
     "Baiklah! Sekali ini kau kuberi ampun, cepat tunjukkan di mana kau tinggal", perintah Tok Guru masih dalam sikap mengancam.
     "Baiklah. Tetapi janji, Tok Guru tak akan membunuh Mariam. Mariam cuma mengambil upah untuk beli sirih", ujar Kadir yang kerusupan dengan suara lirih minta-minta ampun.
     "Tok Guru bukan pembunuh, setan! Tok Guru bukan sebangsa kalian!" bentak Tok Guru marah.
     "Rumahku di..di balik pohon buluh... di...", dengan jelas perempuan itu menyebutkan alamat rumahnya.
     "Baiklah. Aku telah berjanji tidak akan membunuhmu tetapi kau akan berhadapan dengan Tok Guru ..!”, ujar Tok Guru seraya menghela napas dalam-dalam. Lalu Tok Guru memberi suatu isyarat lagi kepadaku. Kembali aku berjaga-jaga di belakang Kadir yang lagi-lagi berdendang "Timang ayun-ayun". Tok Guru komat kamit, entah ayat apa pula yang diserapahkannya. Lalu tiba-tiba "gedebab", Kadir tergolek di pangkuan saya. Dengan tubuh bersimbah peluh, Kadir sadar kermbali dan duduk seperti semula berpeluk lutut sambil meracau terus, "Takut..." katanya.
     "Sudahlah. Sebentar lagi kau tidak akan takut lagi", ujar Tok Guru sambil mengusap-usap kepala sahabat karibku itu.
     "Kita undang jahanam itu", ujar Tok Guru kepada saya dengan suara geram. Sementara itu waktu telah menunjukkan pukul dua belas tengah malam.
     "Apa pun yang nanti kaulihat jangan ditegur", pesan Tok Guru sambil mengambil ancang-ancang duduk di sisi Kadir yang meringkuk bersandar di dinding perigi. Beliau menyuruh saya duduk rapat¬rapat di sisinya.
     Entah ayat-ayat apa yang dibaca Tok Guru dari kitab suci Al Quran, tak jelas terdengar. Hanya setelah itu Tok Guru berpesan mengingatkan sekali lagi agar saya tidak menegur apa pun yang nanti terjadi.
     "Datanglah ... datanglah ...", dengus Tok Guru kemudian terus-menerus dan sambil terus pula membakar kemenyan putihnya. Ada kira-kira hampir satu jam Tok Guru mendengus begitu tanpa letih-letihnya. Keringat bercucuran membasahi dahi dan sekujur wajah Tok Guru.
     "Ngeong ...", tiba-tiba saja seekor kucing hitam melesat di hadapan kami, entah dari mana datangnya. Hampir hilang semangat saya karena terkejutnya, syukur saya teringat pesan Tok Guru untuk tidak membuat reaksi apa pun terhadap apa yang terjadi. Tok Guru sendiri tak menghiraukannya, beliau terus saja memanggil-manggil, "Datanglah...datanglah...”
     Sesaat kemudian kucing hitam yang menyeringai garang di hadapan kami itu lari menghilang ke balik semak-semak di belakang rumah Pak Hamid. Lalu sayup-sayup terdengar suara nyanyi perempuan tua persis seperti yang tadi keluar dari mulut Kadir.
     ”Timang-timang, ayun-ayun...temiang buluh berayun-ayun.. Buang buang kekasih buang.., buang sayang jauh-jauh...". Dan suara perempuan tua yang menyanyi itu semakin mendekat sementara Tok Guru masih terus dengan "kundang"nya (mengundang), "datanglah... datanglah .. ". Kemudian di suatu tempat di semak-semak belakang rumah, saya lihat bergerak-gerak dan seperti dikuakkan orang. Seorang perempuan tua tampak terseok-seok datang sambil menyanyi "Timang ayun-ayun.. ". Tangan perempuan itu memeluk sesuatu seperti sedang menimang bayi. Tok Guru menghela napas dalam-dalam dan tak lagi memanggil-manggil dengan "kundang" nya.
     Perempuan tua yang lewat perantaraan Kadir yang kesurupan tadi mengaku bernama Mariam itu berhenti menyanyi. Sejenak ia memandang kepada Tok Guru, lalu menatap wajah saya. Saya tak mau kalah, saya balik menantang matanya yang tajam kemerah-merahan.
     "Ampunkan saya Tok Guru", kata perempuan tua itu dengan suara yang gemetar lalu memberikan benda yang ditimang-timangnya.
     "Sekali ini saja kau kuampunkan. Sekali lagi kau mengerjakan perbuatan terkutuk seperti ini, awas!" hardik Tok Guru. Mariam bersimpuh, berlutut di hadapan Tok Guru.
     Saya tak sempat melihat dengan jelas benda apa yang diberikan perempuan tua kira-kira berumur 60 tahun itu kepada Tok Guru. Karena begitu benda itu sampai ke tangan Tok Guru, langsung disembunyikan ke balik kain sarung yang diselendangkannya di bahunya. Tetapi benda yang semacam lagi dibiarkan oleh Tok Guru tergeletak di pangkuannya, benda itu ialah mayang pinang.
     "Apa lagi yang akan kau perbuat setelah ini Mariam?" tanya Tok Guru kepada Nek Mariam.
     "Izinkan aku pulang, Tok. Bukan pulang ke rumah", jawabnya.
     "Lalu pulang ke mana?"
     "Ke kampung kelahiranku".
     "Di mana itu?"
     Mariam menyebutkan kampung halaman tempat dia dilahirkan, sebuah kota kecil kecamatan di sebuah kabupaten sebelah tenggara Kalimantan Barat.
     "Baiklah, kau boleh pulang. Tetapi hentikan perbuatan-perbuatan begini, jangan lagi kau ulangi. Pada usiamu yang setua ini, yang terbaik kau lakukan ialah mendekatkan diri kepada Allah. Bangunlah..", nasihat Tok Guru.
     Nek Mariam bangun dari sujudnya. Saya lihat air matanya menitik.
     "Nah, pergilah...", perintah Tok Guru sambil mengibaskan mayang dari Nek Mariam tadi ke kepala Nek Mariam. Seperti tersentak dari tidur yang lelap, Nek Mariam melihat ke kiri dan kanan, melihat Tok Guru dan saya, lalu menunduk kemalu-maluan. Kalau yang tersipu-sipu itu seorang gadis remaja tentu akan membuat kita menjadi gemas, tetapi karena yang melakukannya seorang nenek tua yang keriput, bukan main mengerikannya. Ditambah pula angin malam mengembus dingin.
     Nek Mariam berdiri lantas pergi dengan langkah terseok-seok dan menghilang di balik semak-semak.
     “Kau lihat langkah perempuan tua itu?” tanya Tok Guru.
     “Ya, langkahnya tak lurus, tetapi bersilang-seling”, jawab saya.
     “Perempuan tua itu akan mati bangkit kalau sampai ajalnya nanti”, kata Tok Guru.
     Tok Guru mengajak saya  naik ke rumah. Sebelumnya beliau berpesan. “Ingat, kalau ada yang ingin tahu, jangan sekali-kali kau buka rahasia siapa orang yang hendak mencelakakan si Kadir. Apakah itu nenek tua tadi atau pemuda yang menyuruhnya, jangan kau katakan. Bilang saja tak mengerti atau suruh dia menanyakan langsung kepada Tok Guru”, begitu pesan Tok Guru dengan tandas.
     “Tetapi bagaimana dengan pemuda yang menyuruh nenek tua itu, kita apakan dia?” tanya saya sekadar ingin tahu.
     “Biarkan saja, dia kelak akan menjadi urusan nenek tua itu sendiri. Jangan kita mengadakan pembalasan terhadap orang yang mengguna-gunai orang yang kita tolong. Sekarang yang penting tugas kita sudah hampir selesai, menyelamatkan nyawa sahabat karibmu dari kematian dengan cara yang dikehendaki musuhnya”, kata Tok Guru.
     Sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, tetapi Tok Guru sudah memutuskan demikian, apa boleh buat. “Biarkan saja pemuda itu seterusnya menjadi urusan nenek tua itu.. “ Senjata makan tuan? Wallahu a’lam bissawab.
     Di rumah ayah mertua Kadir, kami berkumpul di sebuah ruangan. Tok Guru, saya sendiri, Pak Hamid, Pak Iksan, beberapa orang lain, baik laki-laki maupun perempuan yang sudah diizinkan oleh Tok Guru berkumpul bersama-sama untuk melihat sesuatu. Dari balik selendang kainnya, Tok Guru mengeluarkan sesuatu yang tadi beliau terima dari nenek dukun jahat itu. Sesuatu itu adalah semacam boneka yang terbuat dari tanah liat dan dibungkus kain putih mirip kain kafan pembungkus jenazah. Sedangkan pada wajah boneka tanah liat sebesar lengan itu, setelah kain kafannya dibuka, tampak melekat sehelai foto si Kadir. Sedangkan di perut boneka tertulis nama Abdul Kadir bin Muhammad Iksan dengan huruf Arab.
     “Astagfirullah...”, desis Pak Iksan dan Pak Hamid hampir bersamaan. Foto si Kadir oleh Tok Guru dikembalikan kepada ayahnya dan disuruh simpan baik-baik jangan sampai jatuh lagi ke tangan orang jahat.
     “Makanya jangan sembarangan memberikan foto kepada orang. Jangan sembarangan membuang kuku atau rambut. Foto, kuku, rambut, adalah benda-benda sensitif yang mudah dijadikan bahan untuk tenung”, pesan Tok Guru mengingatkan.
     “Perbuatan siapa semua ini, Tok?” tanya Pak Iksan dengan nada tinggi pertanda emosi.
     “Sudahlah. Hal itu kalian tak perlu tahu. Kalau kalian ingin memperpanjang juga, maka persoalannya tak akan ada habis-habisnya. Pertumpahan darah bukan mustahil dapat terjadi. Sebaiknya kita lupakan saja peristiwa itu, yang penting si Kadir selamat. Serahkan saja selanjutnya kepada perlindungan Allah. Nah, sekarang kalian sudah boleh menjemput si Kadir di dekat perigi itu dan bawa dia ke hadapanku”, perintah Tok Guru kepada Pak Iksan dan Pak Hamid. Tak lama kemudian Pak Iksan dan Pak Hamid muncul sambil memapah si Kadir dalam keadaan lemah dan baru saja hilang dari pengaruh jahat Nenek Mariam. Tak sepatah pun kalimat yang keluar dari mulut Kadir, hanya matanya saja yang berbicara melihat kami satu per satu seolah-olah bertanya, apa yang telah terjadi?
     Tok Guru memberinya segelas air putih yang sudah dijampi-jampi. Kadir meminumnya sampai habis. Bukan main hausnya dia. Lalu Tok Guru menyuruh panggilkan Nurjannah.
     “Bawalah suamimu ini, dia sudah sembuh”, ujar Tok Guru kepada Nurjannah kemudian.
     Dengan berderai air mata Nurjannah memeluk suaminya. Begitu pula Kadir, dengan lesu balas merangkul istrinya.
     “Cukup..cukup... Antar si Kadir ke dalam kamar, biar dia beristirahat dulu”, kata Tok Guru kemudian.
     Kadir ditemani istrinya diantarkan orang ke dalam kamarnya yang masih berbau kamar pengantin. Ada yang akan memberi si Kadir makan, tetapi dicegah oleh Tok Guru.
     “Besok saja kalau mau diberi makan, boleh sekenyang-kenyangnya”, kata Tok Guru. Selanjutnya Tok Guru memerintahkan untuk membuang boneka tanah liat dan mayang tadi ke tengah laut.
     “Kalau boleh kami bertanya”, tiba-tiba ujar Pak Hamid, “apa sebenarnya yang menjadi tujuan orang berbuat jahat terhadap menantu saya?”
     “Kalau itu yang menjadi pertanyaan, bolehlah saya jawab”, kata Tok Guru. “Tenung atau guna-guna ini namanya timang ayun-ayun. Sebab boneka yang dilambangkan sebagai tubuh orang yang dikehendaki menjadi korban, ditimang dan diayun-ayun bersama sekeping mayang pinang sambil dinyanyikan oleh dukun jahat suruhan musuh si korban. Guna-guna timang ayun-ayun ini sudah langka sekali, hanya orang-orang tua saja yang pernah bertemu dengan tenung itu”, jelas Tok Guru.
     “Tetapi sepanjang tahu kami, anak saya tak pernah mempunyai musuh”, potong ayah si Kadir.
     “Tentang punya atau tidak punya musuh entahlah.. wallahu a’lam..”, sela Tok Guru.
     “Apa akibat dari tenung timang ayun-ayun itu, Tok Guru?” tanya saya.
     “Yang jelas korban akan takut naik ke rumah, takut bantal dan takut nasi”, lanjut Tok Guru.
     “Coba kalian bayangkan, apa jadinya bila seseorang takut bantal dan tak bisa tidur berhari-hari, takut nasi sehingga tak mau makan sampai berhari-hari. Suatu siksaan perlahan-lahan yang akan membuat orang itu mati kelaparan, mati karena tidak makan dan tidak tidur..”, jelas Tok Guru.
     Ayam jantan terdengar berkokok bersahut-sahutan pertanda fajar sebentar lagi menyingsing. Tanpa kami sadari rupanya cukup lama kami berhal-ikhwal dengan yang hadir mengelilingi Tok Guru. Menjelang salat subuh ketika Tok Guru pamitan akan pulang, Pak Iksan menyelipkan amplop berisi uang ke dalam saku baju Tok Guru. Tetapi cepat dikembalikan lagi oleh Tok Guru.
     “Saya cuma menolong karena lillahi ta’ala..”, ujar Tok Guru.
     “Kalau saya tolak uang ini berarti saya takabur. Makanya sekarang saya berikan lagi dengan harapan untuk disedekahkan saja kepada yang lebih memerlukan..”, lanjut Tok Guru.
     Tok Guru hanya minta sebatang jarum dan sedepa kain kuning sebagai ‘pengeras’ dari orang yang telah beliau sembuhkan.
     Bagaimana pula nasib nenek dukun dan anak muda yang diam-diam telah menjadi musuh si Kadir? Wallahu a’lam.
cerita disampaikan oleh
Effendy Asmara Zola.
diterbitkan dalam bentuk hardcopy
di majalah SENANG 0530, th 1982. 

     Istilah 'Trader' yang mulai sering terdengar di beberapa tahun belakangan ini, bukanlah mengacu pada aktifitas perdagangan tradisional, jual-beli barang hingga skala antar pulau dan antar negara. Tetapi mengacu pada kegiatan yang baru berkembang dan dikenal akhir-akhir ini, jual beli mata uang. Jual beli yang dalam istilah asalnya dikenal sebagai 'foreign-exchange' itu, oleh para penggiatnya sudah diusulkan menjadi salah satu item resmi di dalam kolom isian jenis pekerjaan untuk isian formulir.
     Di dalam artikel kali ini, saya akan memaparkan beberapa level yang akan dilalui oleh seseorang sejak dari pertama kali ia mengenal dunia trading ini, hingga ia bisa disebut sebagai seorang 'Trader'. Untuk itu, ada beberapa Level yang harus dilalui seseorang sehingga bisa benar-benar disebut sebagai seorang trader:

Trader Level 1: Unconscious Incompetence
     Begitu kamu beres menandatangani agreement trading, disinilah kamu berada. Kamu menjadi trader karena kamu mendengar bahwa pendapatan seorang trader bisa mengalahkan pendapatan seorang direktur BUMN. Lagi pula saat simulasi kamu telah profit 3 kali lipat, lalu apa susahnya?.
     Kamu mungkin bisa profit dengan hasil yang menakjubkan 100 poin sampai 200 poin per lot per hari, namun itu semua hanyalah beginner luck saja. Kamu pada awalnya tidak akan percaya, dengan hanya mengandalkan 1 indikator saja, atau bahkan hanya dengan insting, kamu bisa menghasilkan profit.
     Namun sayangnya, market akan mengalahkan kamu. Tidak ada trader yang sukses hanya dengan faktor LUCK. Loss demi loss menghampiri kamu, kamu mencoba bertahan namun kalau sampai margin habis, siapa yang bisa tahan?
     Kamu sama sekali tidak menyadari bahwa kamu tidak bisa trading. Kamu tetap mengira kamu bisa trading walaupun semua fakta berkata sebaliknya ( apakah bulan ini profit?, bulan kemarin profit?, tahun ini profit? ).
     Kamu tetap mengira bahwa kamu adalah orang yang spesial, orang yang akan mampu mendapatkan kunci kekayaan dari trading. Dan kamu tidak menyadari bahwa 90% trader yang gagal juga mempunyai perasaan seperti itu. Kamu tidak mempunyai sistem yang komplit. Kamu dikuasai oleh emosi kamu, kamu selalu averaging posisi jika loss karena kamu marah dan gemas terhadap market. Kamu selalu take profit dalam jumlah yang kecil atau membiarkan profit berubah jadi loss karena kamu dikuasai oleh keserakahan (GREED), atau malah kamu tidak pernah trading karena kamu takut (FEAR). Kamu membiarkan diri kamu dikuasai oleh emosi sehingga margin equity kamu menderita.
     90% orang yang trading hanya sampai pada level ini. Mereka biasanya kapok, berhenti trading dan menganggap ini semua hanya mimpi buruk belaka. Sebagian lagi moralnya anjlok, tetapi mereka tetap mencari investor dan trading seperti orang gila. Dalam sebulan atau dua bulan margin habis lalu mereka mencari mangsa lagi.
     Mereka masih mengaku sebagai trader namun sebenarnya mereka hanyalah para executor. Biasanya orang yang moralnya anjlok ini dengan senang hati akan menjabat sebagai managemen di brokernya. Lalu sebagian lagi akan tetap ngantor seperti biasa dan mengaku trader tetapi tidak pernah trading. Mereka biasanya menyalahkan dirinya sendiri.
     Hanya masalah waktu, sampai kapan mereka dapat bertahan di level ini dan waktu selalu menang.
90% trader akan berada di level ini, dan hanya 10% yang sadar untuk kemudian pindah ke level 2.

Trader Level 2: Conscious Incompetence
     Di level ini kamu sadar bahwa kamu tidak bisa trading, kamu tidak memiliki kemampuan untuk trading yang menghasilkan profit secara konsisten. Dan kamu tahu solusinya, kamu sadar bahwa selama di level 1 pikiran kamu dikaburkan oleh emosi kamu sehingga kamu tidak bisa berpikir secara jernih.
     Di level ini kamu akan mencari holy grail (system yang sempurna, system yang 100% profit, system yang tidak pernah loss). Kamu mulai membeli system yang ada di internet, kamu membaca semua website yang ada tentang trading mulai dari UK, USA, Australia, Europa sampai Russia. Kamu baca semua ebook yang ada, kamu praktekan semua system yang kamu peroleh, kamu haus akan ilmu seperti seorang pengembara di padang pasir yang haus akan air minum.
     Pada level ini kamu akan membaca semua detail tentang indikator, kamu akan test semua indicator yang ada di metatrader, bahkan kamu mungkin akan membuat indikator sendiri ( biasanya gabungan 2 atau 3 indicator). Kamu akan bermain-main dengan moving average, fibonnacci lines, pivot point, camarilla pivot, deMark, Fractals, Divergence, DMI. ADX, Bollinger Bands, dan ratusan indicator lainnya.
     Kamu tahu bahwa market terlalu rumit untuk di predict hanya dengan 1 indikator saja. Kamu tahu kombinasi ideal dari masing-masing indikator, karena kamu tahu persis keunggulan indikator tersebut dan juga kelemahannya.
     Kamu akan mencoba menerka TOP dan BOTTOM dari market dengan indikator tersebut. Kamu akan bergabung dengan chat room trader dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh pada trader senior, karena kamu tahu kalau kamu tidak bertanya sekarang maka selamanya kamu tidak akan tahu.
     Pada akhirnya di level ini kamu akan mendapatkan 5 sampai 10 system yang lengkap dan mencoba mencari tahu system mana yang paling cocok dengan kepribadian kamu.
     Dari 10% trader yang ada di level ini, hanya sekitar 7% yang berhasil pindah ke level 3.
Trader Level 3: The EUREKA Moment
     Pada akhir level 2, kamu akhirnya menyadari pokok permasalahan bukan terletak di system. Kamu menyadari bahwa kamu bisa mendapat profit bahkan jika hanya menggunakan system yang simpel seperti moving average saja tanpa ada indicator lain, jika kamu bisa menggunakan kepala kamu dan money management yang benar.
     Kamu mulai membaca buku tentang psikologi trading, dan mengidentifikasi dengan karakter yang dijelaskan dalam buku itu. Akhirnya datanglah Level Pencerahan. Level pencerahan ini membuat otak kamu menyadari satu hal yang penting. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang mampu memprediksi secara akurat apa yang akan terjadi pada market 30 detik kemudian.
     Kamu mulai menguasai satu system trading dan memodifikasinya sehingga sesuai dengan karakter kamu, dan mampu memberikan lebih banyak profit dibandingkan system yang asli. Kamu mulai trading jika kamu tahu probabilitas untuk profit lebih besar daripada untuk loss, kamu hanya trading jika ada signal dari system kamu. Kamu selalu menggunakan stoploss, karena kamu tahu stoploss adalah resiko bisnis yang ada dalam dunia trading.
     Ketika stoploss kamu kena, kamu tidak emosi karena kamu tahu tak seorangpun bisa memprediksinya, dan itu bukan kesalahan kamu. Trading berikutnya akan meningkat probabilitas profitnya karena kamu tahu system kamu itu system yang profit.
     Kamu secara seketika menyadari bahwa dalam dunia trading hanya ada satu hal yang penting yaitu konsistensi pada system, psikologi trading dan money management kamu. Dan kedisiplinan kamu untuk melakukan trading apapun yang terjadi.
     Kamu mempelajari tentang money management, 2% risk, dan hal-hal lainnya. Hal ini mengingatkan kamu 1 tahun yang lalu ketika ada yang memberi nasehat yang sama padamu dan kamu memilih untuk mengacuhkannya. Ketika itu kamu memang belum siap namun sekarang kamu siap.
     Di level pencerahan, otak kamu akan menerima bahwa kamu tidak bisa meramalkan pergerakan market, karena memang tak seorang pun bisa.
     Dari 7% trader yang ada di level ini, hanya sekitar 5% yang berhasil maju ke level berikutnya.

Trader Level 4: Conscious Competence
     Baiklah, sekarang kamu hanya trading jika dan hanya jika system kamu memberi signal. Kamu cut loss sama gampangnya dengan take profit karena kamu tahu system kamu akan lebih banyak memberikan profit daripada loss. Dan cut loss yang kamu lakukan adalah resiko bisnis yaitu maksimum 2% dari account kamu.
     Di level ini kamu memulai target dengan profit 20 point per hari, dan setelah kamu mampu melakukannya secara konsisten selama beberapa minggu, kamu meningkatkan target dengan 40 point per hari. Dan hal itu pada akhirnya mampu kamu lakukan.
     Kamu memang masih harus kerja keras untuk mendapatkannya, memperbaiki system kamu, menguasai emosi kamu, dan melaksanakan money managemen yang kamu pegang.
     Level ini biasanya berjalan sekitar 6 bulan. Dari 5% trader, hanya sekitar 3% yang sanggup maju ke level berikutnya.

Trader Level 5: Unconscious Competence
     Nah sekarang kamu sampai di level 5, ini adalah level yang paling diharapkan oleh seluruh trader di dunia ini. Di level ini kamu bisa trading secara alami, kamu telah menguasai semuanya, kamu bisa Dancing with the Market. Kemanapun arah market berjalan, kamu telah open di posisi yang benar, jadi kamu tinggal melihat profit kamu bergerak dari 2 digit ke 3 digit.
     Inilah level puncak dari seorang trader, inilah level utopia. Kamu telah menguasai emosi kamu dan kini kamu trading dengan account yang terus membesar tiap harinya dari kumulatif profit yang kamu peroleh.
     Kamu akan jadi bintang di trading chat room, dan orang-orang akan mendengarkan apa yang kamu katakan. Kamu kenal dengan pertanyaan mereka, karena kamu ada diposisi mereka 2 tahun yang lalu.
Kamu akan memberikan saran bagi mereka, namun kamu tahu bahwa kebanyakan dari mereka tidak akan mendengarkannya karena mereka masih trader level 1.
     Kamu tidak akan mempunyai masalah financial lagi, kamu mampu membeli semua benda yang tersedia untuk dijual, kamu bisa membeli pulau dan trading di sana asalkan ada jaringan internet. Kamu bisa pindah ke hotel bintang 5 dan menjadi penghuni tetap di sana.
     Kamu mempunyai penghasilan seperti seorang superstar, kamu bisa membuat buku sendiri, kamu bisa trading dengan margin yang tanpa batas, dan account kamu akan berlipat-lipat dari account awal.
     Hanya 3% trader yang bisa mencapai level ini.
     Pada saat itulah kamu bisa dengan bangga berkata, ”SAYA SEORANG TRADER”.
this article adopted from a paper
delivered by KG - and absolutely
proud, salute and thanks to him,
for everything  given to me.
may God always bless you, Master.

     Di salah satu sudut kota yang tidak terlalu ramai itu, seorang anak kecil merengek meminta roti kepada ibunya. Dengan penuh kasih sayang, sang ibu mengajak anaknya pulang ke rumah yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Sesampai di rumah, si ibu berfikir sejenak sebelum memberikan roti untuk anaknya. Sekarang sudah tiba saatnya untuk mengajarkan satu aspek penting di dalam pemahaman bertuhan kepada si anak.

     Dengan penuh kasih, ibu itu memangku anaknya, sambil membujuk untuk mendengarkan nasehatnya sebelum mendapatkan roti. "Begini anakku, setiap sore engkau mengulang dengan tulus, bahwa hanya kepada tuhanlah kita menyembah dan kepada tuhan saja kita memohon pertolongan. Nah anakku, ke belakanglah berwudhu, lalu shalatlah. Setelah itu berdoalah kepada Tuhan, mintalah roti kepadaNya."

      Si anak dengan patuh mengikut petunjuk ibunya. Dan begitulah, setelah si anak menyelesaikan ritual, ia ke dapur dan menengok ke dalam panci. Benar saja, di dalamnya ada dua buah roti. Roti yang tentu saja diletakkan oleh si ibu ke dalam panci, sementara si anak melakukan ritual ibadahnya tadi. Begitulah, setiap hari kejadian itu berulang. Ketika si anak merasakan membutuhkan roti, ia melakukan ritualnya, dan selanjutnya ada roti di dalam panci di dapur. Si ibu selalu menjaga agar keyakinan si anak kepada Tuhan bisa semakin kokoh.

      Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Suatu hari, ketika tiba-tiba si ibu harus keluar kota karena ada keperluan mendadak. Maka tinggallah si anak sendiri di rumah. Dan seperti biasa, ketika matahari menjelang tinggi, si anak mulai melakukan ritualnya. Sebagi penutup, ia berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan roti. Namun kali ini, ketika si anak membuka panci di dapur, tidak ada roti di sana. Tidak ada ibu yang meletakkan roti ke dalam panci.

      Si anak tercenung. Panci kembali ditutupnya. Kepalanya menengadah, pandangannya tajam sementara otaknya berputar cepat. Pasti ada yang salah di dalam ritual yang dilakukannya. Begitu pikirnya singkat. Tuhan pasti akan memberikan roti bila semua ritual itu dilakukannya dengan baik. Lalu tanpa berfikir lebih lama, ia segera ke belakang, membasuh seluruh anggota tubuh seperti yang telah dipelajarinya. Kali ini dilakukannya dengan hati-hati dan cermat. Lalu ia memulai ritualnya dengan lebih baik, selanjutnya memanjatkan doa dengan lebih menghiba.

      Setelah rampung, ia bergegas ke dapur, membuka panci roti. Ah.. kosong. Tidak ada roti. Segera panci ditutupnya, lalu si anak kembali ke belakang, mulai membasuh anggota tubuhnya lagi. Ia sangat yakin, ada yang kurang sempurna di dalam ritual penyembahan yang dilakukannya sehingga tuhan belum berkenan mengisi pancinya dengan roti. Mungkin ada yang terlupa di dalam baris-baris doanya. Mungkin banyak kekurangan-kekurangan lain di dalam gerak lakunya.

      Begitulah, dua kali, tiga kali hingga beberapa kali ia mengulang semua prosesnya, namun setiap kali panci dibukanya, tetap tidak ada roti di dalamnya. Hingga di kali yang ketujuh ia menyelesaikan semua ritualnya yang sudah begitu khusyuk, si anak mulai merasa berdebar di dalam dadanya ketika mendekati dapur. Bila sejak tadi ia langsung menerjang tutup panci untuk dibuka, kali ini ia tidak terburu-buru lagi. Dengan khidmad, ia memengang bibir tutup panci lalu melafalkan basmalah, sesuatu yang ia lupakan sejak tadi karena selalu begitu terburu-buru.

      Dan alangkah takjubnya ia, ketika di dalam panci ternyata benar-benar ada dua roti seperti biasa. Roti ini benar-benar roti yang dikirimkan tuhan dari langit. Si ibu masih ada di luar kota. Lalu dengan sukacita, si anak melahap roti dari tuhan tersebut.

      Keesokan harinya, ketika si anak baru saja mendapatkan lagi roti dari tuhan dan belum sempat habis dilahapnya, si ibu sudah kembali ke rumah. Ia begitu kuatir jangan sampai anaknya sudah kelaparan oleh keperluan mendadak dua hari kemarin. Namun baru saja ia memberi salam dan melangkah ke dalam rumah, si anak menyambutnya dengan sepotong roti yang belum habis itu bersama kendi air untuk dahaga si ibu. Tentu saja si ibu sangat terkejut, sehingga sambil mengunyah sepotong roti itu, ia bertanya kepada anaknya, dari mana mendapatkan roti.

      "Kan ibu yang mengajarkan untuk selalu meminta kepada tuhan. Saya hanya melakukan nasehat ibu saja. Ibu tidak usah kuatir, tuhan selalu baik kepadaku dan memberikan rotinya setiap kali saya meminta."

      Anak kecil itu di kemudian hari dikenal dunia bernama Abdul Qadir yang berasal dari kota Jilan (Khailan?) di dekat Kota Baghdad - Iraq. Ia memiliki keyakinan tauhid yang hampir tiada banding. Namun ketika di dalam doa-doanya tuhan belum berkenan, ia akan selalu mengoreksi diri untuk menyempurnakannya. Tidak ada sedikitpun prasangka buruk kepada Tuhan, karena ia sangat sadar, bahwa hanya diri manusia saja yang sering lalai di dalam kewajiban dan tugasnya. Itulah mengapa ia akan terlebih dahulu melihat ke dalam diri sendiri, menakar seberapa sempurna kualitas dirinya untuk pantas mendapatkan apa yang ada di dalam doanya.


photo : trinitychurchbrentwood.com
diinspirasi dari satu khubah jumat
di kota Malino. Gowa Sulawesi Selatan.

lihat Abdul Qadir Jaelani di Wikipedia

di puncak-puncak tinggi itu
cinta memahat harap dan kecemasan
menggelitik adrenalin yang lena
berpacu menuju limit

di kabut tipis yang melayang rendah
sebaris, sebait lalu selaksa janji terserak liar
membelai lembut setiap pucuk di ladang bawang
untuk sang kabut atau sang janji
setiap harap dan cemas itu

di sejengkal pijakan yang lebih tinggi itu
tidak ada pilihan untuk menjadi munafik
meski sehembus nafas itu hanya debu kosmik
namun masih terlalu mulia untuk bertahan
demi sekadar sepotong oportunisme
di dalam lakon syahwat egoisme

di sini
dari telapak yang jejaknya hampir selalu samar
hanya sekeping cinta yang selalu menyertai
menyapa alam
untuk metamorfosa menuju gerbang-Nya
adakah cinta itu masih cinta yang layak
untuk dia yang maha tercinta

di tanah lembanna
setiap pucuk di ladang bawang itu
adalah cintaNya

photo : sunrire at Annapurna by Colman Li published National Geographi
 

     Mata kuliah Geologi Laut pertama kali di tahun 1985, ditambahkan ke dalam kurikulum untuk mahasiswa Jurusan Geologi Unhas. Perombakan materi perkulihan oleh kehadiran Bapak Haruna Mappa, sekembali beliau dari Jepang menyelesaikan program doktoralnya. Imbasnya jelas ke program perkuliahan mahasiswa.
     Bagi sebahagian yang sudah merampungkan jumlah sks sesuai persyaratan menyelesaikan Strata Satu, tidak perlu wajib ikut perkuliahan mata pelajaran tambahan dan perubahan. Namun untuk mahasiswa yang sekualifikasi saya, tidak ada pilihan lain. Mata kuliah itu menjadi wajib, sewajib-wajibnya, lengkap dengan kegiatan praktikum lapangan.
     Dan terjadilah, lokasi untuk pelaksanaan praktikum lapangan terpilih Pulau Barrang Lompo, salah satu pulau karang di dalam gugusan kepulauan Spermonde. Pulau yang di kemudian hari dipilih menjadi laboratorium ilmu kelautan milik Universitas Hasanuddin. Karenanya, menjadi pemandangan jamak bila peserta mata kuliah tersebut terdiri oleh mahasiswa Geologi dari berbagai angkatan.
 perjalanan menuju Pulau Barrang Lompo menggunakan perahu bermotor. 
dari kiri : Fauziah, Ahmad Habib, Gaffar Pallu, Dwiharso, Nur Asaf Abdullah, Hero, Kristian Simak, Hakku Wahab dan Hendrik Walla.
 malam hari begadang menunggui jam demi jam untuk mengumpulkan data pasang surut di bibir pantai. Perahu yang sementara parkir, menjadi tempat menyandarkan penat dan kantuk. 
Ada Nadira Tasik, Ahmad Negarawan, Hero dan Sulaeman Qamar. 
 dari kiri : Sulaeman Qamar, Hero, Hakku Wahab, Amir Jaya, Ahmad Negarawan, Buramin Dannu, Ruddin Bosa dan Yunus Patabang
 
 suasana siang hari, menunggu ritme pengukuran panjang dan tinggi gelombang setiap dua jam. 
 sekembali dari pulau, kapal kayu yang mengangkut rombongan peserta praktikum berserta para asisten dosen merapat di dermaga kayu bangkoa, tragedi itu terjadi
 Ashari Aras, Hero, Husen A.Taha dan Ahmad Negarawan
 ada juga Berry, staf Jurusan Geologi ikut di rombongan, dan tentu saja Bahtiar Amin Kasim yang paling sebelah kanan.

     Tragedi yang terjadi itu adalah saya terpeleset di bibir perahu ketika hendak menjangkau bibir dermaga. Tentu saja, saya nyemplung ke dalam laut, bersama ransel dan kamera yang digunakan merekan gambar-gambar yang ada ini. Beberapa foto rekaman terakhir kamera itu merupakan kinerja setelah sang kamera tercebut laut. Hasilnya masih mantap.
     Ada suka cita ketika saya tercebur ke laut itu. Betapa tidak, selama pelaksanaan praktikum di pulau Barrang Lompo, hanya saya satu-satunya praktikan yang tidak mau berbasah-basah menceburkan diri untuk sekadar melakukan pengukuran panjang dan tinggi gelombang. Dan kondisi itu tercium oleh para asisten dosen, namun mereka juga hanya bisa memendam dongkol dan mungkin juga dengki, karena kami bekerja berkelompok, maka mereka tidak bisa memaksakan saya untuk nyemplung ke laut di saat praktikum.
     Dan tragedi ini menjadi pelepas dahaga mereka-mereka. Ada rasa puas yang begitu membahagiakan di wajah para asisten dosen di waktu itu, seketika melihat 'kemalangan' yang menimpa saya. Rasa syukur tentu saja patut saya panjatkan kehadirat Tuhan, karena dengan kejadian itu saya bisa menolong mereka untuk terbebas dari dongkol dan dengki yang telah menggumpal menyerupai dendam di hati mereka. Senyum bahagia penuh kemenangan yang disisipi ekspresi sangat puas terbayang sepajang jalan menuju pulang ke kampus.
dari kiri : Brahaputera, Hasanuddin Landoho, Bahtiar Amin Kasim, Ashari Aras, Husen A.taha, Ahmad Negarawan, Kaharuddin M.S dan saya sendiri Hero

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.