Begitu banyak ragam kegiatan yang diselenggarakan menyambut sepertempat abad Fakultas Teknik Unhas, salah satunya adalah mengadakan pendakian ke Gunung Bawakaraeng di 2 Mei tahun 1985. Sekitar seratus tiga puluh orang mahasiswa Teknik, berbaur meriuhkan bumi Lembanna pada waktu itu. Tentu saja, sebahagian besarnya adalah 'anak kuliahan' yang sekadar pingin coba-coba naik gunung.
     Tidak ada persiapan yang spesifik, semuanya hanya berdasarkan naluri saja. Apalagi puncak Bawakaraeng meskipun menjadi target utama untuk digapai, namun nuansa 'yang penting rame-rame' jauh lebih terasa pas. Kesempatan yang langka untuk bisa berbaur dan menjadi semakin akrab dengan mahasiswa (baca : mahasiswi-mahasiswi) jurusan-jurusan lainnya.
     Untunglah kami-kami dari jurusan Geology sudah terbiasa melakukan kegiatan ke alam bebas sebagai bagian dari proses perkuliahan. Itulah mengapa, hampir semua anak Geology bisa mencapai puncak Bawakaraeng. Meski demikian, ada juga yang tidak sempat sampai ke puncak, karena itu tadi, lebih fokus ke 'rame-rame'nya saja di Lembanna. Tapi ada juga yang tidak sampai ke puncak karena 'kesasar' entah sampai di mana, kemudian kembali ke Lembanna tetap dalam keadaan ceria. Tanya kenapa?  mungkin sudah latto' dengan odo'-odo' nya..
     Ini juga adalah pendakian pertama saya ke Gunung Bawakaraeng. Di waktu itu, belum banyak orang apalagi mahasiswa yang menjangkau ke sana, sehingga pendakian yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Unhas ini sedikit banyaknya kemudian menjadi inspirasi mahasiswa-mahasiswa lainnya di Unhas untuk turut mengeksplorasi kemampuan diri dalam berkegiatan di alam bebas.
Sebahagian kecil anak Teknik yang mencapai puncak Bawakaraeng. Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama dan bertanggung jawab di dalam kelompok masing-masing.
Hero bersama Sulaeman Kamaruddin, Geo-82.
 Sekitar pukul 10 pagi tiba di puncak, seniorku Buramin asyik menikmati 'kuaci' yang menjadi bekal andalannya. Uchen buru-buru lompat biar tercover kamera, Latif senyum-senyum girang di samping Modesta.

 Matahari pagi di pos 7 sebelum puncak Bawakaraeng.

Senyum Nadira begitu indah. di latar belakang ada adiknya Nadira, Madesta, dan aduh maaf, lainnya saya lupa namanya.. :)  Lokasi ini ada di antara pos 8 dan 9, yang sering disebut sebagai 'teteang tujua' sudah begitu berkabut ketika perjalanan pulang menjelang sore. Tempat ini sudah tidak ada sekarang, terbawa longsor yang heboh beberapa waktu lalu.

     Dengan rendah hati saya minta maaf, tidak mampu untuk menyebut nama-nama yang ada di dalam gambar yang tercover di kegiatan ini. Untuk itu dengan senang hati saya menunggu tambahan komentar brader-brader dan sista-sista sekalian, tentu saja di kolom komentar di bawah, untuk melengkapi kenangan pendakian ke Gunung Bawakaraeng yang memeriahkan rangkaian kegiatan seperempat abad Fakultas Teknik Unhas.
     Ini ceritaku, menunggu cerita kalian sambil membayangkan tikuz-tikuz muda menapak tilas jalur yang kami tempuh dulu itu. Bila kalian berkenan, seandainya nanti hendak kembali menjangkau puncak Bawakaraeng, maka biarkanlah lutut yang telah renta dan bekarat ini turut meramaikan perjalanan kalian.
     Bravo Teknik. I know we are always 'the champion'.

     Hujan dan kabut bulan Februari 1990 ini begitu setia mengiringi langkah kami untuk menemukan puncak Gunung Kambuna. Sudah sekitar 2 jam mencoba setiap arah yang memungkinkan, namun tidak memberikan hasil. Akhirnya tim memuutuskan untuk kembali ke bivak tempat berteduh semalam.
     Bivak yang letaknya di 'pos 8'. Pos-pos itu adalah penanda yang baru dipasang oleh tim Korpala sepanjang perjalanan ini. Tujuannya sederhana saja, pertama sebagai penanda rute yang ditempuh oleh tim yang terdiri dari empat putri dan empat putra, sekaligus sebagai jejak awal perintisan jalur tracking menuju puncak Kambuna.
     Pos sembilan sudah disematkan di tempat terakhir siang tadi, sebelum memutuskan kembali ke pos 8 ini. Sedangkan rambu untuk pos 10 masih ikut terbawa, yang rencananya untuk diletakkan di puncak nanti. Namun apa yang terjadi hari ini di luar rencana. Cadangan logistik hanya tersisa untuk satu hari perjalanan kembali menuju kaki gunung di Desa Padang Raya.
     Keputusan selanjutnya, tim akan kembali mencari puncak Kambuna keesokan harinya.
      Cuaca menuju puncak ternyata tidak seperti kemarin. Begitu cerah. Tidak sampai dua jam dari pos 8, puncak Kambuna ditemukan. Masih ada sisa-sisa tugu triangulasi, yang dulunya dibongkar oleh penduduk karena dikira ada harta karun di bawahnya.
      Satu-satunya alat komunikasi yang dimiliki waktu itu adalah radio Handy Talky 2 meter band. Teriak sana, teriak sini, hanya suara sayup-sayup yang termonitor, yang juga tidak jelas apakah menjawab teriakan dari puncak Kambuna, ataukah mereka hanya sekadar teriak-teriak dengan rekan mojoknya.
      Berfoto ria tentu saja menjadi satu-satunya hiburan, yang bahkan benar-benar membuat lupa sesaat bagaimana terseok-seoknya tim selama satu minggu berjalan dari Sa'bang menuju desa Padang Raya di kaki Kambuna ini. Tentu saja juga membuat lupa sesaat bahwa cadangan logistik terakhir akan segera habis di saat tengah hari nanti.
      Dalam perjalanan pulang, dari rencana semula tim bisa bermalam di pos dua, namun mengingat sudah tidak ada makanan sama sekali, kembali diputuskan tim melanjutkan berjalan di malam hari tanpa beristirahat, agar bisa secepatnya mencapai base camp di Padang Raya.
      Menjelang pukul 12 tengah malam, tim sudah tiba di tepi sungai Lodang. Kondisi sungai tidak sama dengan beberapa hari yang lalu, yang airnya hanya setengah betis, tapi malam ini airnya sudah setinggi dada. Hujan beberapa hari ini membuat debit airnya bertambah.
      Percobaan menyeberangi sungai ternyata gagal, bahkan hampir menghanyutkan salah seorang anggota tim yang menjadi leader 'penyeberangan basah' malam itu. Sekitar setengah dua dini hari, tim memutuskan untuk memutari bukit yang lebih ke hulu sungai agar bisa mendapatkan bagian sungai yang lebih dangkal.
Phiphi, Hero, Nona, Ammy, Wida, Hilda, Adi dan Welly

      Sambil terkantuk-kantuk dan juga begitu lapar, menjelang pukul 3 dinihari tim sampai di sebuah gubuk ladang. Diputuskan beristirahat di tempat itu, apalagi di dalam gubuk ada tungku dengan beberapa potong kayu kering. Dan aha.. di sekitar gubuk itu adalah ladang jagung dengan buah yang sudah ranum menjelang dipanen.
      Diskusipun terjadi, apakah mengambil jagung untuk mengganjal perut yang sudah begitu lapar.? Kesimpulannya adalah 'tidak'!! Tim masih kuat untuk bertahan hingga pagi, kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 3 jam lagi menuju basecamp, sehingga tidak perlu mengambil jagung-jagung itu. Terjadilah, malam itu tim menghangatkan badan dengan air yang berhasil didihkan dari tungku di dalam gubuk, ditambah beberapa sachet bumbu mi instan yang masih tersisa di dalam carrier.
      Itulah kuah mi instan yang ternikmat yang pernah saya rasakan selama ini.
Hamparan dataran yang begitu luas, menjadi inspirasi untuk nama desa 'Padang Raya'. Di tahun 1991 itu, kami bahkan ditawari untuk tinggal di desa itu, membantu pertanian penduduk di sana. Lahan pertanian masih begitu luas sementara kemampuan penduduk hanya bisa menggarap sekitar sepertiganya saja. Dan bila kami berdelapan mau tinggal, tinggal tunjuk saja tanah sebelah mana yang hendak dipatok, seberapapun luas yang mampu untuk kami garap.

     Dan alangkah konyolnya kejadian dinihari itu. Ketika sudah sampai di Desa dan menceritakan bahwa kami kelaparan namun tidak 'berani' mengambil jagung itu, oh.. kami menjadi bahan tertawaan orang desa. Mereka sama sekali tidak tahu, kalau kami selalu dibayangi mitos tentang kekuatan supra natural orang-orang menertawakan itu, salah satunya adalah bahwa akan mengalami gejala fisik yang aneh yang 'segera' akan terasa bila berani mengambil barang mereka tanpa izin.
     Jamuan bubur jagung dengan kombinasi gurihnya ayam kampung yang mereka sajikan benar-benar mampu memulihkan kondisi yang sudah drop kemarin. Pesta kecil yang mereka sudah siapkan, tentu saja dengan begitu sukacita setelah melihat kami bisa kembali dengan selamat meski terlambat sehari dari jadwal. Keterlambatan yang sempat membuat mereka was-was menunggu.
Lampu badai, rantang di atas kompor parafin adalah perangkat jadul untuk ukuran sekarang ini. Belum lagi jas hujan kelelawar dipadu dengan sepatu kets yang mestinya lebih cocok untuk sekadar lari sore. Juga ada carrier dengan frame luar, yang ujungnya mencuat tinggi seperti sepasang antena dipadu dengan senter besar yang akan menghabiskan tenaga baterainya hanya dalam semalam.

     Beberapa kerat daging rusa juga ikut meramaikan acara makan-makan itu. Empuk dan gurihnya, benar-benar jauh berbeda dengan daging anoa yang kami cicipi di perjalanan menuju puncak beberapa hari yang lalu. Daging anoa yang begitu alot, kenyal dan baunya itu.. benar-benar tidak terlupakan.
     Sebagai cendera mata yang diberikan oleh salah seorang penduduk, saya mendapat potongan tengkorak dan tanduk anoa yang telah diawetkan dengan mengasapinya di atas perapian dalam waktu yang lama. Tengkorak yang masih tersimpan hingga sekarang.
Base camp selama di desa Padang Raya.

     Rangkaian foto-foto lainnya saya rangkum dalam bentuk film sederhana dengan latar belakang lagu Iwan Fals berjudul 'Rinduku'. Rinduku yang selalu mengusik saat-saat sepi untuk bersama-sama kalian saudara-saudaraku, mengukir jejak langkah baru di puncak-puncak yang lain. Masih terlalu sedikit jejak yang telah kita tinggalkan bersama, untuk menggapai puncak-puncak yang masih begitu banyak.
     Rinduku untuk kalian...
File videonya bisa di download di sini. Ukuran 5,8 Mb, format file: .wmv.

     Jejak kecil yang ditinggalkan Korpala menuju Kambuna di saat itu hanyalah seperti semilir yang berhembus setiap waktu di lebat hutannya. Sama sekali tidak mengusik virginitas Kambuna dengan ekosistimnya yang belum tersentuh keserakahan. Hanya ada tertinggal sekadar penanda psikologis dari  interaksi para pencinta alam itu.

ps : tambahan kisah dari kalian untuk memori yang tidak terangkum di tulisan ini,
saya tunggu untuk mengisi komentar di bawah. Terimakasih.. miss U all..

     Untuk anda yang sering menggunakan kaki untuk perjalanan jauh menempuh medan yang lembab apalagi basah, sudah tahu dengan pasti bagaimana rasanya iritasi oleh kutu air. Nah untuk itulah, saya bermaksud berbagi resep yang cukup bagus untuk dioleskan di kaki, sebagai pencegahan maupun pengobatan untuk masalah kulit kaki dan kutu air.
     Oh iya, judul tulisannya memang sengaja dibuat tidak nyambung dengan isi tulisan. Jadi sama sekali bukan membahas mana lebih hebat atau mana lebih ampuh antara minyak bawang dan minyak ular. Tetapi pembahasannya mengenai bagaimana meramu bahan-bahan sederhana untuk mendapatkan ramuan yang ampuh meminimalisir iritasi kulit kaki. Saya katakan ampuh, karena setidaknya ramuan-ramuan tersebut telah saya gunakan cukup lama dengan hasil yang bagus untuk membantu kulit kaki saya tetap sehat selama ini.

Membuat Minyak Bawang.
     Siapkan minyak kelapa 100 ml. Usahakan minyak dari kelapa yang biasa, bukan minyak dari kelapa sawit. Minyak kelapa yang ada banyak di pasaran saat ini adalah minyak kepala sawit. Nah, untuk membuat minyak dari kelapa juga cukup mudah, parut kelapa yang sudah cukup tua, peras santannya, lalu panaskan dalam wadah panci atau wajan di atas kompor yang tidak terlalu panas, jerang santan hingga menjadi minyak.
     Selanjutnya 100 gram bawang putih, kupas lalu diparut sampai halus.
     Panaskan minyak kelapa di dalam wadah panci atau wajan, masukkan bawang putih yang sudah diparut tadi, biarkan dengan api yang tidak terlalu panas hingga bawang putih matang dan tidak hangus. Setelah matang, campurkan 'sejempol' (sekitar 5 gram) belerang yang terlebih dahulu ditumbuk menjadi bubuk. Belerang bisa dibeli di apotik.
     Lanjutkan pemanasan hingga belerang larut di dalam minyak dan bawang tadi. Setelah larut, tunggu hingga hangat, masukkan ke dalam botol kaca, dan siap untuk dibawa beraktifitas di lapangan.

Penggunaan :
      Oleskan merata ke seluruh kaki, biarkan meresap hingga agak kering, sebelum menggunakan kaos kaki. Larutan lemak dan bawang akan berfungsi seperti film yang melapisi kulit, sementara belerang berfungsi untuk mematikan jamur dan bakteri yang menjadi biang membusuknya kulit di kaki.


Minyak Ular
     Membuat minyak ular sebenarnya juga tidak terlalu sulit, siapkan minyak kelapa 100 ml, lemak ular 40 gram, dua umbi (sekitar 40 gram) Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) - diparut hingga halus.
     Panaskan minyak kelapa, campurkan semua bahan hingga matang. Setelah dingin, siap dibotolkan untuk digunakan di lapangan.

Penggunaan :
     Untuk mengobati luka lecet, luka teriris dan lain-lain. Bila hanya untuk pemakaian luar, bisa dicampurkan dengan belerang 5 gram, seperti waktu membuat minyak bawang. Namun untuk penggunaan di bagian yang memungkinkan tertelan atau berselaput yang sensitif, sebaiknya yang tanpa belerang.
     Di waktu malam saat beristirahat setelah perjalanan sepanjang hari, gunakan minyak ular yang mengandung belerang untuk dioleskan merata ke seluruh kaki. Larutan lemak ular untuk mengobati iritasi dan luka-luka yang terjadi, sementara belerang tetap untuk mematikan bakteri dan jamur-jamur yang turut serta di kaki.

     bawang putih dan temu hitam
     Selamat berjalan kaki. :)

     Saya melangkah dengan sedikit terseok untuk kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak di tepi sawah. Matahari sedikit lagi terbenam sementara tujuan saya masih sekitar tiga kilometer dari tempat sekarang. Dengan perlahan ransel yang berat saya letakkan di samping lalu saya gunakan sebagai sandaran sambil meluruskan kaki yang penat.
      Tidak lama berselang seseorang menghampiri saya. Dengan keramahan khas penduduk desa, dia menyapa. Kami ngobrol kesana kemari, juga menanyakan mengapa saya hanya sendiri dengan beban yang kelihatan berat. Rupanya si Bapak ini sudah mengamati saya sejak tadi. Dengan singkat saya jelaskan bahwa saya sedang merampungkan tugas mengumpulkan sampel batu dari daerah sekitar ini. Saya tunjukkan bukit di depan, Bulu' Paria dimana tadi menjadi tujuan saya dan mendapatkan sampel-sampel batuan yang ada di dalam ransel. Bulu Paria yang mengerucut khas bentuk gunung api, tepat di depan Gunung Bulusaraung bila dipandang dari arah Leang-leang.
      Benar, saya sedang di daerah Leang-leang. Si Bapak masih dengan ramah ngobrol dan bercerita apa saja. Apa lagi ketika saya menunjuk ke Bulu Paria yang mana telunjuk saya sekligus menunjuk Bulusaraung di belakangnya, beliau menjadi semakin bersemangat. Satu kalimat yang begitu terkesan, ketika beliau berkata '..itu Bulusaraung..lihat mi.. itu mi gunung paling tinggi di dunia..coba lihat keliling, tidak ada mi yang lebih tinggi..'
      Begitu polos, begitu tulus tanpa keangkuhan sedikitpun, begitu sederhana dan yakin dengan apa yang diucapkannya. Saya hanya mengangguk-angguk mendengarkan. Penggalan percakapan itu yang kemudian selalu tersimpan di dalam ingatan saya, untuk selalu mengusik keingintahuan saya sehingga si Bapak bisa berkesimpulan demikian.
      Kami berpisah setelah saling bersalaman, si Bapak melangkah menjauh, sayapun melanjutkan langkah ke tujuan semula. Banyak tanya dan jawab yang silih berganti selama bertahun-tahun melintasi benak saya. Juga tak kalah banyaknya wawasan yang terlontar, ketika cerita ini saya sampaikan di kala senda gurau. Namun saya juga yakin masih banyak wawasan lainnya yang belum sempat terlontar untuk dicerna bersama. Wawasan yang terpendam bersama senyap di dalam tafakur.
      Adakah jawab yang lain.?
artikel saya ini
sudah pernah diterbitkan di buletin lembanna online
edisi Januari 2011 dalam label contour
tulisan didedikasikan untuk my great brother Yani Abidin
mengenang saat-saat latihan bersama menggunakan peta kompas
di daerah Leang-Leang dan sekitarnya

     Dua puluh tujuh orang anggota Korpala, di April 1986 menandai penjajakan pertama Korpala Unhas di Gunung Lompobattang. Perjalanan yang tidak terlalu mulus, tim yang meninggalkan kampus di sore hari, harus rela mendarat di Malakaji menjelang tengah malam. Karena tujuan masih jauh, rombongan melangkah perlahan, bergerak mendekati Lembang Bu'ne.
     Menjelang subuh, keberuntungan menghampiri, ada truk yang bersedia membawa rombongan sebagai penumpang tambahan diantara komoditi yang sudah memenuhi bak truk. Dan begitulah, menjelang pagi, kami tiba di Lembang Bu'ne dengan begitu lelah dan ngantuk.
 ada Afras, Bahtiar Baso, Akbar, Hero, Bob Lubis, Abang dan Wahyuddin. Tahulah mengapa ada gitar yang selalu mengikuti kegiatan.. banyak brader yang begitu lahir langsung bisa 'nyanyi'..
 
     Dalam cuaca yang berkabut disertai gerimis yang setia menyelimuti Lembang Bu'ne, rombongan mendekati pos pertama sekitar pukul 08.30 pagi. Keadaan cuaca stabil seperti itu, sepanjang waktu. Hingga sekitar pukul 17.30, barulah sebahagian besar peserta bisa mencapai ceruk di pos 9.
     Puncaknya sebelah mana? Itu, di sebelah itu.. ada telunjuk mengarah ke atas, menunjuk kabut yang berbaur gerimis. Saya memandang ke arah telunjuk itu mengarah, namun sama sekali tidak terlihat apa-apa, selain putih yang kelabu. Ada diskusi singkat, apakah akan melanjutkan menjangkau puncak Lompobattang, sementara sebentar lagi hari menjadi gelap. 
     Sesaat diam, sepertinya beberapa sedang sibuk berdialog dengan diri sendiri. Lalu, dengan beberapa anggukan kecil, seperti sedang mengirit kata-kata, hanya tatapan yang mewakili tekad untuk melanjutkan langkah. Tentu saja karena kondisi daya tahan yang tidak sama dalam menghadapi hujan sepanjang jalan tadi, sehingga tidak semuanya memutuskan untuk melanjutkan menuju puncak.
     Saya sempat mengamati jam di pergelangan tangan, sebelum melangkah. Lima belas menit lagi pukul enam sore. Sekali lagi saya menatap ke arah telunjuk tadi mengarah, berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan tujuan di dalam pandangan mata, namun tetap tidak ada yang terlihat.
 
 melintasi tangga batu ini di saat itu terasa begitu mencekam. Gerimis yang tidak kunjung reda, lalu kabut yang begitu tebal betul-betul membatasi pandangan mata. Ada sensasi yang lahir oleh fantasi manakala menikmati kondisi seakan melayang di atas seonggok batu, yang mengapung di hamparan tanpa dasar..
Jemmy, Iwan dan Indra, kapan kita bisa ke tempat ini lagi.?
 dari rombongan yang berjumlah 27 orang, sayang sekali tidak semuanya sempat menjejak hingga ke puncak Lompobattang. Hanya sembilan orang pada saat itu, diantaranya Indra Diannanjaya, Wahyuddin, Iwan Amran, Riri, Jemmy Abidjulu, Nevy Tonggiroh, Bahtiar Baso, Hero Fitrianto dan Yani Abidin.
 beruntung ketika rombongan kecil Korpala tiba di puncak, di sana juga ada rombongan lain yang sudah tiba beberapa saat sebelumnya. Mereka adalah teman-temannya Riri.. tentu saja ramai.. apalagi untuk foto-foto.

     Hanya lima belas menit di puncak, semuanya bergegas turun dan tiba kembali di pos 9 ketika gelap sudah hampir sempurna. Hanya tersisa sedikit bias cahaya di langit yang baru saja beranjak malam. Dan inilah.. penerangan hanya mengandalkan dua atau tiga lampu badai ditambah beberapa senter, yang juga hanya dua atau tiga buah saja.. senter jadul 'cap kepala singa' dengan baterai besar, panjang dan berat.
     Dalam serba keterbatasan pencahayaan, rombongan bergerak perlahan, hingga di mata air sekitar pos 3, sudah sekitar pukul 2 pagi. Rombongan berhenti di tempat ini untuk beristirahat. Menggigil dan tentu saja lapar, begitu terasa. Api yang cukup besar berhasil menyala, dan inilah.. bekal berupa 'nasi' dalam bungkusan plastik dikeluarkan. Sudah begitu dingin, membeku dan keras.
     As'adi begitu cekatan menyiapkan rantang aluminium untuk difungsikan sebagai panci, dan merebus kembali nasi yang sudah membeku itu. Luar bisa sekali, tanpa lauk sama sekali, nasi yang kembali mendidih di dalam panci itu ludes seketika tanpa mengangkat panci dari api. Hanya jari-jari dingin bergantian keluar masuk panci berburu dengan rasa lambung yang sudah begitu kosong.
 
nampang untuk foto dulu, sebelum meninggalkan Lembang Bu'ne
     Tidak semua peserta sempat teringat oleh saya, namun beberapa masih begitu segar di dalam ingatan.. ada As'adi, Allu, Phiphi, Novandi Arisoni, Buyung, Hukman dan ah.. lain-lainnya sudah tidak teringat lagi namanya...
     Dengan rendah hati saya menunggu komentar kalian, saudara-saudaraku, melengkapi cerita jalan-jalan pertama kita yang begitu bersahaja menuju Lompobattang, sehingga kembali memperkaya dan menyegarkan ruang memori saya yang sudah compang camping.
     Miss U all brader..

     Tidak terlalu jelas di dalam ingatan saya, berapa jumlah anggota Korpala maupun simpatisan yang bersama-sama menjejakkan kaki di puncak Bulusaraung waktu itu. Begitu ramai rasanya, apalagi untuk mencapai Desa Tompo' Bulu' di kaki Bulusaraung, harus ditempuh dengan berjalan kaki seharian penuh.
     Rombongan hanya bisa diantar oleh bus milik Unhas sampai di Balocci. Beruntung karena cuaca di bulan September tahun 1985 itu begitu baik dan cerah, sehingga acara bermalam di Balocci berlangsung lancar. Pagi harinya rombongan baru bergerak menuju Tompo' Bulu' dalam kelompok-kelompok kecil yang dibentuk. Menjelang sore, barulah rombongan saya yang anggotanya sekitar 15 orang, sampai di Tompo' Bulu'. Kelompok ini juga yang kemudian tetap bersama-sama bahu-membahu menuju puncak, keesokan paginya.
di bagian depan ada Bahtiar Baso, Bob, Buyung, Kenanga dan Naya. 
di belakanga ada Hero, Afras, Ahmad Negarawan, Hukman, Magdalena dan Sulaeman Qamar. Beberapa lainnya tidak sempat melekat 'nama'nya di memoriku.. maafkan saya brader..

     Mencapai puncak Bulusaraung dari Desa Tompo' Bulu' terasa lebih singkat. Hanya sekitar 2 jam, hampir seluruh peserta sudah mencapai puncak. Jauh terasa lebih melelahkan ketika sepanjang hari kemarin melintasi setapak di kaki bukit dari Balocci ke Tompo' Bulu'.
 beberapa teman dari FK dan FKG turut serta di dalam kelompok saya. Sayang sekali nama-nama mereka tidak cukup lekat di dalam ingatan. Bila ada yang bisa membantu, dengan senang hati saya menunggu koreksinya di halaman komentar di bawah.

      Masih banyak juga teman-teman yang lain yang tidak sempat ter 'cover' dalam cakupan kamera. Katakan misalnya ada Iwan Sumantri ataupun As'adi Abdullah.. karena rombongan dibagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok kecil itulah, sementara jumlah kamera jadul tidak memadai untuk meliput seluruhnya. Meskipun demikian, tanggapan dan co'do'-co'do' kalian tetap saya nantikan dengan senang hati.. :)
      Butuh waktu 2 malam dan 3 hari untuk kembali pulang ke rumah. Kondisi yang tentu saja sudah sangat jauh berbeda dibandingkan sekarang. Saat ini, sarana jalan permanen sudah menjangkau hingga ke kaki gunung, memungkinkan menjangkau puncak Bulusaraung tanpa harus bermalam di lapangan.
     So, adakah yang mau reuni, napak tilas jalur di saat-saat pertama Korpala memancangkan kaki yang kemudian berdiri kokoh hingga saat ini?

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.