Setelah memendam hasrat mendaki gunung sekian lama, dalam rangka menyelesaikan proses perkuliahanku, maka hari itu 19 Desember 1992 tepat sehari setelah merampungkan ujian akhir dan prosesi yudisium, saya dan rombongan kecil anak Geology Unhas berangkat menuju Bawakaraeng.
Gunung yang selalu bersahaja itu menjadi tujuan untuk jiwa-jiwa yang juga selalu ikhlas dalam kebersahajaan. Tidak banyak persiapan yang dilakukan, malah semuanya cenderung tergesa-gesa. Bukan apa-apa, rencana ke gunung inipun saya cetuskan hanya dua hari sebelumnya.
Dan begitulah, mereka-mereka yang terbiasa kepepet oleh tantangan yang tiba-tiba itu, menyertai langkah-langkah rinduku menapaki Bawakaraeng. Terimakasih adik-adikku, sekali lagi di kesempatan ini, kusampaikan untuk waktu yang kalian luangkan bersamaku di saat itu. Sungguh, meski rentang waktu kehadiran saya di Geology bisa dikatakan terpaut cukup jauh dengan kalian, namun kalian sama sekali tidak perlu merasa risih ataupun segan untuk bercanda, bergurau di sepanjang perjalan itu.
Ingin rasanya, di suatu hari nanti, bila kalian tidak terlalu sibuk, kita bisa sekadar mengulang kenangan ini, meskipun tidak sampai menjejak puncak Bawakaraeng, namun sekadar menikmati dingin bumi Lembanna tidaklah menjadi angan yang terlalu berlebihan. Where ever you are, adik-adikku, kalian telah mengguratkan satu episode indah di alur kenangan indah yang kulalui.
Satu hal yang pasti, di perjalanan waktu itu ada banyak cerita yang tidak sempat mampir dalam jangkauan indera saya yang terbatas. Dengan senang hati, saya menunggu baris-baris komentar sebagai tambahan cerita kalian yang mewarnai kenangan ini.
Setelah bertukar beberapa info dengan kakak Chong, saya lalu janjian dengan beliau untuk bertemu di BX-6 kediaman Pak Budi. Lama tidak berjumpa, apalagi dengan Pak Budi yang akhir-akhir ini kesehatannya sering terganggu. Ada sedikit rasa kuatir yang terbersit, yang lebih pas sebagai rasa bersalah mengapa baru sekarang ini tergerak menjumpai beliau di kediamannya. Tetapi ah, aku pikir itu tidak penting-penting amat. Bertemu dengan orang-orang yang telah menjadi bagian mozaik kenangan perjalanan hidup saya, jauh lebih penting dari semuanya.
Sekitar setengah delapan malam, 12 agustus 2012 saya tiba lebih dahulu. Sendiri, bertemu dengan Pak Budi yang sudah beberapa tahun ini tidak berjumpa. Beruntung karena saya masih sendiri, maka meluncurlah begitu banyak kata dengan gaya khas bertutur Pak Budi. Ada begitu banyak haru di dalam mendengarkan penuturan beliau, bercampur dengan rasa kagum akan daya tahan beliau menghadapi semua masalah yang mengitarinya. Sambil di dalam hati saya menyampaikan doa sambung menyambung semoga Tuhan berkenan memberikan kesehatan yang jauh lebih baik dibandingkan yang saya saksikan ini.
Setengah jam saya mengangguk-angguk menyimak segala sesuatu yang diceritakan Pak Budi, terutama mengenai kondisi kesehatannya, ketika kakanda Chong dan kakanda Jamal Cross muncul. Segera BX-6 menjadi riuh. Apalagi kak Yaya juga muncul dari dalam. Mungkin terusik oleh kebisingan yang tiba-tiba hadir menimpali gemericik air yang mencebur ke tengah kolam di taman belakang.
Banyak kenangan-kenangan semasa kuliah kak Chong yang meluncur beruntun dari bibirnya. Rasa geli tidak bisa saya tahan sehingga kadang-kadang tawa saya meledak menimpali kisahnya yang bertubi-tubi. Bagaimana Pak Budi membanting map yang berisi hasil kerja tugas yang dikerjakan oleh kak Chong, masa-masa karantina di cenderawasih, bercampur dengan dengan kejadian-kejadian hangat yang belum lama berselang. Tidak ada alur yang jelas, yang penting ramai dan meriah.
Terakhir muncullah kak Agustinus Tupenalay. Riuhnya semakin heboh. Namun ada pemakluman di benak kami yang lain, karena sebelumnya kak Yaya sudah menginformasikan kalau kak Agus itu kadang 'korslet-korslet'. Mungkin ada beberapa sarafnya yang menggeser dari posisinya. Meski begitu, kadang juga kak Agus mengalami gejala pengidap 'indigo', dari celotehnya yang kelihatan ngawur itu kadang merefleksikan kondisi yang akan terjadi di beberapa waktu ke depan.
Itulah kenapa ketika kak Agus nyerocos mengatakan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan yang ada di ruangan ini belum ada yang meninggal, seakan menjadi semacam 'strum' yang menyengat semangat yang mendengarnya. Apalagi kak Chong yang sudah memelihara berbagai macam penyakit kronis, kontan begitu berbinar matanya mendengar kengawuran itu. Semangat yang sama juga tergambar dari senyum lebar Pak Budi di sebelahku. Di dalam hati saya meng-amin-kan saja, semoga itu benar terjadi sehingga kehangatan yang tercipta malam ini masih bisa untuk selalu diulangi di tahun-tahun mendatang.
Selamat menuntaskan ibadah puasa tahun ini saudara-saudaraku, semoga di Idul Fitri nanti kita termasuk orang-orang yang menang. Melalui tulisan singkat ini saya dengan segala kerendahan hati menyampaikan maaf lahir batin untuk semua khilaf yang telah ada. Semoga hangatnya silaturahmi itu bisa terus, dan terus terulang.
depan duduk: Hero, Agustinus, Budi Rohmanto, Rohaya dan Jamal cross.
belakang berdiri: baju putih adalah Chong. lainnya anak geology tahap akhir yang sedang ngumpul di BX-6.
Pemuda itu meletakkan kayu bakar yang terikat rapi dari pundaknya. Peluhnya membasahi tubuh dan meleleh di lekuk-lekuk wajahnya yang polos. Di sebelahnya seorang lelaki tua juga baru saja meletakkan beban kayu dari punggungnya. Mereka adalah ayah dan anak yang baru keluar hutan mengumpulkan kayu bakar untuk kebutuhan sehari-hari.
Sambil beristirahat di bawah rimbunnya pohon, si anak bertanya mengapa tadi ayahnya kembali melarang ia untuk mengambil potongan-potongan kayu yang bersandar di pohon besar yang mereka lalui di hutan tadi. Rupanya si anak sudah begitu penasaran, karena bukan sekali itu saja ayahnya melarang melakukan hal itu. Dan hari ini rasa ingin tahu itu sudah tidak tertahan lagi.
Dengan senyum karena menahan geli, si ayah menjelaskan.
"Nak, kayu yang tersandar di pohon tadi itu, juga yang kemarin-kemarin kita lihat di pohon yang lainnya, sudah dimiliki oleh orang lain, hanya saja mereka belum sempat untuk membawanya keluar hutan." tutur sang ayah dengan lembut.
"Tapi kita kan bisa mengambilnya tanpa diketahui oleh orang yang menurut ayah sudah memilikinya" sanggah si anak dengan semangat.
"Nah di situlah tata krama kita sebagai warga masyarakat sekitar hutan ini. Kita akan menghormati orang yang telah bersusah payah mengumpulkan dan merapikan kayu-kayu tersebut lalu menegakkannya di batang pohon, meski kita tidak pernah bertemu dengan siapa orangnya. Penghormatan kita adalah dengan tidak mengganggu apalagi mengambilnya. Hal yang sama akan dilakukan oleh orang lain bila kita melakukan hal yang sama, meninggalkan kayu yang telah tersusun rapi di batang pohon. Begitulah pesan yang diwariskan kakekmu kepadaku, dan sekarang ini aku wariskan pula kepadamu".
Penjelasan sang ayah yang panjang lebar itu rupanya belum cukup untuk menuntaskan ganjalan-ganjalan yang ada di benak si anak. Hal itu tergambar jelas di wajahnya yang masih kusut.
"Tetapi ayah, saya pernah bertemu dengan orang kota yang sudah bersekolah sangat tinggi, menjelaskan hal ihwal tentang kepemilikan sesuatu barang. Ada bukti-bukti yang tertera di atas kertas yang menjadi jaminannya.. Nah dengan penjelasan ayah tadi itu, saya menjadi bingung untuk bisa mengerti. Apakah ayah juga pernah sekolah labih tinggi dan lebih pandai dibanding orang yang kutemui itu?."
Sang ayah hanya tersenyum kecil, menyandarkan punggung lebih santai ke belakang, lalu melanjutkan penjelasannya.
Sekarang cobalah bayangkan apa yang saya gambarkan ini.
Bila Engkau memaksakan diri untuk mengambil kayu-kayu yang sudah ditegakkan itu, maka Engkau dipastikan akan menghadapi tiga kemungkinan. Pertama adalah, bila orang yang memiliki kayu itu ternyata mempunyai kemampuan lebih dari dirimu, maka Engkau bisa saja digilasnya. Tindakanmu akan dianggapnya sebagai upaya untuk menghinanya sehingga ia akan menghancurkanmu dengan segala daya yang dipunyainya.
Kedua, bila ternyata pemiliknya mempunyai kemampuan yang setara denganmu, maka kemungkinan kalian akan saling berhadap-hadapan untuk mempertahankan eksistensi atas keberdayaan kalian. Bila Engkau kalah, maka akan ada luka di hatimu sebagai penanda atas kekalahanmu. Di pihak seterumu akan membanggakan pencapaiannya sekaligus meneguhkan doninasinya atas dirimu.
Kemungkinan ketiga adalah bila pemiliknya mempunyai kemampuan lebih rendah darimu. Kemungkinannya ia akan menerima kondisi yang terjadi dengan 'tidak ikhlas'. Pemaksaan menerima keseweng-wenangan yang Engkau lakukan akan menjadi bibit dendam yang bisa saja membesar di suatu hari nanti. Hubungan yang harmonis diantara sesama penghuni sekitar hutan ini menjadi tidak seimbang, menjadi kehilangan rasa harga menghargai diantara sesamanya.
Nah, dari ketiga kemungkinan itu, tidak satupun yang menjadi pilihan pantas untukmu, juga untuk penghuni-penghuni lainnya. Tetap konsisten dalam menghormati semua tatanan nilai yang telah dibangun di dalam konunitas kita adalah sesuatu yang mutlak, sehingga kita bisa mengembangkan kemuliaan-kemuliaan lainnya di dalam peradaban kita. Dan ingatlah baik-baik, semuanya itu tidak dituliskan di atas kertas seperti yang dibangga-banggakan oleh orang pintar yeng sudah engkau temui itu.
Tidak ada dokumen ataupun akte yang menjadi bukti otentik tentang kepemilikan kayu itu. Kalaupun engkau memaksa untuk mencarinya maka engkau tidak tidak akan menemukannya. Dan engkau akan memenangkan perdebatan atas alasan 'tulis menulis' itu.
Semuanya hanyalah pewarisan nilai yang disampaikan turun temurun seperti yang aku lakukan kepadamu sekarang ini. Tulisan-tulisan di kertas itu hanyalah bahan untuk 'si tukang silat lidah' untuk terlihat hebat dalam membela paham 'opurtunis' yang dianutnya. Paham yang hanya menguntungkan diri sendiri atau kelompok kecilnya yang didorong kuat oleh nafsu egoisme. Semua dikembangkan atas nama logika yang dikembangkan atas kelemahan-kelemahan dan kekurangan huruf-huruf yang ada di atas kertas. Sementara nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi utamanya tidak bisa dimasukkan menjadi parameter, karena sama sekali tidak tertulis di atas kertas.
Pahami semua nilai yang ada ini. Bila engkau merasa nilai-nilai yang berlaku di sini tidak sesuai dengan jalan pikiranmu, maka berbesar hatilah untuk menghormati nilai yang telah dianut sejak lama itu. Jangan engkau recoki apalagi sampai meninggalkan jejak buram di lintasan sejarahnya. Toh engkau yang masih muda, bisa mencari 'hutan' yang lain, untuk mengembangkan komunitasmu sendiri yang sesuai dengan apa yang engkau pikirkan. Engkau bisa mengembangkan nilai-nilai yang engkau anggap baik, di dalam komunitas barumu itu.
Hari menjelang senja, semilir bayu yang lembut mengantarkan langkah mereka pulang.
Begitu banyak ragam kegiatan yang diselenggarakan menyambut sepertempat abad Fakultas Teknik Unhas, salah satunya adalah mengadakan pendakian ke Gunung Bawakaraeng di 2 Mei tahun 1985. Sekitar seratus tiga puluh orang mahasiswa Teknik, berbaur meriuhkan bumi Lembanna pada waktu itu. Tentu saja, sebahagian besarnya adalah 'anak kuliahan' yang sekadar pingin coba-coba naik gunung.
Tidak ada persiapan yang spesifik, semuanya hanya berdasarkan naluri saja. Apalagi puncak Bawakaraeng meskipun menjadi target utama untuk digapai, namun nuansa 'yang penting rame-rame' jauh lebih terasa pas. Kesempatan yang langka untuk bisa berbaur dan menjadi semakin akrab dengan mahasiswa (baca : mahasiswi-mahasiswi) jurusan-jurusan lainnya.
Untunglah kami-kami dari jurusan Geology sudah terbiasa melakukan kegiatan ke alam bebas sebagai bagian dari proses perkuliahan. Itulah mengapa, hampir semua anak Geology bisa mencapai puncak Bawakaraeng. Meski demikian, ada juga yang tidak sempat sampai ke puncak, karena itu tadi, lebih fokus ke 'rame-rame'nya saja di Lembanna. Tapi ada juga yang tidak sampai ke puncak karena 'kesasar' entah sampai di mana, kemudian kembali ke Lembanna tetap dalam keadaan ceria. Tanya kenapa? mungkin sudah latto' dengan odo'-odo' nya..
Ini juga adalah pendakian pertama saya ke Gunung Bawakaraeng. Di waktu itu, belum banyak orang apalagi mahasiswa yang menjangkau ke sana, sehingga pendakian yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Unhas ini sedikit banyaknya kemudian menjadi inspirasi mahasiswa-mahasiswa lainnya di Unhas untuk turut mengeksplorasi kemampuan diri dalam berkegiatan di alam bebas.
Sebahagian
kecil anak Teknik yang mencapai puncak Bawakaraeng. Peserta dibagi
menjadi kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama dan
bertanggung jawab di dalam kelompok masing-masing.
Hero bersama Sulaeman Kamaruddin, Geo-82.
Sekitar pukul 10 pagi tiba di puncak, seniorku Buramin asyik menikmati 'kuaci' yang menjadi bekal andalannya. Uchen buru-buru lompat biar tercover kamera, Latif senyum-senyum girang di samping Modesta.
Matahari pagi di pos 7 sebelum puncak Bawakaraeng.
Senyum Nadira begitu indah. di latar belakang ada adiknya Nadira, Madesta, dan aduh maaf, lainnya saya lupa namanya.. :)Lokasi ini ada di antara pos 8 dan 9, yang sering disebut sebagai 'teteang tujua' sudah begitu berkabut ketika perjalanan pulang menjelang sore. Tempat ini sudah tidak ada sekarang, terbawa longsor yang heboh beberapa waktu lalu.
Dengan rendah hati saya minta maaf, tidak mampu untuk menyebut nama-nama yang ada di dalam gambar yang tercover di kegiatan ini. Untuk itu dengan senang hati saya menunggu tambahan komentar brader-brader dan sista-sista sekalian, tentu saja di kolom komentar di bawah, untuk melengkapi kenangan pendakian ke Gunung Bawakaraeng yang memeriahkan rangkaian kegiatan seperempat abad Fakultas Teknik Unhas.
Ini ceritaku, menunggu cerita kalian sambil membayangkan tikuz-tikuz muda menapak tilas jalur yang kami tempuh dulu itu. Bila kalian berkenan, seandainya nanti hendak kembali menjangkau puncak Bawakaraeng, maka biarkanlah lutut yang telah renta dan bekarat ini turut meramaikan perjalanan kalian.
Bravo Teknik. I know we are always 'the champion'.
Hujan dan kabut bulan Februari 1990 ini begitu setia mengiringi langkah kami untuk menemukan puncak Gunung Kambuna. Sudah sekitar 2 jam mencoba setiap arah yang memungkinkan, namun tidak memberikan hasil. Akhirnya tim memuutuskan untuk kembali ke bivak tempat berteduh semalam.
Bivak yang letaknya di 'pos 8'. Pos-pos itu adalah penanda yang baru dipasang oleh tim Korpala sepanjang perjalanan ini. Tujuannya sederhana saja, pertama sebagai penanda rute yang ditempuh oleh tim yang terdiri dari empat putri dan empat putra, sekaligus sebagai jejak awal perintisan jalur tracking menuju puncak Kambuna.
Pos sembilan sudah disematkan di tempat terakhir siang tadi, sebelum memutuskan kembali ke pos 8 ini. Sedangkan rambu untuk pos 10 masih ikut terbawa, yang rencananya untuk diletakkan di puncak nanti. Namun apa yang terjadi hari ini di luar rencana. Cadangan logistik hanya tersisa untuk satu hari perjalanan kembali menuju kaki gunung di Desa Padang Raya.
Keputusan selanjutnya, tim akan kembali mencari puncak Kambuna keesokan harinya.
Cuaca menuju puncak ternyata tidak seperti kemarin. Begitu cerah. Tidak sampai dua jam dari pos 8, puncak Kambuna ditemukan. Masih ada sisa-sisa tugu triangulasi, yang dulunya dibongkar oleh penduduk karena dikira ada harta karun di bawahnya.
Satu-satunya alat komunikasi yang dimiliki waktu itu adalah radio Handy Talky 2 meter band. Teriak sana, teriak sini, hanya suara sayup-sayup yang termonitor, yang juga tidak jelas apakah menjawab teriakan dari puncak Kambuna, ataukah mereka hanya sekadar teriak-teriak dengan rekan mojoknya.
Berfoto ria tentu saja menjadi satu-satunya hiburan, yang bahkan benar-benar membuat lupa sesaat bagaimana terseok-seoknya tim selama satu minggu berjalan dari Sa'bang menuju desa Padang Raya di kaki Kambuna ini. Tentu saja juga membuat lupa sesaat bahwa cadangan logistik terakhir akan segera habis di saat tengah hari nanti.
Dalam perjalanan pulang, dari rencana semula tim bisa bermalam di pos dua, namun mengingat sudah tidak ada makanan sama sekali, kembali diputuskan tim melanjutkan berjalan di malam hari tanpa beristirahat, agar bisa secepatnya mencapai base camp di Padang Raya.
Menjelang pukul 12 tengah malam, tim sudah tiba di tepi sungai Lodang. Kondisi sungai tidak sama dengan beberapa hari yang lalu, yang airnya hanya setengah betis, tapi malam ini airnya sudah setinggi dada. Hujan beberapa hari ini membuat debit airnya bertambah.
Percobaan menyeberangi sungai ternyata gagal, bahkan hampir menghanyutkan salah seorang anggota tim yang menjadi leader 'penyeberangan basah' malam itu. Sekitar setengah dua dini hari, tim memutuskan untuk memutari bukit yang lebih ke hulu sungai agar bisa mendapatkan bagian sungai yang lebih dangkal.
Phiphi, Hero, Nona, Ammy, Wida, Hilda, Adi dan Welly
Sambil terkantuk-kantuk dan juga begitu lapar, menjelang pukul 3 dinihari tim sampai di sebuah gubuk ladang. Diputuskan beristirahat di tempat itu, apalagi di dalam gubuk ada tungku dengan beberapa potong kayu kering. Dan aha.. di sekitar gubuk itu adalah ladang jagung dengan buah yang sudah ranum menjelang dipanen.
Diskusipun terjadi, apakah mengambil jagung untuk mengganjal perut yang sudah begitu lapar.? Kesimpulannya adalah 'tidak'!! Tim masih kuat untuk bertahan hingga pagi, kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 3 jam lagi menuju basecamp, sehingga tidak perlu mengambil jagung-jagung itu. Terjadilah, malam itu tim menghangatkan badan dengan air yang berhasil didihkan dari tungku di dalam gubuk, ditambah beberapa sachet bumbu mi instan yang masih tersisa di dalam carrier.
Itulah kuah mi instan yang ternikmat yang pernah saya rasakan selama ini.
Hamparan dataran yang begitu luas, menjadi inspirasi untuk nama desa 'Padang Raya'. Di tahun 1991 itu, kami bahkan ditawari untuk tinggal di desa itu, membantu pertanian penduduk di sana. Lahan pertanian masih begitu luas sementara kemampuan penduduk hanya bisa menggarap sekitar sepertiganya saja. Dan bila kami berdelapan mau tinggal, tinggal tunjuk saja tanah sebelah mana yang hendak dipatok, seberapapun luas yang mampu untuk kami garap.
Dan alangkah konyolnya kejadian dinihari itu. Ketika sudah sampai di Desa dan menceritakan bahwa kami kelaparan namun tidak 'berani' mengambil jagung itu, oh.. kami menjadi bahan tertawaan orang desa. Mereka sama sekali tidak tahu, kalau kami selalu dibayangi mitos tentang kekuatan supra natural orang-orang menertawakan itu, salah satunya adalah bahwa akan mengalami gejala fisik yang aneh yang 'segera' akan terasa bila berani mengambil barang mereka tanpa izin.
Jamuan bubur jagung dengan kombinasi gurihnya ayam kampung yang mereka sajikan benar-benar mampu memulihkan kondisi yang sudah drop kemarin. Pesta kecil yang mereka sudah siapkan, tentu saja dengan begitu sukacita setelah melihat kami bisa kembali dengan selamat meski terlambat sehari dari jadwal. Keterlambatan yang sempat membuat mereka was-was menunggu.
Lampu badai, rantang di atas kompor parafin adalah perangkat jadul untuk ukuran sekarang ini. Belum lagi jas hujan kelelawar dipadu dengan sepatu kets yang mestinya lebih cocok untuk sekadar lari sore. Juga ada carrier dengan frame luar, yang ujungnya mencuat tinggi seperti sepasang antena dipadu dengan senter besar yang akan menghabiskan tenaga baterainya hanya dalam semalam.
Beberapa kerat daging rusa juga ikut meramaikan acara makan-makan itu. Empuk dan gurihnya, benar-benar jauh berbeda dengan daging anoa yang kami cicipi di perjalanan menuju puncak beberapa hari yang lalu. Daging anoa yang begitu alot, kenyal dan baunya itu.. benar-benar tidak terlupakan.
Sebagai cendera mata yang diberikan oleh salah seorang penduduk, saya mendapat potongan tengkorak dan tanduk anoa yang telah diawetkan dengan mengasapinya di atas perapian dalam waktu yang lama. Tengkorak yang masih tersimpan hingga sekarang.
Base camp selama di desa Padang Raya.
Rangkaian foto-foto lainnya saya rangkum dalam bentuk film sederhana dengan latar belakang lagu Iwan Fals berjudul 'Rinduku'. Rinduku yang selalu mengusik saat-saat sepi untuk bersama-sama kalian saudara-saudaraku, mengukir jejak langkah baru di puncak-puncak yang lain. Masih terlalu sedikit jejak yang telah kita tinggalkan bersama, untuk menggapai puncak-puncak yang masih begitu banyak.
Rinduku untuk kalian...
File videonya bisa di download di sini. Ukuran 5,8 Mb, format file: .wmv.
Jejak kecil yang ditinggalkan Korpala menuju Kambuna
di saat itu hanyalah seperti semilir yang berhembus setiap waktu di
lebat hutannya. Sama sekali tidak mengusik virginitas Kambuna dengan
ekosistimnya yang belum tersentuh keserakahan. Hanya ada tertinggal
sekadar penanda psikologis dari interaksi para pencinta alam itu.
ps : tambahan kisah dari kalian untuk memori yang tidak terangkum di tulisan ini,
saya tunggu untuk mengisi komentar di bawah. Terimakasih.. miss U all..
Untuk anda yang sering menggunakan kaki untuk perjalanan jauh menempuh medan yang lembab apalagi basah, sudah tahu dengan pasti bagaimana rasanya iritasi oleh kutu air. Nah untuk itulah, saya bermaksud berbagi resep yang cukup bagus untuk dioleskan di kaki, sebagai pencegahan maupun pengobatan untuk masalah kulit kaki dan kutu air.
Oh iya, judul tulisannya memang sengaja dibuat tidak nyambung dengan isi tulisan. Jadi sama sekali bukan membahas mana lebih hebat atau mana lebih ampuh antara minyak bawang dan minyak ular. Tetapi pembahasannya mengenai bagaimana meramu bahan-bahan sederhana untuk mendapatkan ramuan yang ampuh meminimalisir iritasi kulit kaki. Saya katakan ampuh, karena setidaknya ramuan-ramuan tersebut telah saya gunakan cukup lama dengan hasil yang bagus untuk membantu kulit kaki saya tetap sehat selama ini.
Membuat Minyak Bawang.
Siapkan minyak kelapa 100 ml. Usahakan minyak dari kelapa yang biasa, bukan minyak dari kelapa sawit. Minyak kelapa yang ada banyak di pasaran saat ini adalah minyak kepala sawit. Nah, untuk membuat minyak dari kelapa juga cukup mudah, parut kelapa yang sudah cukup tua, peras santannya, lalu panaskan dalam wadah panci atau wajan di atas kompor yang tidak terlalu panas, jerang santan hingga menjadi minyak.
Selanjutnya 100 gram bawang putih, kupas lalu diparut sampai halus.
Panaskan minyak kelapa di dalam wadah panci atau wajan, masukkan bawang putih yang sudah diparut tadi, biarkan dengan api yang tidak terlalu panas hingga bawang putih matang dan tidak hangus. Setelah matang, campurkan 'sejempol' (sekitar 5 gram) belerang yang terlebih dahulu ditumbuk menjadi bubuk. Belerang bisa dibeli di apotik.
Lanjutkan pemanasan hingga belerang larut di dalam minyak dan bawang tadi. Setelah larut, tunggu hingga hangat, masukkan ke dalam botol kaca, dan siap untuk dibawa beraktifitas di lapangan.
Penggunaan :
Oleskan merata ke seluruh kaki, biarkan meresap hingga agak kering, sebelum menggunakan kaos kaki. Larutan lemak dan bawang akan berfungsi seperti film yang melapisi kulit, sementara belerang berfungsi untuk mematikan jamur dan bakteri yang menjadi biang membusuknya kulit di kaki.
Minyak Ular
Membuat minyak ular sebenarnya juga tidak terlalu sulit, siapkan minyak kelapa 100 ml, lemak ular 40 gram, dua umbi (sekitar 40 gram) Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) - diparut hingga halus.
Panaskan minyak kelapa, campurkan semua bahan hingga matang. Setelah dingin, siap dibotolkan untuk digunakan di lapangan.
Penggunaan :
Untuk mengobati luka lecet, luka teriris dan lain-lain. Bila hanya untuk pemakaian luar, bisa dicampurkan dengan belerang 5 gram, seperti waktu membuat minyak bawang. Namun untuk penggunaan di bagian yang memungkinkan tertelan atau berselaput yang sensitif, sebaiknya yang tanpa belerang.
Di waktu malam saat beristirahat setelah perjalanan sepanjang hari, gunakan minyak ular yang mengandung belerang untuk dioleskan merata ke seluruh kaki. Larutan lemak ular untuk mengobati iritasi dan luka-luka yang terjadi, sementara belerang tetap untuk mematikan bakteri dan jamur-jamur yang turut serta di kaki.