Begitu kuatnya bukti-bukti yang menyatakan manusia telah menyebabkan pemanasan global, tetapi jawaban dari pertanyaan tentang 'apa yang harus dilakukan' untuk hal itu masih begitu kontroversial. Faktor ekonomi, sosial dan politik menjadi faktor-faktor yang sangat penting di dalam merencanakan masa depan manusia.
      Bila secara ekstrim hari ini kita berhenti total memancarkan gas rumah kaca, maka Bumi masih tetap akan menjadi semakin hangat. Namun demikian, apa yang kita lakukan hari ini akan membuat suatu perbedaan yang nyata di masa depan. Itu semua tergantung pada pilihan kita. Para ilmuwan memperkirakan bahwa bumi akan bertambah hangat sedikitnya 1,5 derajat hingga 5,5 derajat Cercius.
      Secara umum kita mestinya mempunyai satu tujuan yang sama, bagaimana menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca pada kisaran 450 - 550 ppm (part permillion) atau kira-kira setara dua kali lipat bila dibandingkan konsentrasi gas rumah kaca pada masa pra-industri. Ini adalah titik yang dipercaya sebagai posisi yang memungkinkan menghindari dampak paling merusak terhadap bumi oleh perubahan iklim.
      Konsentrasi saat ini sudah berada di ambang 380 ppm. Dengan semakin pesatnya kegiatan industri saat ini, maka tidak lama lagi level 450 - 550 ppm akan segera tercapai. Menurut rekomendasi IPCC, kita harus segera mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50 - 80 persen, untuk bisa berada di jalur yang tepat menuju abad mendatang dengan level konsentrasi gas rumah kaca sebesar 450 - 550 ppm.
Pertanyaannya kemudian adalah, apakah ini mungkin dilakukan?
      Banyak orang, komunitas dan pemerintah telah berusaha begitu keras untuk memangkas produksi gas rumah kaca, sehingga setiap kita bisa turut berpartisipasi membantu proses tersebut.
      Stephen Pacala dan Robert Socolow peneliti dari Universitas Princeton menyarankan suatu pendekatan yang mereka namakan 'stabilization wedges'. Mekanismenya adalah, mengurangi emisi rumah kaca secara merata dari setiap sumber yang ada dengan menerapkan apapun teknologi yang telah tersedia selama beberapa dekade ke depan. Bukan hanya mengandalkan perubahan yang besar dan radikal pada suatu lokasi tertentu saja. Mereka menyarankan pembatasan-pembatasan yang bisa mereduksi setiap sumber emisi gas rumah kaca. Bila kesemuanya bisa menjaga stabilitas emisinya pada level sekarang hingga 50 tahun ke depan, maka kita telah berada pada jalur potensil untuk stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di kisaran 500 ppm.
      Ada begitu banyak kemungkinan pembatasan emisi yang bisa dilakukan, misalnya pada perbaikan efisiensi penggunaan bahan bakar untuk kendaraan (sehingga kita bisa mengurangi produksi bahan bakar utamanya yang berasal dari fosil). Meningkatkan pemanfaatan energi angin dan tenaga surya, menggunakan hidrogen dari sumber yang terbarukan, memanfaatkan biofuel dari tanaman, gas alam dan tenaga nuklir, merupakan alternatif yang bisa dikembangkan. Ada juga cara lain berupa potensi menangkap karbon dioksida hasil pembakaran bahan bakar fosil untuk disimpan di bawah tanah dalam suatu proses yang dinamakan 'penyerapan karbon'.
      Tumbuhan dan pohon-pohon menyerap CO2 dalam proses pertumbuhannya, yang langsung mengeksekusi secara alami karbon yang ada bersama polusi. Itu artinya, meningkatkan kuantitas dan kualitas lahan hutan serta memperbaiki cara kita bercocok tanam akan meningkatkan secara signifikan jumlah karbon yang terserap oleh tumbuhan tadi.
      Beberapa teknik yang telah disarankan mungkin tidak sempurna dan masih mengalami banyak kendala. Begitu juga dengan masyarakat yang berbeda akan menghasilkan keputusan yang berbeda tentang bagaimana memberdayakan hidup mereka. Meskipun demikian, masih banyak cara dan teknik yang tersedia dan akan segera dilahirkan di waktu mendatang sebagai pilihan dalam menjalani kehidupan, sehingga kita bisa berada pada jalur yang tepat menuju kondisi iklim yang stabil.
photograph by Paul Nicklen
baca juga :
referensi : National Geographic

     Sepenggal kisah yang meluncur dari bibir BJ Habibie, di hari-hari senja perjalanan hidupnya. Bagaimana satu bagian episode 'grand design' negeri kita Indonesia, digambarkan dengan bahasa hati yang begitu mengharukan, sekaligus membuat geram. Beliau adalah salah satu  anak bangsa yang ikut berpacu dalam episode sejarah, yang kemudian di hari ini merangkum duka lara dari jejak yang ditinggalkannya.
     Menyimak peristiwa yang digambarkan berikut ini setidaknya bisa menjadi cerminan kita di dalam mengevaluasi karakter diri di dalam berbangsa di negeri tercinta ini. Atau paling sederhananya, turut merasakan haru yang tergambar di dalam kisah berikut ini, bisa mengindikasikan bahwa jiwa nasionalisme kita masih ada tersisa meski sudah samar.
Selanjutnya, mari kita simak peristiwa berikut.
     Kejadiannya bermula di suatu hari di bulan Januari awal tahun 2012 ini, mantan Presiden RI, BJ Habibie dengan rombongan kecilnya, mengunjungi kantor manajemen Garuda Indonesia, di Garuda City Complex Bandara Soekarno Hatta. Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para Vice Presiden serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.
     Salah satu jamuan di dalam kunjungan beliau ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.
     Beliau menyimak dengan baik sajian video yang ditayangkan tersebut. Sebagai “balasan” suguhan video tadi, pak Habibie pun meminta untuk memutar rekaman video yang dia bawa sendiri. Rupanya video itu tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu).
     Video N250 bernama Gatotkaca terlihat meluncur kemudian tinggal landas secara mulus diiringi oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.
     Dalam video tersebut, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedharmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara. Terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengarkan pembicaraan dengan pilot N250 itu.
     Tidak lama kemudian, N250 sang Gatotkaca kembali ke pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan.

     Setelah menyaksikan bersama video tadi, bapak BJ Habibie yang berusia 74 tahun masih nampak begitu bersemangat, memulai kalimatnya dengan gaya yang begitu akrab.
     “Dik, anda tahu, ..saya ini lulus SMA tahun 1954” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas menyebut semua hadirin dengan kata “Dik”. Kemudian secara lancar beliau melanjutkan.
     “Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur, Indonesia dengan kondisi geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI.
     Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek.
     Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu. Beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya yang lain adalah IPTN.
     Sekarang Dik, Anda semua lihat sendiri. N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’ berlebihan). Teknologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun ke depan. Diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal.
     Satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu. Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri, ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’
     Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.  Dik tahu.. di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.
     Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa terusir dari negeri sendiri. Mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya di pabrik-pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa.
     Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua.?
     Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.
     Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

     Pak Habibie menghela nafas.
     Salah seorang hadirin adalah Capten Novianto Herupratomo berkisah tentang saat-saat yang diceritakan oleh Habibie tadi.
     “Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). 
     Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Saat itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. 
     Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). 
     Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini. 
     Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama. N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu, bahkan hingga kini. 
     Berbagai macam pikiran dan mimpi berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250 tadi. Saya pun memiliki kekecewaan yang sama seperti yang beliau gambarkan. Seandainya N2130 benar-benar lahir, kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.”

     Pak Habibie kemudian melanjutkan pembicaraannya.
     “Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body. Waktu itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang. Kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.
     “Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD.
     Q itu Quality, Dik. Anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten. C itu Cost, Dik. Tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis. D itu Delivery. Biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu! Itu saja!”
Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD tersebut sebagai berikut:
     “Kalau saya umpamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik. Organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik..”

Pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu, kemudian melanjutkan.
     “Dik, saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI. Itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ..ibu Ainun istri saya.
     Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya, saya mau kasih informasi. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu..”
     Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam. Seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie.

     Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu). Ia melanjutkan pembicaraannya.

     “Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun.. dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.
     Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat.. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya Adri,  maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air, hingga kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia” 
     Seluruh hadirin terhenyak, tercenung dan beberapa lainnya tak kuasa lagi membendung air mata.
sumber : http://brosurkilat.com via Kaskus

     Planet bumi kita sedang menghangat, mulai dari kutub Utara hingga di kutub Selatan. Secara global, suhu meningkat rata-rata 0,8 derajat Celcius, bahkan peningkatan yang lebih besar justru terjadi di daerah kutub.
     Dampak dari meningkatnya suhu tersebut juga sementara berlangsung, bukan menunggu beberapa tahun atau puluh tahun ke depan. Benar-benar sedang terjadi saat ini. Tanda-tanda sebagai indikasinya terjadi di seluruh wilayah bumi, bahkan beberapa diantaranya memperlihatkan fenomena yang begitu mengejutkan.
     Panas tidak hanya mencairkan gletser dan es laut, tetapi juga telah menimbulkan pergeseran pola hujan dan juga pola migrasi dan pergerakan hewan.
    
Beberapa dampak peningkatan suhu yang sementara berlangsung :
  1. Mencairnya es di seluruh bagian dunia, terutama di daerah kutub. Gletser di gunung mencair, lapisan es yang menutupi Antartika Barat hingga ke Greenland, termasuk es di laut Arktik.
  2. Peneliti - Bill Fraser sudah menjejak penyusutan populasi Penguin Adelide di Antartika, yang mana jumlah mereka telah berkurang dari 30.000 menjadi 11.000 saja selama kurun waktu 30 tahun terakhir.
  3. Kenaikan permukaan laut menjadi sangat cepat di abad terakhir ini.
  4. Beberapa spesies kupu-kupu, juga rubah telah bergerak lebih jauh ke Utara atau ke tempat yang lebih tinggi untuk mendapatkan suhu yang lebih sejuk.
  5. Curah hujan rata-rata (baik hujan air maupun salju) telah meningkat di seluruh wilayah bumi.
  6. Satu spesies kumbang kulit kayu di Alaska telah berkembang begitu pesat selama musim panas 20 tahun terakhir ini. Serangga tersebut telah menghabiskan hingga 4 juta hektar pohon cemara.

Dampak yang mungkin akan terjadi di waktu mendatang, bila pemanasan global terus berlanjut adalah:
  1. Permukaan laut diperkirakan akan meningkat antara 19 hingga 59 cm di akhir abad ini. Pencairan es di daerah kutub yang terus berlanjut akan menambah kenaikan muka laut sekitar 1 - 20 cm.
  2. Angin topan dan badai lainnya cenderung menjadi lebih kuat.
  3. Terjadi disharmonisasi antara spesies yang saling tergantung satu dengan lainnya. Sebagai contoh, tanaman bisa mekar lebih cepat, sementara serangga yang yang berfungsi untuk melakukan penyerbukan belum aktif.
  4. BAnjir dan kekeringan akan menjadi semakin lumrah. Curah hujan di Ethiopia yang terkenal terbiasa dengan kekeringan, akan turun 10 persen dalam 50 tahun ke depan.
  5. Berkurangnya air segar yang layak untuk digunakan. Jika 'topi es' Quelccaya di Peru terus mencair seperti sekarang ini, di tahun 2100 nanti, akan menyengsarakan puluhan ribu orang yang kesulitan mendapatkan air bersih dan listrik.
  6. Beberapa penyakit menular akan menyebar lebih luas, seperti malaria.
  7. Ekosistim akan berubah, beberapa spesies akan bergerak lebih jauh ke Utara. Beberapa diantaranya akan berhasil sementara lainnya kemungkinan akan punah. Martyn Obbart ilmuwan yang meneliti margasatwa telah menemukan bahwa sejak pertengahan tahun 1980-an, dengan sedikitnya area es dan ikan untuk makanan, beruang kutub ternyata menjadi semakin kurus. Biolog beruang kutub lainnya, Ian Stirling, menemukan pola yang sama di Teluk Hudson. Ia kuatir, jika es laut nantinya menghilang maka beruang kutub turut serta menghilang juga.
Photograph by Ilya Naymushin/Reuters/Corbis
Lihat link berikut untuk mengetahui
Apa Penyebab Global Warming.
Sumber untuk informasi iklim, IPPC 2007
National Geographic.

     Di setiap budaya mengembangkan pengertian tentang uang di dalam kearifannya. Setelah melalui perjalanan waktu yang panjang, kearifan-kearifan itu kemudian mengkristal membentuk baris-baris kalimat sebagai pepatah dan peribahasa. Nah, menyimak kalimat-kalimat sarat makna itu, yang di dalam artikel ini khusus tentang uang, mungkin bisa membantu kita menafsirkan bagaimana kedudukan 'uang' di dalam suatu budaya yang sudah terbentuk.

      Biar tidak terlalu panjang lebar pengantarnya, mari langsung menyimak sebahagian kecil peribahasa dari berbagai bangsa besar di dunia. Oh iya, anda bisa menambahkan peribahasa atau pepatah yang Anda ketahui namun tidak sempat terangkum dalam tulisan ini, di bagian komentar di bawah. Juga jangan ragu-ragu untuk sekadar berbagi penafsiran sekiranya ada peribahasa yang menggelitik di dalam citarasa Anda.

* Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang. - Film Indonesia

     Ungkapan ini mencerminkan realitas sosial di mana seseorang dihargai atau dihormati bukan karena kepribadiannya, melainkan karena kekayaannya. Dalam konteks sosial tertentu, materi sering kali menjadi tolok ukur utama dalam menilai nilai seseorang. Ketika seseorang memiliki uang, ia mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan penghormatan dari orang lain. Namun, ketika kekayaan itu hilang, ia mungkin ditinggalkan, diabaikan, atau bahkan diperlakukan dengan buruk. Ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat yang materialistis, hubungan antarindividu dapat menjadi transaksional dan dangkal, bergantung pada keuntungan materi

* Ketika uang berbicara, kebenaran akan diam. - Rusia

     Mengekspresikan pandangan sinis tentang kekuatan korupsi yang dibawa oleh uang. Dalam budaya Rusia, ada pemahaman bahwa uang memiliki kemampuan untuk memutarbalikkan kebenaran dan menutupi fakta-fakta yang seharusnya diungkapkan. Ketika uang berbicara, artinya ketika uang digunakan untuk mempengaruhi atau menyuap, kebenaran dan keadilan sering kali dikorbankan. Ungkapan ini mengkritik bagaimana uang bisa membelokkan moralitas dan membuat orang-orang yang seharusnya jujur dan adil menjadi bisu atau tidak berdaya di hadapan kekuatan finansial.
 

* Ucapan bodoh dari orang kaya akan menjadi ucapan yang bijaksana. - Spanyol

     Ungkapan ini menyoroti bagaimana kekayaan dapat mempengaruhi persepsi orang terhadap ucapan atau tindakan seseorang. Dalam budaya Spanyol, ada pemahaman bahwa kata-kata atau tindakan seseorang yang kaya sering kali dianggap lebih berharga atau bijaksana, bahkan jika sebenarnya tidak demikian. Kekayaan dapat memberikan status dan otoritas yang membuat orang lain cenderung mendengarkan dan menghormati, meskipun isi dari ucapan tersebut mungkin tidak memiliki kebijaksanaan sejati. Ungkapan ini mengkritik kecenderungan masyarakat untuk memuja kekayaan dan menganggap orang kaya sebagai lebih pintar atau lebih berpengaruh hanya karena mereka memiliki uang, meskipun kualitas sebenarnya dari apa yang mereka katakan mungkin tidak bernilai.

* Dia yang meminjam maka dia akan mengalami penderitaan. - Turki

     Ungkapan ini menyoroti konsekuensi dari berhutang, yang sering kali membawa penderitaan bagi yang meminjam. Dalam budaya Turki, seperti di banyak tempat lain, berhutang bisa menimbulkan tekanan psikologis dan emosional yang besar. Orang yang berhutang mungkin merasa terikat, kehilangan kebebasan, dan bahkan menjadi sasaran tekanan atau penganiayaan jika mereka tidak mampu membayar kembali. Ungkapan ini mengingatkan bahwa berhutang bukanlah hal yang sepele dan dapat membawa penderitaan jangka panjang, baik secara material maupun mental.
 

* Orang yang menabung maka orang tersebut akan menjadi orang yang bebas.- Cina

     Mencerminkan nilai budaya Cina yang sangat menghargai kebijaksanaan dalam mengelola keuangan dan pentingnya tabungan. Menabung dianggap sebagai kunci untuk mencapai kebebasan finansial dan otonomi pribadi. Orang yang memiliki tabungan tidak hanya terlindungi dari kesulitan ekonomi yang tak terduga tetapi juga memiliki kebebasan untuk membuat pilihan hidup tanpa harus terikat oleh kebutuhan mendesak atau hutang. Dalam konteks ini, kebebasan yang dimaksud tidak hanya berarti kebebasan finansial tetapi juga kebebasan dalam menjalani hidup sesuai dengan keinginan pribadi, tanpa tekanan dari luar.

* Uang adalah uang, dari manapun itu berasal. - Perancis

Ungkapan ini mencerminkan sikap pragmatis terhadap uang dalam budaya Perancis. Sumber uang tidak selalu menjadi perhatian utama; yang penting adalah fungsi dan manfaat yang bisa diperoleh darinya. Dalam konteks ini, uang dianggap netral—baik atau buruknya tergantung pada bagaimana uang itu digunakan. Ini juga bisa mencerminkan kenyataan bahwa dalam situasi tertentu, orang cenderung mengabaikan asal-usul uang selama mereka bisa memenuhi kebutuhan atau keinginan mereka dengan uang tersebut. Ungkapan ini menekankan bahwa nilai uang tetap sama, terlepas dari bagaimana atau dari mana ia diperoleh.

* Ketika Anda miskin, tetangga tidak akan datang, setelah Anda menjadi kaya, Anda akan terkejut dengan kunjungan dari kerabat jauh. -Cina

     Ungkapan ini mencerminkan pandangan sinis tentang bagaimana kekayaan dapat mengubah dinamika sosial dan hubungan antarindividu. Dalam budaya Cina, ada kesadaran bahwa ketika seseorang berada dalam kesulitan finansial, mereka sering kali diabaikan atau dijauhi oleh orang-orang di sekitar mereka, termasuk tetangga dan kerabat. Namun, ketika mereka menjadi kaya, tiba-tiba banyak orang, termasuk kerabat jauh, akan muncul dan mendekati mereka. Ini mengungkapkan bahwa hubungan sering kali didasarkan pada kepentingan material dan bukan pada ikatan yang tulus atau rasa peduli yang sejati. Ungkapan ini mengkritik kecenderungan manusia untuk mendekati orang lain karena keuntungan yang bisa mereka peroleh, dan mengingatkan kita akan pentingnya mengidentifikasi hubungan yang tulus versus yang bersifat oportunistik.

* Banyak murid telah mendapatkan kekayaan lebih dari tuannya. - Yunani

      Ini merujuk pada konsep yang lebih mendalam tentang kesuksesan dan pembelajaran. Dalam budaya Yunani, pengetahuan dan kebijaksanaan dianggap sebagai harta yang paling berharga. Namun, ketika seorang murid melampaui gurunya, itu bisa berarti dia tidak hanya menguasai pelajaran yang diajarkan, tetapi juga mampu menerapkan dan memperluas pengetahuan tersebut dengan cara yang tidak terduga oleh gurunya. Ini menggambarkan proses alami dalam pendidikan dan kehidupan di mana murid atau generasi berikutnya diharapkan bisa melampaui para pendahulunya, baik dalam pengetahuan, kebijaksanaan, maupun pencapaian materi.
 

* Jika seseorang mempunyai seratus dolar dan menghasilkan satu juta dolar, maka hal tersebut sangat luar biasa; Tetapi jika seseorang mempunyai seratus juta dolar dan menghasilkan satu juta dolar, maka hal tersebut tidak bisa terhindarkan. - Amerika

     Mengilustrasikan pemahaman tentang investasi dan ekspektasi dalam konteks kapitalisme Amerika. Ketika seseorang memulai dengan jumlah yang kecil dan mampu mengembangkan kekayaannya hingga mencapai jumlah yang jauh lebih besar, itu dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa, menunjukkan kemampuan dan kecerdikan dalam memanfaatkan peluang. Namun, ketika seseorang yang sudah sangat kaya hanya menghasilkan keuntungan yang relatif kecil dibandingkan dengan modalnya, hal itu dipandang sebagai sesuatu yang biasa atau bahkan mengecewakan. Ungkapan ini mengkritisi bagaimana nilai pencapaian diukur secara berbeda berdasarkan titik awal dan modal yang dimiliki, serta menunjukkan betapa pentingnya konteks dalam menilai kesuksesan finansial. 

* Misers (orang kikir) mengumpulkan kekayaan bagi mereka yang ingin mereka mati. - Polandia

     Ungkapan ini mengandung kritik terhadap orang-orang yang hidup dengan sifat kikir atau pelit, yang terus-menerus mengumpulkan harta tanpa pernah benar-benar menikmatinya atau membagikannya kepada orang lain. Dalam konteks ini, orang yang kikir sering kali menghabiskan hidupnya dalam kekhawatiran akan kehilangan hartanya, tetapi ironisnya, setelah mereka meninggal, kekayaan itu justru jatuh ke tangan orang lain—mungkin ahli waris yang tidak mereka sukai atau bahkan yang berharap mereka cepat mati untuk mendapatkan harta tersebut. Ini menggarisbawahi betapa sia-sianya kekayaan jika hanya dikumpulkan tanpa memberikan manfaat bagi diri sendiri atau orang lain selama hidup.

* Jika Anda ingin menipu orang yang kaya dan kuat, Anda jangan menghina mereka. - Jepang

     Ungkapan ini mencerminkan kebijaksanaan yang berhati-hati dalam berurusan dengan orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan. Dalam budaya Jepang, yang sangat menekankan pada kehormatan dan status sosial, menghina orang yang kaya dan berkuasa bisa berakibat fatal. Namun, jika seseorang ingin menipu atau memanipulasi mereka, penting untuk tetap menjaga hubungan baik dan tidak menunjukkan permusuhan secara terbuka. Ini mencerminkan pemahaman tentang kekuatan sosial dan pentingnya menyembunyikan niat sebenarnya dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tanpa menimbulkan konflik langsung. 

* Ketika emas berbicara, setiap lidah akan diam. - Italia

     Ungkapan ini menekankan kekuatan uang dalam mengendalikan situasi dan hubungan sosial. Dalam budaya Italia, seperti di banyak tempat lain, uang dianggap memiliki kekuatan luar biasa untuk membungkam perdebatan, menghentikan kritik, dan memengaruhi keputusan. Emas, sebagai simbol kekayaan, dapat membuat orang yang biasanya vokal dan kritis menjadi diam karena daya tarik atau ancaman yang dibawanya. Ungkapan ini menunjukkan realitas bahwa kekayaan sering kali dapat mempengaruhi atau mengendalikan orang lain, bahkan membuat mereka mengabaikan prinsip atau nilai mereka demi keuntungan materi.

* Uang milik masyarakat seperti air suci, maka semua orang membantu dirinya sendiri untuk mendapatkannya. - Italia

     Ungkapan ini memberikan gambaran tentang bagaimana uang dianggap sebagai sumber daya yang sangat berharga dan diinginkan oleh banyak orang. Dalam masyarakat Italia, uang publik atau kekayaan bersama sering kali dipandang sebagai sesuatu yang harus diambil atau dimanfaatkan oleh setiap individu untuk kepentingan pribadi mereka. Ungkapan ini bisa dilihat sebagai kritik terhadap sifat serakah atau oportunistik yang bisa muncul ketika berhadapan dengan uang atau sumber daya milik bersama, di mana setiap orang merasa berhak untuk mengambil bagian mereka sendiri, sering kali tanpa memperhatikan konsekuensi atau kepentingan orang lain.

* Uang menyebabkan bajingan menjadi diakui. - Yiddi

     Ungkapan ini sangat tajam dalam mengkritik bagaimana uang bisa merubah persepsi masyarakat terhadap seseorang. Dalam budaya Yiddi, ada pemahaman bahwa seseorang yang secara moral atau etika dianggap rendah bisa mendapatkan pengakuan, penghormatan, atau bahkan kekuasaan hanya karena memiliki kekayaan. Uang, dalam hal ini, berfungsi sebagai alat yang dapat merubah citra seseorang di mata masyarakat, membuat orang-orang yang tidak layak atau "bajingan" menjadi dihormati hanya karena mereka kaya. Ini mengkritik betapa superfisial dan rapuhnya nilai-nilai sosial yang bisa dibeli atau dipengaruhi oleh kekayaan. 

* Jika Anda memiliki uang, Anda memiliki kebijaksanaan; jika tidak, maka Anda bodoh. - Turki

     Ungkapan ini mencerminkan pandangan sinis terhadap bagaimana kekayaan dapat mempengaruhi persepsi orang lain tentang seseorang. Dalam budaya Turki, kekayaan sering kali dikaitkan dengan kebijaksanaan atau kecerdasan. Artinya, orang yang kaya cenderung dianggap lebih pintar atau lebih bijak hanya karena mereka memiliki uang. Sebaliknya, orang yang miskin mungkin dianggap bodoh atau tidak kompeten. Ungkapan ini mengkritik kecenderungan masyarakat untuk menilai seseorang berdasarkan status finansial mereka, bukan berdasarkan kualitas pribadi atau kemampuan intelektual yang sebenarnya.
 

* Kemanapun Anda pergi jika Anda erat dengan uang, maka Anda akan disambut dengan kehidupan yang tidak cerah.- Cina

     Ungkapan ini menggambarkan konsekuensi negatif dari terlalu terobsesi dengan uang. Dalam budaya Cina, ada pemahaman bahwa jika seseorang terlalu terikat dengan uang dan menjadikannya pusat dari semua tindakan dan keputusan, maka hidupnya akan menjadi suram dan tidak bahagia. Obsesi terhadap uang dapat membuat seseorang kehilangan kebahagiaan sejati, seperti hubungan yang bermakna, kedamaian batin, dan kebahagiaan sederhana. Ungkapan ini mengingatkan bahwa uang tidak bisa menjadi sumber kebahagiaan yang sejati dan bahwa mengejar uang secara berlebihan dapat membawa kehidupan yang hampa dan penuh stres. 

* Siapa yang membayar utang-utangnya akan menjadi kaya. - Perancis

     Ungkapan ini menekankan pentingnya tanggung jawab finansial dan bagaimana pengelolaan hutang yang baik dapat berujung pada kesejahteraan. Dalam budaya Perancis, melunasi hutang dianggap sebagai langkah penting menuju kekayaan atau stabilitas finansial. Orang yang disiplin dalam membayar hutangnya tidak hanya membebaskan diri dari beban finansial tetapi juga menempatkan dirinya pada posisi yang lebih baik untuk membangun kekayaan. Ungkapan ini mengajarkan bahwa kekayaan sejati datang dari pengelolaan uang yang bijaksana dan bertanggung jawab, termasuk memastikan bahwa hutang-hutang dilunasi tepat waktu.

* Makan dan minum dengan teman-teman Anda tetapi jangan melakukan perdagangan dengan mereka. - Turki

     Ungkapan ini mencerminkan pandangan bijak tentang pemisahan antara hubungan sosial dan bisnis. Dalam budaya Turki, hubungan pertemanan sangat dihargai, tetapi ketika uang atau bisnis terlibat, ada potensi besar untuk merusak hubungan tersebut. Oleh karena itu, ungkapan ini mengingatkan agar berhati-hati dalam mencampurkan pertemanan dengan urusan perdagangan, karena risiko konflik dan perselisihan yang bisa muncul ketika kepentingan finansial mulai masuk ke dalam dinamika pertemanan. Ini adalah nasihat untuk menjaga hubungan sosial tetap murni dan tidak tercemar oleh masalah-masalah finansial yang sering kali rumit dan penuh tantangan.
 

* Di bawah kapitalisme, manusia mengeksploitasi manusia; Di bawah sosialisme, keadaan yang terjadi adalah yang sebaliknya. - Polandia

     Ungkapan ini mengandung ironi dan kritik tajam terhadap kedua sistem ekonomi, kapitalisme dan sosialisme. Dalam kapitalisme, sering kali dikatakan bahwa individu yang kuat secara ekonomi dapat mengeksploitasi mereka yang lemah, dengan keuntungan diutamakan di atas kesejahteraan manusia. Namun, ungkapan ini juga menyindir sosialisme, dengan mengatakan bahwa meskipun tujuannya adalah keadilan sosial, pada kenyataannya, eksploitasi masih terjadi, hanya saja dalam bentuk yang berbeda, mungkin dengan negara atau kolektif yang mengambil peran dominan dalam kehidupan individu. Dengan demikian, ungkapan ini menyiratkan bahwa tidak ada sistem yang sempurna; setiap sistem memiliki kelemahan yang dapat menyebabkan ketidakadilan atau eksploitasi, meskipun dengan cara yang berbeda.
 

* Kegagalan datang untuk memenangkan uang. - Cina

     Ungkapan ini menyoroti pandangan bahwa kegagalan sering kali menjadi bagian penting dari proses menuju kesuksesan, terutama dalam hal mencari kekayaan atau mencapai tujuan finansial. Dalam budaya Cina, kegagalan tidak selalu dilihat sebagai akhir dari usaha, melainkan sebagai pengalaman yang berharga yang dapat membawa pelajaran penting. Dengan belajar dari kegagalan, seseorang dapat memperbaiki strategi dan pendekatannya, yang pada akhirnya bisa mengarah pada kemenangan atau pencapaian tujuan finansial. Ungkapan ini mengajarkan bahwa kesuksesan sering kali dibangun di atas landasan kegagalan, dan bahwa ketekunan dalam menghadapi kegagalan adalah kunci untuk meraih keberhasilan.

* Ketika keberuntungan Anda meningkat, kolom rumah Anda menjadi bengkok. - Armenia

     Ungkapan ini menggunakan metafora untuk menggambarkan bagaimana keberuntungan yang tiba-tiba atau peningkatan dalam nasib seseorang dapat membawa tantangan atau masalah baru yang tidak terduga. "Kolom rumah" melambangkan fondasi atau stabilitas dalam hidup seseorang, dan ketika itu "bengkok", artinya ada sesuatu yang salah atau tidak seimbang. Ungkapan ini menyiratkan bahwa ketika seseorang tiba-tiba mendapatkan keberuntungan besar, hal itu bisa merusak keseimbangan atau stabilitas dalam hidup mereka, mungkin karena mereka tidak siap untuk menghadapi tanggung jawab atau tekanan yang datang dengan kekayaan atau kesuksesan yang tiba-tiba. Ini adalah pengingat bahwa keberuntungan tidak selalu membawa kebahagiaan atau stabilitas, dan bisa menyebabkan masalah baru jika tidak dikelola dengan bijaksana.

* Bukan uang jika tidak memberikan kebahagiaan walaupun dalam jumlah uang yang banyak. - Rusia

     Ungkapan ini menekankan pandangan bahwa uang, meskipun dalam jumlah besar, tidak memiliki nilai yang sebenarnya jika tidak mampu memberikan kebahagiaan atau kepuasan. Dalam budaya Rusia, ada kesadaran yang mendalam tentang perbedaan antara kekayaan materi dan kebahagiaan sejati. Uang dianggap sebagai alat yang hanya bernilai sejauh ia mampu membawa kebahagiaan, keamanan, atau kepuasan dalam hidup seseorang. Jika uang hanya menambah stres, kecemasan, atau isolasi, maka uang tersebut kehilangan nilainya. Ungkapan ini mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan emosional jauh lebih penting daripada kekayaan materi, dan bahwa mengejar uang demi uang tidak akan membawa kebahagiaan sejati. 

* Menginginkan sesuatu dalam waktu yang cukup lama maka Anda tidak bisa mendapatkannya. - Cina

     Ungkapan ini mengandung wawasan filosofis tentang keinginan dan pencapaian. Dalam budaya Cina, ada pandangan bahwa keinginan yang terlalu kuat atau berlarut-larut bisa menjadi penghalang bagi pencapaian itu sendiri. Hal ini mungkin karena keinginan yang terlalu besar dapat menyebabkan tekanan, ketegangan, atau bahkan obsesi yang akhirnya menggagalkan upaya untuk mencapainya. Ungkapan ini mencerminkan pemahaman bahwa ada kebijaksanaan dalam melepaskan atau tidak terlalu terpaku pada keinginan, karena terkadang ketika kita berhenti terlalu menginginkan sesuatu, peluang untuk mendapatkannya justru muncul dengan sendirinya. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya keseimbangan dan ketenangan dalam mengejar tujuan, serta tentang menerima hasil dengan lapang dada.

* Kekhawatiran tentang uang bukan luka yang fana. - Perancis

     Ungkapan ini menggambarkan bahwa masalah finansial sering kali membawa kekhawatiran yang mendalam dan terus-menerus. Dalam budaya Perancis, ada pemahaman bahwa kekhawatiran tentang uang bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah diabaikan atau diatasi seperti luka fisik yang sembuh dengan waktu. Kekhawatiran tentang uang bisa menjadi beban mental dan emosional yang berat, mempengaruhi kesejahteraan seseorang dalam jangka panjang. Ungkapan ini menekankan bahwa masalah keuangan dapat membawa dampak yang serius dan berkelanjutan, sering kali mengikis kebahagiaan dan kedamaian pikiran.

* Mendapatkan uang seperti menggali menggunakan jarum. Pengeluaran itu seperti air yang cepat meresap ke dalam pasir. -Jepang

     Ungkapan ini menggambarkan betapa sulitnya mengumpulkan kekayaan dibandingkan dengan betapa mudahnya menghabiskannya. Dalam budaya Jepang, metafora ini digunakan untuk menunjukkan bahwa mengumpulkan uang memerlukan usaha yang besar, ketekunan, dan kerja keras, seperti mencoba menggali dengan alat yang sangat kecil dan tidak efektif. Sebaliknya, pengeluaran uang digambarkan sebagai sesuatu yang sangat mudah dan cepat, mirip dengan air yang meresap dengan cepat ke dalam pasir dan hilang begitu saja. Ungkapan ini mengajarkan nilai dari kerja keras dan kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan, sekaligus mengingatkan kita untuk bijaksana dalam mengelola pengeluaran agar tidak kehilangan apa yang telah kita kumpulkan dengan susah payah.
 

* Bila Anda hanya memiliki dua sen yang tersisa di dunia, maka Anda beli sepotong roti dengan satu sennya dan bunga lili dengan satu sen lainnya. - Cina

     Ungkapan ini mengandung filosofi tentang pentingnya keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual. Dalam budaya Cina, ada pengertian bahwa sementara roti melambangkan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, bunga lili melambangkan keindahan, kebahagiaan, dan kebutuhan spiritual yang tidak kalah penting. Ungkapan ini menyarankan bahwa meskipun dalam keadaan kesulitan finansial, kita harus tetap menghargai keindahan dan hal-hal yang memberikan kedamaian batin dan kebahagiaan. Ini mengajarkan bahwa hidup yang bermakna tidak hanya berfokus pada bertahan hidup secara fisik tetapi juga memperhatikan aspek-aspek emosional dan spiritual yang memperkaya kehidupan. 

* Jika uang kecil tidak dikeluarkan, maka uang besar tidak akan masuk. - Cina

     Ungkapan ini mencerminkan filosofi tentang investasi dan pengeluaran dalam budaya Cina. Uang kecil di sini mewakili pengeluaran awal atau investasi yang mungkin tampak sepele, tetapi penting untuk membuka pintu bagi peluang yang lebih besar di masa depan. Jika seseorang terlalu kikir atau takut mengeluarkan uang untuk hal-hal kecil, mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Ungkapan ini mengajarkan pentingnya berani berinvestasi, bahkan dalam hal-hal yang tampaknya kecil, sebagai langkah awal untuk mencapai kesuksesan finansial yang lebih besar.

* Memiliki satu sen seperti memiliki uang yang banyak jika Anda tidak memiliki uang sepeser pun. - Yiddi

     Ungkapan ini menggambarkan betapa besar nilai sesuatu yang kecil bisa terasa ketika kita tidak memiliki apa-apa. Dalam tradisi Yiddi, ada pemahaman bahwa ketika seseorang berada dalam kondisi yang sangat miskin, bahkan sekecil apapun jumlah uang yang mereka miliki bisa sangat berarti. Uang satu sen mungkin tampak tidak berarti bagi orang yang memiliki banyak, tetapi bagi mereka yang tidak memiliki apa-apa, uang tersebut bisa menjadi penyelamat atau tanda harapan. Ungkapan ini mengajarkan kita untuk menghargai apa yang kita miliki, sekecil apapun itu, dan mengingatkan kita bahwa bagi mereka yang dalam kesulitan, hal-hal kecil bisa membawa perubahan besar. 

* Sulit untuk menjadi kaya tanpa menyombongkan diri seperti sulitnya menjadi miskin tanpa mengeluh. - Cina

     Ungkapan ini menunjukkan dua ekstrem dalam kehidupan—kekayaan dan kemiskinan—dan bagaimana masing-masing memiliki tantangannya sendiri. Dalam budaya Cina, ada kesadaran bahwa menjadi kaya sering kali membuat seseorang sulit untuk tidak menunjukkan atau membanggakan kekayaannya, karena kekayaan cenderung memunculkan perasaan superioritas atau kebanggaan. Di sisi lain, menjadi miskin juga tidak mudah tanpa mengeluh karena kekurangan materi yang dialami bisa sangat menyakitkan dan membebani. Ungkapan ini mengingatkan kita akan tantangan yang ada dalam kedua kondisi tersebut, serta pentingnya menjaga kerendahan hati dalam kekayaan dan ketahanan dalam kemiskinan.

* Mereka yang menghina uang akhirnya akan mengemis kepada teman-teman mereka. - Cina

     Ungkapan ini menyoroti pentingnya menghargai dan menghormati uang, bahkan jika kita tidak selalu memuja atau memprioritaskannya di atas segalanya. Dalam budaya Cina, ada pemahaman bahwa menghina uang, atau tidak menghargai nilainya, bisa berakibat buruk di kemudian hari. Mereka yang mengabaikan pentingnya uang mungkin akhirnya harus bergantung pada bantuan orang lain atau bahkan mengemis kepada teman-teman mereka untuk bertahan hidup. Ungkapan ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan pentingnya uang dalam kehidupan sehari-hari dan untuk mengelolanya dengan bijaksana agar kita tidak perlu bergantung pada orang lain di masa depan. 

* Hati yang bahagia lebih baik daripada sebuah tas yang penuh dengan uang. - Italia

     Ungkapan ini menyoroti pandangan bahwa kebahagiaan batin jauh lebih penting dan berharga daripada kekayaan materi. Dalam budaya Italia, kebahagiaan dan kesejahteraan emosional sering kali dianggap sebagai hal yang paling berharga dalam hidup, lebih dari sekadar akumulasi uang atau harta benda. Sebuah "hati yang bahagia" berarti memiliki kedamaian batin, kepuasan, dan rasa syukur, yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ungkapan ini mengajarkan bahwa meskipun uang penting untuk memenuhi kebutuhan hidup, kebahagiaan sejati berasal dari dalam diri dan tidak tergantung pada seberapa banyak uang yang kita miliki.
 

* Setelah orang kaya menjadi kaya, ambisi berikutnya adalah menjadi lebih kaya. - Amerika

     Ungkapan ini mencerminkan fenomena umum dalam budaya kapitalis di mana pencapaian kekayaan sering kali memicu keinginan yang lebih besar untuk terus mengumpulkan lebih banyak. Dalam budaya Amerika, ada pemahaman bahwa kekayaan cenderung memicu ambisi dan keserakahan yang tidak pernah berakhir. Setelah seseorang mencapai kekayaan tertentu, alih-alih merasa puas, mereka sering kali terdorong untuk mengejar lebih banyak kekayaan lagi, karena pencapaian finansial menjadi ukuran utama keberhasilan dan status. Ungkapan ini mengkritik sifat tak terpuaskan dari keinginan manusia untuk terus memperluas kekayaannya, sering kali mengorbankan aspek-aspek lain dalam kehidupan yang mungkin lebih bermakna. 

* Tidak ada jumlah uang yang dapat membuat orang lain memuji Anda di belakang Anda. - Cina

     Ungkapan ini mengungkapkan bahwa kekayaan tidak bisa membeli penghormatan atau pujian yang tulus dari orang lain, terutama di saat Anda tidak hadir. Dalam budaya Cina, ada kesadaran bahwa pujian yang diberikan di depan sering kali tidak tulus dan bisa dipengaruhi oleh kekayaan atau status seseorang. Namun, pujian yang diberikan di belakang seseorang, ketika orang tersebut tidak mendengarnya, adalah lebih jujur dan tulus. Ungkapan ini mengajarkan bahwa meskipun seseorang mungkin memiliki banyak uang, hal itu tidak dapat menjamin rasa hormat atau pujian yang benar-benar tulus dari orang lain, dan bahwa kualitas pribadi lebih berharga daripada kekayaan dalam mendapatkan penghormatan sejati.

* Uang tidak dapat membeli keinginan hati. - Cina

     Ungkapan ini menyatakan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa dibeli dengan uang, terlepas dari seberapa kaya seseorang. Dalam tradisi Cina, keinginan hati sering kali mengacu pada cinta, kebahagiaan sejati, atau kedamaian batin—hal-hal yang bersifat mendalam dan emosional yang tidak bisa didapatkan hanya dengan kekayaan. Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa uang, meskipun penting untuk memenuhi kebutuhan material, tidak dapat membeli atau menggantikan apa yang benar-benar diinginkan oleh hati kita, seperti cinta, persahabatan, dan kebahagiaan sejati. Oleh karena itu, kita diajak untuk mencari kepuasan batin dan kesejahteraan emosional yang melampaui kepemilikan material.

* Jika Anda memiliki uang, Anda dapat menciptakan hantu dan setan kembali ke gerinda. - Cina

     Ungkapan ini menunjukkan bahwa uang memiliki kekuatan yang besar, bahkan untuk mencapai hal-hal yang tampaknya mustahil. Dalam budaya Cina, "hantu dan setan" sering kali menjadi simbol dari tantangan atau masalah yang tampaknya tidak dapat diatasi. Namun, dengan uang, seseorang bisa memanipulasi situasi, mengubah nasib, atau bahkan menciptakan keajaiban. Ungkapan ini menggarisbawahi kekuatan uang dalam memungkinkan seseorang untuk mencapai hal-hal yang luar biasa atau mengatasi hambatan besar, namun juga mengingatkan akan bahaya dari ketergantungan pada uang untuk segala hal, karena itu bisa membawa kita ke dalam ilusi bahwa uang dapat menyelesaikan semua masalah, yang tidak selalu demikian.

* Jalan terpendek menuju kekayaan terletak pada penghinaan kekayaan. - Seneca

     Ungkapan dari filsuf Romawi, Seneca, ini mengandung ironi yang mendalam tentang hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan. Dengan "penghinaan kekayaan," Seneca mengacu pada sikap tidak terikat pada kekayaan dan tidak membiarkan hidup kita dikendalikan oleh keinginan untuk uang. Ungkapan ini mengajarkan bahwa kekayaan sejati tidak terletak pada akumulasi materi, tetapi pada kemampuan untuk hidup dengan sederhana dan merdeka dari nafsu akan uang. Dengan tidak terlalu terikat pada kekayaan, seseorang dapat menemukan kebebasan dan kedamaian batin yang merupakan bentuk kekayaan yang lebih tinggi. Seneca mendorong kita untuk mengembangkan sikap tidak terikat pada kekayaan sebagai jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan seimbang.

* Dengan uang di saku Anda, Anda menjadi bijak, tampan, dan bernyanyi dengan baik. - Yiddi

     Ungkapan ini dengan humor mengungkapkan bagaimana uang bisa mengubah cara seseorang dipersepsikan oleh diri sendiri dan orang lain. Dalam budaya Yiddi, ada kesadaran bahwa kekayaan sering kali membuat seseorang terlihat lebih menarik, lebih bijaksana, dan lebih berbakat, meskipun mungkin tidak ada perubahan nyata dalam karakter atau kemampuan orang tersebut. Uang memberikan kepercayaan diri dan status, yang dapat memengaruhi cara orang lain melihat kita dan bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Ungkapan ini juga merupakan kritik halus terhadap masyarakat yang terlalu memuja kekayaan dan mengaitkan nilai seseorang dengan jumlah uang yang mereka miliki, yang sering kali merupakan ilusi dan tidak mencerminkan nilai sejati seseorang.
 

* Satu sen yang ditabung adalah satu sen yang diperoleh. - Benjamin Franklin

     Ungkapan ini terkenal dari salah satu bapak pendiri Amerika Serikat, Benjamin Franklin, menekankan pentingnya menabung dan hidup hemat. Dengan menabung, seseorang secara efektif meningkatkan kekayaannya, karena uang yang ditabung sama berharganya dengan uang yang diperoleh. Franklin mengajarkan bahwa disiplin dalam mengelola keuangan pribadi—melalui menabung dan menghindari pemborosan—adalah kunci untuk membangun kekayaan dan mencapai stabilitas finansial. Ungkapan ini mengajarkan prinsip dasar ekonomi rumah tangga yang mengarah pada kemakmuran dan kemandirian finansial, di mana kebiasaan menabung merupakan landasan yang kuat.

     Ungkapan-ungkapan di atas memberikan pandangan yang beragam tentang hubungan antara manusia dan uang. Mereka mengajarkan bahwa meskipun uang penting, ada nilai-nilai lain yang harus dihargai, seperti kebahagiaan, kerendahan hati, dan kebijaksanaan dalam mengelola kekayaan. Uang bisa membawa manfaat besar, tetapi juga bisa menjadi sumber masalah jika tidak dikelola dengan hati-hati. Dengan refleksi dari berbagai budaya ini, kita diajak untuk mempertimbangkan bagaimana kita memandang dan memperlakukan uang dalam hidup kita, serta bagaimana kita bisa menemukan keseimbangan antara kekayaan materi dan kesejahteraan emosional.

 

Note:
Bahasa Yiddi (ייִדיש, Jiddisch) adalah sebuah bahasa Germanik yang dipertuturkan oleh 4 juta jiwa, terutama oleh umat Yahudi Eropa Timur atau disebut pula kaum Ashkenazim. Nama Yiddi kemungkinan merupakan singkatan dari yidish-taytsh (ייִדיש - טיַיטש), atau "bahasa Jerman-Yahudi".Secara tipologis bahasa Yiddi adalah sebuah bahasa Germanik dan berkerabat dengan bahasa Jerman, bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Meskipun begitu, bahasa ini ditulis menggunakan huruf Ibrani. Kosakatanya sebagian besar juga Germanik meski bahasa ini banyak mengandung kata-kata serapan dari bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Slavia. (Wikipedia Indonesia)

     Gerahnya udara sore tidak terasa lagi. Sepeda motor yang kukendarai melaju cepat tanpa kusadari. Menikung dari satu belokan ke belokan lain, lelu menyalib di antara ramainya lalu lintas dengan tujuan yang tidak pasti.
     Aku hanyut dalam jalan  pikiran yang kacau. Sampai entah mengapa, aku menghentikan motorku di trotoar pantai Losari. Kusentak standar samping lalu melangkah ke tembok pantai dan duduk di atasnya.
     "Mas, bakso.!", pintaku ke arah Mas Bejo, salah seorang penjual bakso yang berjejer bersama gerobaknya di sepanjang pantai.
     Sambil menunggu bakso pesananku, aku mengingat-ingat kembali peristiwa yang baru kualami. Sungguh mampus, aru kali inilah aku merasakan pukulan yang begitu menyakitkan. Pacarku yang kubangga-banggakan selama ini dan juga sangat kukasihi, memutuskan cintanya tanpa sebab musabab yang jelas.
     "Ini baksonya dik.. " tegursi Mas penjual bakso dengan ramah sambil meletakkan semangkok bakso dengan pernak-perniknya hadapanku. Sapaan lembut itu menyadarkanku dari lamunan. Akupun lalu menggeser sedikit letak duduk untuk mendapat posisi nyaman selama menyantap isi mangkok di hadapanku.
     Dengan lahap, dalam beberapa suap saja, bakso semangkok sudah mengalir melalui tenggorokanku. Aku menoleh ke penjual bakso tadi, mengacungkan satu jari ke atas dan minta tambah semangkok lagi. Porsi yang baru tiba di hadapanku ini mengalami nasib yang sama dengan porsi yang pertama tadi. Ludes dalam beberapa suap saja. Aku lalu minta tambah dan tambah lagi.
     Puas dengan empat mangkok bakso, aku sedikit menggeliatkan tubuh, memandang penuh gairah ke penjual es teler yang berada di samping penjual bakso tadi. Dengan isyarat sederhana, segera segelas besar es teler tersaji di hadapanku, menggantikan mangkok-mangkok bakso yang sudah kosong. Dua gelas, tiga gelas, mengalir begitu saja dalam hitungan beberapa menit.
     Rupanya penyakit kebiasaanku kumat lagi. Bila sedang emosi, kalut atau pikiran kacau balau, nafsu makanku meningkat berkali-kali lipat. Dan seperti sudah bersepakat dengan organ pencernaanku, perut dan lambungku pun segera dapat menyesuaikan keadaan. Daya tampungnya menjadi begitu dahsyat, menampung apa saja yang dimasukkan ke dalamnya.
     Namun yang paling konyol dari semuanya itu adalah aku tidak mau pusing sama sekali pada penyakit itu.
     Es teler gelas keempat sudah tersaji di hadapanku. Aku bersandar ke belakang, menikmati semilir 'anging mammiri' manyapu bibir pantai Losari mengantar romantisnya sore menyongsong senja. Oh.. nikmatnya..
     Namun hanya beberapa detik aku terbuai, kenangan tentang kekasihku yang baru saja memutuskan hubungan denganku membuyarkan semua rasa indah yang kurasakan tadi.
     Aku menoleh ke arah penjual es teler tadi, namun penjual nasi goreng di sebelahnya yang mengangguk sopan sambil tersenyum ramah. Ah iya, nasi goreng. Tanganku mengacung memberi tanda ke penjual nasi goreng itu, pesanan satu porsi istimewa. Sambil menunggu nasi goreng pesananku disiapkan, perlahan ku kendurkan ikat pinggang dan melepaskan kancing celana jeansku. Tentu saja zipper nya ikut terkuak sedikit, oleh desakan perutku yang sudah melar oleh bakso dan es teler tadi.
     Setelah beberapa suap nasi goreng ikut berjejal di dalam lambungku, terasa isyarat bahwa kapasitas maksimumnya sudah hampir tiba. Tapi aku tidak peduli sama sekali. Kuselesaikan porsi istimewa tersebut dengan tuntas tanpa tersisa sedikitpun.
     Kini aku benar-benar sudah kelewat kenyang. Sambil mengusap-usap perutku yang sudah menggelembung karena kekenyangan, aku menarik nafas panjang beberapa kali. Aroma laut yang khas itu begitu menyegarkan perasaanku. Meski rasa perih di perasaanku masih terasa, namun sekarang sudah jauh lebih ringan. Perlahan-lahan rasa kalut yang membuatku uring-uringan sudah sirna. Ah.. aku menghirup lagi dengan kuat ke dalam paru-paruku, aroma laut itu.
     Akupun berdiri dari duduk, meski dengan sedikit sempoyongan. Kurapikan kembali kancing celana dan zippernya, terakhir mengeratkan kembali ikat pinggang yang tadi sudah dikendurkan. Aku mau pulang tidur.
     Segera kuraba kantong belakang celanaku, untuk mengeluarkan dompet lalu membayar semua makanan yang telah kuhabiskan tadi. Refleks tanganku berpindah ke kantong sebelah kiri, karena dompet yang kucari tidak teraba. Tetapi, dompet itu juga tidak ada di sana. Segera tanganku meraba saku kemeja di depan, meski dengan sangat yakin saya tahu bahwa tidak mungkin ada dompet di saku kemeja itu.
     Akupun menjadi sadar, ternyata aku lupa membawa dompet ketika tadi bersalin dengan celana yang kupakai sekarang ini. Karena terburu-buru di genjot emosi yang hendak meledak dalam pikiran yang kacau, aku lupa mengambil dompet dari celana kotorku yang kugantung di belakang pintu kamarku .
Pantai Losari Makassar
    Kutatap garis cakrawala yang memerah di bibir laut sebelah sana. Aku melangkah kembali ke arah tembok pantai lalu duduk di atasnya. "Mas, bakso.!" Aku memesan satu mangkok lagi.
     Aku benar-benar kalut.

     "Angkuh bagaikan gunung-gunungnya, megah bagaikan alamnya, yang sungai­-sungainya di daerah-daerah nan tinggi mengalir cepat, garang tak tertundukkan, terutama pada musim penghujan; air-air terjun tertumpah seakan mendidih, membusa, bergelora; ungkapan semangat kerap menyala hingga amarah yang tak memandang apa-apa dan siapa-siapa. Namun sebagaimana gunung nan garang yang terpancang kokoh dengan sungai yang menggelora, perlahan-lahan akan berakhir tenang semakin ia mendekati pantai. Demikian pulalah orang Bugis dan Makassar, dalam ketenangan dapat menerima apa yang baik dan indah". Begitu tulis John A.F. Schut dalam bukunya "De Volken van Nederlandsch lndie" jilid I yang bahasannya berjudul : De Makassaren en Boegineezen.

     Gambaran yang terasa global untuk mewakili karakter umum Suku Bugis Makassar, apalagi bila hendak fokus ke Makassar saja. Dari berbagai sumber online maupun offline, saya kemudian juga tertarik untuk memposting sedikit kisah bagaimana awal mulanya sehingga daerah kecil yang dahulu di dalam wilayah kerajaan Tallo, kemudian diberi nama Makassar.

     Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama "Makassar". Di abad ke-16 "Makassar” sudah menjadi ibu kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal oleh bangsa asing.

     Selama tiga malam berturut-turut Baginda Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri KaraEng Katangka yang merangkap Tuma'bicara Butta ri Gowa (lahir tahun 1573), bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari tepi pantai wilayah kerajaannya, Tallo. Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh Butta Gowa lalu menyebar ke arah negeri sahabat lainnya.

     Bersamaan di malam ketiga Raja bermimpi itu, yakni malam Jum'at tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H atau tanggal 22 September 1605 M, di bibir pantai Tallo merapatlah sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, yang berkibar kencang dihembus angin laut. Ketika merapat di pantai, nampaklah sesosok lelaki dengan tenang dan tangkas, menambatkan perahunya. Setelah itu, sosok lelaki tersebut melakukan gerakan-gerakan aneh berulang-ulang seperti suatu ritual. Gerakan-gerakan tersebut di kemudian hari dikenal sebagai gerakan orang bersembahyang dalam ajaran agama Islam (shalat).

     Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda KaraEng Katangka. Di ujung malam menjelang subuh yang masih begitu gelap, Baginda tidak mampu menahan diri untuk bergegas ke pantai hendak menyaksikan kehebohan yang sudah begitu menggemparkan. Baru saja Baginda hendak melangkah keluar istana, tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. . (Darwa Rasyid MS., Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV s/d XIX, hal.36)

     Lelaki itu lalu menjabat tangan Baginda Raja dengan erat, yang terasa kaku lantaran masih takjub oleh situasi yang begitu tiba-tiba. Masih sambil menggenggam tangan itu lalu ‘ia’ menulis kalimat di telapak tangan Baginda. Karena begitu terkesima, Baginda hanya bisa membiarkan semua kejadian itu tanpa mengelak sedikitpun. Setelah selesai menulis, lelaki itu mengangkat wajahnya dan tersenyum hormat kepada Baginda.

     "Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi akan merapat di pantai,” begitu suara lembut namun tegas dari lelaki itu, yang tiba-tiba hanya dalam sekejap menghilang begitu saja dari hadapan raja. Baginda sangat terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya dan ternyata tulisan yang dibuat lelaki itu masih nampak begitu nyata dan jelas. Tidak menunggu lama, Baginda KaraEng Katangka lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki dengan penampilan berbeda dari rakyat kebanyakan,  tampak tengah menambatkan perahu. Sesaat kemudian ia dengan takzim menyampaikan salam dengan begitu hormat memenyambut kedatangan Baginda.

     Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. Setelah selesai menyimak penuturan Baginda, lelaki itu tersenyum lalu berujar lembut,

     “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat”. Melihat raja mencoba mengerti apa yang dikatakannya, lelaki itu melanjutkan, “Adapun lelaki yang menuliskannya tadi, adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Nabi yang mulia itu telah menampakkan diri di Negeri Baginda.”

     Peristiwa inilah yang kemudian dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama "Makassar", berasal dari ungkapan "Akkasaraki Nabbiya", yang artinya ‘Nabi menampakkan diri’.

     Adapun lelaki yang mendarat di pantai Tallo itu adalah Abdul Ma'mur Khatib Tunggal yang kemudian dikenal sebagai Datuk Ri Bandang, berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat). Sementara Raja yang bertemu dengan ‘orang bercahaya’ itu adalah Baginda Raja Tallo bernama I Mallingkaang Daeng Manyonri KaraEng Katangka, yang setelah memeluk Agama Islam kemudian bergelar 'Sultan Abdullah Awaluddin Awwalul Islam KaraEng Tallo Tumenanga ri Agamana'. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.


     Selain itu, penelusuran asal nama "Makassar" juga bisa ditinjau dari beberapa sudut analisa yang lain, misalnya:

     Makna. Untuk menjadi manusia yang sempurna, maka manusia perlu "Ampakasaraki", yaitu menjelmakan (menjasmanikan) apa yang terkandung dalam bathin untuk diwujudkan sebagai perbuatan. "Mangkasarak" artinya mewujudkan dirinya sebagai manusia sempurna dalam ajaran Tao atau Tau (ilmu keyakinan bathin). Bukan seperti pemahaman sebagian orang bahwa "Mangkasarak" berarti orang kasar yang mudah tersinggung.

     Bahasa. Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar berasal dari kata "Mangkasarak" yang terdiri atas dua morfem ikat "mang" dan morfem bebas "kasarak".

Morfem ikat "mang" mengandung arti:
          - Memiliki sifat seperti yang terkandung dalam kata dasarnya.
          - Menjadi atau menjelmakan diri seperti yang dinyatakan oleh kata dasarnya. ­
Morfem bebas "kasarak" mengandung arti:
          - Terang, nyata, jelas, tegas.
          - Nampak dari penjelasan.
          - Besar (lawan kata: kecil atau halus).

     Jadi, kata "Mangkasarak" Mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (Jujur). Sebagai nama, orang yang memiliki sifat atau karakter "Mangkasarak" berarti orang tersebut besar (mulia), berterus terang (Jujur). Sebagaimana di bibir begitu pula di hati.


     Dalam ungkapan "Akkana Mangkasarak", maksudnya berkata terus terang, meski pahit, dengan penuh keberanian dan rasa tanggung jawab. Dengan kata "Mangkasarak" ini dapatlah disimpulkan bahwa kalau dia diperlakukan baik, ia lebih baik. Kalau diperlakukan dengan halus, dia lebih halus, dan kalau dia dihormati, maka dia akan lebih hormat.
Kompleks makam Raja-raja Tallo. Di tempat ini dimakamkan Sultan Mudhafar (Raja Tallo VII), Karaeng Sinrinjala, Syaifuddin (Raja Tallo XI), Siti Saleha (Raja Tallo XII), La Oddang Riu Daeng Mangeppe (Sultan XVI) juga I Malingkaang Daeng Manyonri (Raja Tallo pertama yang memeluk agama Islam) - Raja Daeng Manyori ini juga mendapat julukan sebagai 'Macan Putih dari Tallo' dan Karaeng Tuammalianga ri Timoro (Raja yang berpulang di Timur) (foto : isnuansa.com)

Kapal-kapal kayu Phinisi di pelabuhan Paotere' Makassar (foto : aci.detik.travel)

Pemukiman menuju pelabuhan Paotere' (foto : blog.travelpod.com)

Salah satu sisi kanal yang membelah kota Makassar (foto : faizalramadhan.com)

 Coto Makassar (foto : darimakassar.com)

Sop Konro dengan varian Konro Bakar (foto : mitrasites.com)

Benteng Port Rotterdam (foto : travel.kompas.com)
 
Bandara Sultan Hasanuddin (foto : makassarterkini.com)
Pantai Losari (foto : yaszero.com)

Pantai Losari dari sudut yang lain (foto : suharman-musa.blogspot.com)

 Salah satu bagian kota Makassar

Mesjid Raya Makassar (foto : gallery.makassarkota.go.id)

 Al-Markaz Al Islami Makassar (foto : semuahanyamasalalu.blogspot.com)

 Lapangan Karebosi (foto : Kaskus)

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.