Di tengah ramainya kesibukan merevisi kurikulum baru untuk anak-anak Indonesia, dengan segala harap-harap cemas akan efektifitasnya, ada baiknya kita sejenak mereview serba sekilas suatu sistim pendidikan yang diterapkan di Finlandia. Ya, Finlandia sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia.
     Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) yang mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.
     Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.
     Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lalu apa kuncinya sehingga Finlandia bisa menempati rangking puncak nomor satu dunia?
     Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes.
     Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.
foto : www.helsinki.fi

Apa gerangan kuncinya?
     Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!
     Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.
     Pada usia 18 tahun, siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi. Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di Sekolah Dasar Poikkilaakso, Finlandia.
     Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.
     Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.
Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki.
     Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dan lain sebagainya. Kalau mendapat PR, siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
     Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.
     Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Pemeringkatan dengan ranking nilai hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya, lalu cenderung mengabaikan siswa yang berada di peringkat yang lebih rendah.

     Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Sistim baru dan kurikulum baru yang sementara uji publik, layak untuk ditunggu perkembangannya. Yang jelas, setiap usaha untuk memperbaiki sistim pendidikan di negeri ini, selayaknya selalu didukung dengan sepenuh hati demi kemajuan bersama.
referensi : sekolahorangtua.com

gambar : elpensamientoajeno.blogspot.com


foto : socialphy.com

     Ini jelas bukan pertanyaan sepele, bagaimanapun kita mencoba menyederhanakannya. Itu barulah pertanyaannya, belum lagi jawaban yang bisa lebih luas dibanding Sahara. Bisa menjadi perdebatan filosofis yang membutuhkan tenaga super ekstra untuk mampu bertahan di dalam setiap analisa. Sehingga harus dibekali kecerdasan penalaran yang tinggi bahkan lebih tinggi dari Everest.

     Dan kalau pertanyaan itu ditujukan kepadaku, maka dengan segala kerendahan hati saya mesti menjawab tidak tahu. Ketidak tahuan yang bisa saja diartikan sebagai suatu sikap masa bodoh, bahkan mungkin pula sebagai cerminan akan kebodohan yang sebenarnya akibat kurangnya informasi dan lemahnya kemampuan analisis. Sesungguhnyalah tidak mudah untuk sekadar bisa memahami suatu filosofi yang selayaknya menjadi dasar landasan way of life yang universal, apalagi sampai menganggapnya semudah membuat semangkuk bubur havermut hangat.

     Sebagai mahasiswa yang telah menjadi 'pencinta alam', ada satu pertanyaan yang selalu menggelitik, setiap kali diutarakan ketika saya pulang dari suatu pendakian di gunung. 'Mengapa ke gunung, mengapa mendaki gunung?' Gelitik pertanyaan yang terasa geli-geli enak, namun sekali-sekali menjadi geli-geli mengkhawatirkan.

photo : http://www.ehdwalls.com/

     Geli-geli enaknya adalah teman-teman yang bertanya selalu dengan antusias, sambil menyelipkan apresiasi pengakuan akan kegiatan yang baru saja selesai. Pertanyaan filosofis itu tidak benar-benar dibutuhkan jawabannya. Dan semakin enaknya lagi, bahwa saya dibiarkan menjawab dengan satu senyuman sederhana. Cukup. Si penanya akan menerjemahkan, bahwa senyuman saya adalah senyum yang mengandung sejuta makna, sejuta pemahaman dan bahkan sejuta kebijaksanaan. Senyum itu lebih dari cukup untuk mewakili hal-hal yang jumlahnya sudah berjuta-juta itu. Si penanya benar-benar maklum dan merasa sangat tertolong, bila saya tetap tersenyum saja. Tidak terbayangkan berapa stamina yang harus dia persiapkan untuk mendengar dan menyimak, bila saya menerjemahkan setiap hal itu menjadi rangkaian kata.

     Geli yang mengkhawatirkan, sebenarnya adalah petaka di setiap penghujung senyum yang berjuta-juta arti itu. Khawatir, kalau saja orang yang bertanya itu ngotot untuk mendapat jawaban dalam bentuk rangkaian kalimat, dalam rangkaian kata yang nyaman dan bisa diverifikasi. Lalu apa yang harus saya katakan? Jawaban apa yang pas, yang setara dengan sanjungan yang terlanjur ikut tersirat di ekspresi dan tatapan si penanya yang begitu antusias?

     Beberapa jawaban jujur mestinya bisa saya utarakan untuk menjawab itu, namun rasa yang tidak cukup pede di nyali menjadi penghalang lidah untuk mengucapkannya. Masak iya sih aku bilang, karena 'ikut-ikutan' mode, atau karena lagi ngetren? Atau untuk sekadar pajang foto-foto aksi yang 'luar biasa' untuk ukuran mahasiswa yang bisanya hanya belajar dan belajar saja di kampus, sehingga saya bisa kelihatan keren di wall facebook saya? Atau biar saya kelihatan machonya untuk si dia yang sedang getol-getolnya saya taksir? Selanjutnya saya berharap si anu dan si anu bisa menaruh hormat, bisa menempatkan rasa segan sepantasnya untuk saya, bisa terkagum-kagum lalu koprol-koprol sambil ‘wow-wow’ karena aku ini pendaki gunung?

     Terlalu aib rasanya di benak saya untuk menjawab dengan apa adanya tersebut. Masak iya sih, mahasiswa bisanya hanya ikut-ikutan. Lalu masak cuma sekadar narsis seperti fotomodel kurang modal. Kenapa masih begitu primitif, menarik minat lawan jenis dengan cara pamer otot yang meregang dalam lelehan keringat dan daki.

     Dan itulah khawatir-khawatir yang selalu menyertai kemana-mana. Sederet jawaban sebenarnya sudah tersedia, mau yang filosofis copy-paste model lokal sampai gaya import, mau yang asal-asalan yang penting bunyi, mau yang sembrono rada-rada porno, semuanya tersedia untuk bisa dihapalkan. Namun selalu tidak sampai hati saya untuk sekadar copy-paste slogan, karena jerihnya terasa begitu menyayat bila mengatakan yang tidak sesuai dengan nurani. Dan tentu saja, copy-paste itu adalah ekspresi nyata dari suatu sikap ikut-ikutan yang sangat tidak bermartabat.

     Mungkin seperti itulah juga kalau tiba-tiba ada yang bertanya, apa sih pencinta alam itu? Berkaca pada pertanyaan ‘mengapa mendaki gunung’, maka menjawab pertanyaan terakhir ini rasanya menjadi jauh lebih sulit lagi. Terlalu banyak fenomena yang semakin menyudutkan rasa percaya diri yang sudah begitu rapuh. Satu jawaban yang bagaimanapun sederhananya, pastinya akan menuai begitu banyak sanggahan, sinisme dan pelecehan semangat dalam ekspresi penuh cibir untuk pertanyaan yang bertubi-tubi sebagai sanggahan untuk jawab yang sederhana tadi.

     Banyak paradoks yang sudah digambarkan dari masa ke masa tentang kepencinta alaman itu. Mulai dari kalimat-kalimat kasar anarkis, sampai yang mendayu dalam senandung yang indah. Bagaimana Rita Rubby Hartland menggugat keberadaan para pendaki gunung yang identik dengan pencinta alam, di dalam lagu ‘kepada alam dan pencintanya’.

     Menarik suatu kesimpulan tentang apa pencinta alam itu, bisa kita lakukan dengan mengamati hal-hal yang merupakan hasil kreasi dari mereka yang menamakan diri pencinta alam. Namun sekali lagi, kesulitan segera membentang, ketika tolak ukur dan batasan nampak sangat kabur dan luas. Kabur dan luas, memberi kesempatan untuk melahirkan penafsiran-penafsiran sendiri dari para penganutnya. Keberadaan kode etik sendiri menjadi pajangan filosofis yang tergantung tinggi di puncak menara gading, yang begitu sulit untuk diterjemahkan apalagi untuk diaplikasikan.

     Penafsiran-penafsiran liar yang menjadi definisi anutan setiap pencinta alam kemudian menjadi suatu keabsahan belaka. Menjadi permakluman yang lumrah bila setiap orang mempunyai definisinya sendiri. Bila sudah seperti itu, maka menarik suatu kesimpulan universal, menjadi sesuatu yang mustahil. Bila kesimpulan umum menjadi mustahil, maka mustahil pulalah untuk mendefinisikan apakah pencinta alam itu. Tanpa definisi yang jelas, maka sangat lumrah bagi kita untuk gagal atau keliru di dalam identifikasi.

     Kita kemudian akan terjerumus ke siklus telur-ayam. Pertanyaan joke sepele yang sering hadir di warung kopi ujung kampung sana, menyertai mentari yang merangkak meninggi. Namun seorang temanku selalu konsisten untuk menjawab ‘telur’. Seperti konsistennya ia selalu menjawab, bahwa contoh ideal pencinta alam itu adalah para ‘nabi’. ‘Semua nabi itu adalah pencinta alam’, begitu yang selalu dikatakannya bila diskusi sudah semakin mendalam tentang apa dan bagaimana semestinya pencinta alam itu.

     Nabi-nabi sepertinya bisa bahkan sangat layak untuk menjadi model yang disebut sebagai Pencina Alam. Mereka selain  menjadi penyampai 'kata-kata' Tuhan dalam bentuk kitab-kitab suci, juga membantu manusia di dalam membaca dan menerjemahkan kreasi Tuhan yang terpahat sebagai bentuk alam semesta ini. Metafora, perumpamaan dan fenomena-fenomena alam menjadi bahan halus, untuk diramu menjadi bahan pendidikan untuk manusia.

     Untuk itulah mereka melakukan perjalanan, penjelajahan, migrasi, dengan semua duka dan sukanya. Bahkan nyawa akan menjadi taruhannya, bukan hanya oleh ancaman binatang buas, oleh sulitnya medan yang harus diatasi, namun juga oleh variasi kelicikan manusia yang sebenarnya jauh lebih berbahaya dari semua itu. Tujuannya jelas, sederhana meskipun sama sekali tidak bisa dikatakan sepele. Pembelajaran, penerjemahan, perenungan akan interaksi manusia dengan semesta, akan membentuk manusia menjadi manusia yang baik. Manusia dengan wawasan yang holistik, berkesadaran semesta. Lalu manusia yang baik itu selanjutnya mampu untuk menyadari Dia sang Maha yang telah menciptakan segalanya.

     Para pencinta alam yang berkegiatan di alam bebas mestinya juga seperti itu. Apapun yang dilakukan semuanya sebagai sarana berlatih, belajar, membaca dan menerjemahkan kebaikan yang mendukung proses penempaan diri untuk menjadi ‘manusia baik’. Manusia baik yang ‘kebaikannya’ bisa ditakar secara universal, bukan sekadar baik oleh golongan kecilnya, apalagi hanya baik menurut dirinya sendiri. Kebaikan yang mampu untuk lulus uji sebagai suatu kebaikan oleh berbagai parameter, baik yang religius, yang akademis, yang filosofis dan lain-lainnya.

     Manusia baik yang kebaikannya akan segera luntur bila sedikit saja menerapkan keburukan kepada semesta dan tentu saja kepada manusia lainnya.

also posted at KOMPASIANA

     Banyak produk makanan menjadi hit, diperbicangkan orang dengan bermodalkan kepintaran memanfaatkan media sosial. Berawal dari dunia maya, berbagai produk makanan tersebut kemudian juga terkenal di offline. Bila Anda memiliki minat di bidang kuliner dan berkeinginan mengembangkan bisnis ini, Anda bisa mengikuti jejak mereka yang sudah berhasil. Berikut beberapa jurus sederhana yang akan membantu Anda menekuni bisnis makanan secara online.

     1. Hal utama yang harus dipikirkan adalah bagaimana makanan yang Anda tawarkan dapat terlihat menarik secara visual. Memang, menarik secara visual tak menjadi jaminan bahwa makanan tersebut memiliki cita rasa yang lezat. Tapi setidaknya tampilan yang menarik akan membuat orang merasa penasaran dan menggugah selera makan.

     2. Tentukan satu menu andalan dari produk makanan Anda. Buat semenarik mungkin untuk difoto, bila perlu tambahkan aksesori cantik di sekelilingnya. Intinya, tampilkan produk best seller dan produk terbaru Anda secara mencolok.

     3. Karena penjualan melalui online membuat calon konsumen tidak bisa mencicipinya, maka Anda perlu mencantumkan deskripsi detil setiap menu makanan. Mulai dari bahan dasar dan rasanya, sehingga pengunjung toko Anda bisa mengira-ngira rasanya. Selipkan juga kata-kata menggoda di dalamnya. Ini akan membuat siapa pun yang membacanya menikmati rasa makanan tersebut dan tak sabar untuk mencobanya. Agar lebih meyakinkan, cantumkan juga testimoni beberapa konsumen yang telah mencicipinya. Bila belum punya pelanggan, teman-teman bisa dikerahkan untuk memberikan testimoni.

     4. Tak berbeda dengan bisnis online lainnya, manfaatkan media sosial yang sedang hits saat ini. Anda bisa membuka toko online dari blog gratis atau langsung membuat website khusus. Buat desain toko online Anda semenarik mungkin dan sesuai dengan image makanan yang dijual.

     5. Untuk memasarkannya, manfaatkan jejaring sosial lain seperti  Facebook dan Twitter. Upload foto-foto makanan, lalu tagging ke beberapa teman dan kerabat. Ingat tak semua orang senang dihujani dengan tagging foto berkali-kali. Usahakan melakukannya pada orang yang berbeda-beda. Anda bisa memulainya dari sahabat-sahabat dekat.

     6. Selain Facebook, Anda bisa manfaatkan Twitter. Buat akun Twitter khusus dengan nama toko online atau produk makanan Anda. Lakukan perkenalan dengan tweet-tweet tentang produk makanan tersebut, akan lebih seru jika Anda menyertakan twitpic foto makanannya. Belum ada follower? Mulailah dengan following orang lain lebih dulu. Dengan begitu mereka akan mulai melirik akun Twitter Anda. Selain itu, Anda juga bisa me-Re Tweet promo dari akun toko online Anda dari akun pribadi sehingga follower Anda akan membacanya. Ingin lebih cepat? Follow seleb tweet atau figur di bidang kuliner dan tawarkan tester produk pada mereka. Bila puas, mereka akan membahasnya di akun Twitter-nya.

     7. Meskipun calon konsumen tidak bisa mencicipi produk makanan lebih dahulu, Anda tetap harus mengedepankan kualitas rasa. Sebisa mungkin usahakan rasanya selezat penampilannya. Jangan sampai konsumen kecewa, karena rasa tak sesuai dengan yang ditawarkan. Hati-hati, komplain melalui jejaring sosial akan lebih cepat menyebar.

     8. Sama seperti bisnis offline, konsumen bisnis online pun ingin segera dilayani. Karena itu, selalu luangkan waktu untuk melayani pesanan mereka. Segera balas komentar atau pertanyaan yang diajukan. Ini akan membuat konsumen senang, karena tidak merasa sedang berhubungan dengan mesin komputer.

     9. Menggembangkan bisnis makanan online gampang-gampang susah. Walaupun sebagian besar bisnis makanan online berskala rumahan, ada baiknya Anda tetap menerapkan manajemen profesional yang berorientasi bisnis ini:

     * Telepon. Cantumkan nomor kontak di website, Facebook dan Twitter. Ini membuat calon konsumen percaya bahwa produk yang ditawarkan tidak fiktif. Pakailah nomor kontak khusus yang tak sulit dihubungi. Jika tidak bersedia ditelepon, Anda bisa mencantumkan: SMS only!
     * Situs. Jangan pernah menampilkan foto makanan dari situs lain yang bukan milik Anda. Jika perlu, sewa admin situs untuk membuat gerai virtual tetap menarik dengan konten yang selalu uptodate.
     * Delivery. Selain harus tepat waktu, makanan yang diterima juga sebaiknya berbentuk sama persis dengan tampilan di situs. Jika makanan tergolong jenis yang mudah hancur, Anda harus memikirkan packaging yang bisa menjaga makanan tetap utuh.
     * Pencitraan. Jika Anda berpromosi dengan jejaring sosial, buatlah akun baru yang terpisah dari akun pribadi.
sumber : kompas.com
foto : peoplemeetme.com

     Bagi Robert Kiyosaki untuk memenuhi hasratnya untuk menjadi lebih baik hati, langkah pertamanya adalah menemukan cara bagaimana bisa memberi lebih banyak kepada orang lebih banyak. Yaitu dengan menyediakan rumah lebih baik dengan harga lebih murah.
     Jadi, kalau kita ingin pensiun muda dan kaya boleh saja kita tamak selama kita selalu bekerja untuk memberikan lebih banyak kepada orang yang lebih banyak. Kalau anda melakukan hal tersebut maka Anda akan menemukan jalan Anda sendiri menuju kekayaan yang luar biasa dahsyat.
     Dalam bahasa saya pribadi yang dimaksud Robert Kiyosaki adalah orang yang mempunyai manfaat atau nilai tambah bagi orang banyak maka orang tersebut akan kaya raya. Contoh kenapa pemilik usaha lebih kaya daripada karyawannya? Karena karyawannya hanya membuat nilai tambah atau manfaat kepada satu orang yaitu atasannya.
     Sedangkan pemiliknya memberikan nilai tambah atau manfaat kepada misalnya 300 karyawannya dan 100.000 customernya. Hal ini juga dijabarkan Paul Zane Pilzer dalam bukunya “God Wants You to be Rich” yang membahas satu ayat di sebuah kitab suci yang menyatakan “Lebih mudah onta masuk lubang jarum dibanding orang kaya masuk ke Surga,” Dijelaskan oleh Paul Zane Pilzer bahwa seringkali ayat tersebut salah dimengerti.
     Yang dimaksud sebenarnya adalah orang kaya yang mempunyai kewajiban untuk menolong yang lain dan menolong orang yang miskin. Dan yang ditentang adalah orang yang kaya dengan cara merugikan orang lain. Nabi Ibrahim, Nabi Sulaiman, Nabi Ayub, serta Nabi Muhammad semua kaya karena mereka membuat nilai tambah atau manfaat untuk orang lain, selain tentu saja karena iman mereka yang kuat kepada Tuhan. Mereka bercocok tanam, membuat satu butir gandum menjadi ribuan, 2 ekor domba menjadi puluhan dan lain-lain.

Menurut saya ada dua hal dalam memberi lebih banyak :

Pertama, memberi nilai tambah, seperti yang dijelaskan diatas.

Kedua, Memberi Cuma-Cuma, dalam hal ini kita berbuat amal dan bermanfaat bagi lingkungan yang membutuhkan tanpa kita menerima imbalan materi secara langsung, seperti infaq, zakat dan sodaqoh.

     Memberi cuma-cuma inipun mendidik kita untuk merasa berlimpah yang pada akhirnya membuat kita terpacu untuk mendapatkan kekayaan. Dengan kita dekat kepada Tuhan, sumber segala berkat dan kelimpahan, maka kita akan banyak mendapatkan berkat dan kelimpahan.Sudahkah anda memberi zakat, infaq, sodaqoh ataupun nilai tambah yang pada akhirnya akan membuat anda berkelimpahan?
Tung Desem Waringin, detikfinance
foto : deviantart.com


Ajaibnya kesehatan setelah 'memberi'.

     Jauh lebih baik dan berbahagia memberi dari pada menerima, karena ada keajaiban dibalik "memberi". Suatu rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berjiwa besar.

Memberi itu menyehatkan.
     Dr. Allan Kuts mengadakan penelitian yang melibatkan 3.000 sukarelawan, mengambil kesimpulan : "memberi atau menolong orang lain dapat mengurangi rasa sakit, mengurangi rasa stres, meningkatkan endorfin dan meningkatkan kesehatan" 
     Prof. David Mc Clelland juga menambahkan : "melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain akan dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, sebaliknya orang kikir cenderung terserang penyakit"  Mengapa demikian ?  Karena orang kikir biasanya cinta uang, bila uangnya sedikit berkurang maka dia akan stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang akan mengurangi kekebalan tubuh.
Memberi dapat memperpanjang umur.
     James Hous dalam risetnya menyimpulkan : "menolong orang lain secara sukarela meningkatkan kebugaran tubuh dan angka harapan hidup". Rockeffeler adalah orang kaya yang tidak bahagia dan sulit tidur, dokter memvonis hidupnya tidak akan lama. Lalu Rockeffeler memutuskan mengubah filosofi hidupnya menjadi penolong kaum papa dan orang miskin. 
     Apa yang terjadi?  Kesehatannya membaik dan berlawanan dengan perkiraan dokter, ia hidup sampai umur 98 tahun, sebagai ahli filantropi dan darmawan yang terkenal..

Memberi mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa.
     Ketika kita mengulurkan tangan untuk menolong sesama dan berbagi dengan kehidupan mereka maka kita akan merasakan kebahagiaan yang mendalam.  Hidup jauh lebih berarti karena memberi. 
     Setiap orang yang suka memberi tidak pernah berkekurangan.  Dia akan meningkatkan kebahagiaan orang lain dan juga diri sendiri.  Karena itu, mulailah sekarang juga untuk berbagi kepada siapapun juga.  Berbagi tenaga, pikiran maupun ucapan yang positif. 
     Dengan demikian, kita menjadi salah satu sumber kebahagiaan untuk diri sendiri maupun lingkungan.

     Matahari pagi menjemput kapal kayu yang mengantarku bersama penumpang lainnya merapat di dermaga Desa Kedi, desa pesisir di salah satu bagian sisi Barat Pulau Halamahera. Semalaman berayun-ayun menikmati laut yang kebetulan teduh gelombangnya di antara Ternate dengan Kedi ini, membuatku begitu bersemangat untuk segera melanjutkan perjalanan begitu kaki ini menjejak bibir dermaga Kedi.
     Desa Linggua adalah tujuan berikut, desa di mana Klan Bobane bermukim, sekaligus sebagai base camp sebelum menjangkau tujuan yang utama, Pantai Bobela. Host kami, Bapak Alex Bobane sudah menyiapkan penjemput 'ojek motor' yang akan segera membawa kami, saya dan teman saya Andi Parenrengi, menuju rumah Kepala desa Linggua. Kepala Desa yang tidak lain adalah keponakan Pak Alex sendiri, yaitu Jony Bobane.
Pantai Bobela dengan ombak yang selalu bergelora hampir sepanjang waktu, membentang hanya sekitar satu kilometer di salah satu sisi Pulau Halmahera bagian Barat. Gerusan ombak yang terus menerus, cukup aktif untuk mengerosi sisi pulau di bagian ini. Dua tanjung kecil di masing-masing ujung pantai seakan membentuk gerbang untuk merapat ke pantai.

     Pagi berikutnya, seiring surya yang mulai memancarkan hangat di ufuk Timur, perahu bermotor tempel membawa rombongan kecil kami, meninggalkan Desa Linggua menuju Bobela. Tidak lama, dermaga Kedi terlampaui, dan di kejauhan sana nampak Tanjung Ruba-ruba. Ada keramaian menuju tanjung ini, para karyawan dari pabik pengalengan ikan yang terletak di tanjung ini, memenuhi speed boat yang mengangkut mereka.
     Laut pagi yang masih teduh, namun di hadapan tajung Ruba-ruba sana, gelombang sesekali sudah asyik bercengkerama. Sesekali buih putihnya saling menghempas buih lainnya. Pemandangan yang indah sekaligus menyelipkan rasa jerih melihat ukuran perahu yang kami tumpangi ini yang terasa begitu kecil untuk nantinya meniti buih-buih putih itu sebentar lagi.
     Betul saja, begitu perahu ini mendekati area tanjung Ruba-ruba, gelombang sudah terasa mulai mempermainkan kestabilan gerakan perahu. Namun wajah-wajah ceria para pengantar kami yang malah asyik bercanda sambil sesekali menepuk air laut yang hampir saja melompat melampaui bibir perahu, setidaknya bisa menenangkan. Dan tidak lama kemudian, tanjung ini telah terlampaui. Gelombang yang tadinya nampak sangar, sekarang lebih stabil untuk  perahu kecil ini.
 
Klan 'Bobane' yang menjadi 'host' selama kunjungan ke Kabupaten Jailolo, Halamahera Barat. Dari kiri, Amos, Hero, Alex Bobane, Irles dan Jony Bobane yang juga adalah Kepala Desa Linggua, desa yang terletak bersebelahan dengan Desa Kedi.
 
Tegangnya wajah Andi Parenrengi masih begitu terasa setelah menempuh laut dari Kedi ke pantai Bobela. Perahu motor yang mengantar rombongan kami terasa terlalu 'imut' untuk sekadar menyandarkan rasa aman, apalagi nyaman untuk menaklukkan gelora ombak Tanjung Tomadere yang berhadapan dengan pulau kecil Boko Darah.
 
     Tidak lama kamudian, tanjung berikutnya, Tanjung Tomadere sudah nampak di kejauhan. Tepat di depan tanjung itu, ada pulau kecil, Pulau Boko Darah yang artinya 'pembuangan darah'. Kombinasi tanjung yang menjorok keluar, membentuk selat kecil dengan ombak yang arahnya tidak jelas. Belum lagi arus laut yang melintasi selat ini terasa begitu kuatnya. Hempasan ombak yang membentur dinding batu di sepanjang tanjung itu, akan ditimpali gelombang balik dari pulau kecil di hadapannya. Dan nama Boko Darah menjadi semakin pas untuk area ini, karena kecelakaan tenggelamnya perahu yang melintasi selat ini sudah begitu sering terjadi. Bahkan dua dari penumpang yang ada bersama saya sekarang ini, sudah pernah merasakan perahunya ditenggelamkan oleh gelombang yang selalu bergolak itu.
     Melintasi area ini, tidak ada lagi wajah yang ceria. Perahu kecil ini terasa semakin kecil saja. Ombak yang besar dengan arah yang tidak jelas, sesekali menjulurkan lidahnya untuk menyapu hingga di atas perahu ini. Basah, jerih, was-was sambil menyendok air laut keluar perahu untuk menyisakan tempat pada sapuan bibir gelombang berikutnya.
Perahu bermotor tempel tunggal yang mengantar saya dan rombongan, menempuh satu setengah jam untuk menjangkau Pantai Bobela dari Desa Kedi ke arah Utara.

     Setelah menuntaskan tujuan utama saya sebagai geologist ke Pantai Bobela dan bukit-bukit di sekitarnya, tibalah saat meninggalkan base camp di Linggua, untuk kembali ke Ternate. Asrinya desa Linggua, ramahnya host keluarga Bobane, masih begitu melekat diingatan. Bagaimana hidangan ikan-ikan kecil yang sudah diasapi menjadi sup hangat pengantar istirahat di malam yang panjang. Atau bagaimana olahan mi goreng instan yang dimodifikasi menjadi begitu hangat sebagai penyambut kami ketika pulang mengarungi laut yang ombaknya memandikan seisi perahu. Belum lagi sajian kopi hitam manis yang luar biasa nikmat. Betul-betul keramah-tamahan yang tidak tertandingi.
     Untuk kembali ke Ternate, kami menempuh jalur lain. Dari dermaga Kedi, menumpang speed boat selama satu setengah jam, menuju kecamatan Ibu, masih di pesisir Pulau Halmahera. Dari kecamatan Ibu, melanjutkan perjalanan darat, dengan kendaraan plat hitam yang disewakan, menuju ibu kota Kabupaten Jailolo. Perjalaman darat itupun ditempuh sekitar satu setengah jam, untuk sampai di pelabuhan Jailolo, dimana begitu banyak jenis angkutan yang siap mengantarkan menyeberangi selat menuju Ternate. Hari itu, pilihan tertuju pada kapal kayu yang cukup besar, yang menempuh selat Jailolo ke Ternate dengan waktu yang juga relatif sama dengan dua etape terdahulu, satu setengah jam.
     Di ibu kota Jailolo ini sebenarnya, host kami Pak Alex sangat mengharapkan kami untuk bisa juga bermalam di sana, dimana beliau tinggal selama ini bersama keluarga dan anak-anaknya. Namun mengingat sudah begitu banyak keramahan yang telah diberikannya selama ini, sehingga menjadi berat hati rasanya sekaligus kuatir jangan sampai keramahan yang beliau dan keluarga berikan tidak dapat kami balas dengan lebih pantas dan lebih baik di waktu yang akan datang, seandainya beliau suatu waktu kembali berkunjung ke Makassar
     Dibandingkan dengan rute pertama Ternate langsung ke Kedi yang ditempuh sepanjang malam, maka rute kembali ini lebih variatif dengan waktu tempuh yang relatif lebih singkat, tentu saja juga dengan konsekwensi biaya yang leibh besar.
       Perjalanan yang terasa terlalu singkat sehingga menyisakan kerinduan untuk bisa kembali menjelajah setiap jengkal pesisir Halmahera yang eksotis.

                                    senja menjemput merah resah
                                    camar cakar-cakar langit bias
                                    terlalu lemah untuk sekadar satu
                                    gurat siluet cakrawala cinta
                                    di ujung kaki langit
                                    semakin merah

                      di dermaga itu cinta
                      air mata telah pupus
                      siluet camar-camar terlalu lemah
                      kaki langit merah duka
                      redup diam
                      menuju malam

                                                  mencumbu bibir senja
                                                  siluet itu
                                                  semakin pudar
                                                  lalu malam menerkam
                                                  hampa

                              hampa yang tersisa di malam
                              hanya gelap
                              untuk setiap detik selanjutnya
                              akankah menuju pagi
                              atau hanya istilah kata-kata
                              di rupa hampa yang lain

                                                                   cakrawala
                                                                           kaki langit
                                                                                  fatamorgana
                                                                                           jauh..
Photography by Jon Nazca - Reuters

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.