Saya melangkah dengan sedikit terseok untuk kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak di tepi sawah. Matahari sedikit lagi terbenam sementara tujuan saya masih sekitar tiga kilometer dari tempat sekarang. Dengan perlahan ransel yang berat saya letakkan di samping lalu saya gunakan sebagai sandaran sambil meluruskan kaki yang penat.
      Tidak lama berselang seseorang menghampiri saya. Dengan keramahan khas penduduk desa, dia menyapa. Kami ngobrol kesana kemari, juga menanyakan mengapa saya hanya sendiri dengan beban yang kelihatan berat. Rupanya si Bapak ini sudah mengamati saya sejak tadi. Dengan singkat saya jelaskan bahwa saya sedang merampungkan tugas mengumpulkan sampel batu dari daerah sekitar ini. Saya tunjukkan bukit di depan, Bulu' Paria dimana tadi menjadi tujuan saya dan mendapatkan sampel-sampel batuan yang ada di dalam ransel. Bulu Paria yang mengerucut khas bentuk gunung api, tepat di depan Gunung Bulusaraung bila dipandang dari arah Leang-leang.
      Benar, saya sedang di daerah Leang-leang. Si Bapak masih dengan ramah ngobrol dan bercerita apa saja. Apa lagi ketika saya menunjuk ke Bulu Paria yang mana telunjuk saya sekligus menunjuk Bulusaraung di belakangnya, beliau menjadi semakin bersemangat. Satu kalimat yang begitu terkesan, ketika beliau berkata '..itu Bulusaraung..lihat mi.. itu mi gunung paling tinggi di dunia..coba lihat keliling, tidak ada mi yang lebih tinggi..'
      Begitu polos, begitu tulus tanpa keangkuhan sedikitpun, begitu sederhana dan yakin dengan apa yang diucapkannya. Saya hanya mengangguk-angguk mendengarkan. Penggalan percakapan itu yang kemudian selalu tersimpan di dalam ingatan saya, untuk selalu mengusik keingintahuan saya sehingga si Bapak bisa berkesimpulan demikian.
      Kami berpisah setelah saling bersalaman, si Bapak melangkah menjauh, sayapun melanjutkan langkah ke tujuan semula. Banyak tanya dan jawab yang silih berganti selama bertahun-tahun melintasi benak saya. Juga tak kalah banyaknya wawasan yang terlontar, ketika cerita ini saya sampaikan di kala senda gurau. Namun saya juga yakin masih banyak wawasan lainnya yang belum sempat terlontar untuk dicerna bersama. Wawasan yang terpendam bersama senyap di dalam tafakur.
      Adakah jawab yang lain.?
artikel saya ini
sudah pernah diterbitkan di buletin lembanna online
edisi Januari 2011 dalam label contour
tulisan didedikasikan untuk my great brother Yani Abidin
mengenang saat-saat latihan bersama menggunakan peta kompas
di daerah Leang-Leang dan sekitarnya

     Dua puluh tujuh orang anggota Korpala, di April 1986 menandai penjajakan pertama Korpala Unhas di Gunung Lompobattang. Perjalanan yang tidak terlalu mulus, tim yang meninggalkan kampus di sore hari, harus rela mendarat di Malakaji menjelang tengah malam. Karena tujuan masih jauh, rombongan melangkah perlahan, bergerak mendekati Lembang Bu'ne.
     Menjelang subuh, keberuntungan menghampiri, ada truk yang bersedia membawa rombongan sebagai penumpang tambahan diantara komoditi yang sudah memenuhi bak truk. Dan begitulah, menjelang pagi, kami tiba di Lembang Bu'ne dengan begitu lelah dan ngantuk.
 ada Afras, Bahtiar Baso, Akbar, Hero, Bob Lubis, Abang dan Wahyuddin. Tahulah mengapa ada gitar yang selalu mengikuti kegiatan.. banyak brader yang begitu lahir langsung bisa 'nyanyi'..
 
     Dalam cuaca yang berkabut disertai gerimis yang setia menyelimuti Lembang Bu'ne, rombongan mendekati pos pertama sekitar pukul 08.30 pagi. Keadaan cuaca stabil seperti itu, sepanjang waktu. Hingga sekitar pukul 17.30, barulah sebahagian besar peserta bisa mencapai ceruk di pos 9.
     Puncaknya sebelah mana? Itu, di sebelah itu.. ada telunjuk mengarah ke atas, menunjuk kabut yang berbaur gerimis. Saya memandang ke arah telunjuk itu mengarah, namun sama sekali tidak terlihat apa-apa, selain putih yang kelabu. Ada diskusi singkat, apakah akan melanjutkan menjangkau puncak Lompobattang, sementara sebentar lagi hari menjadi gelap. 
     Sesaat diam, sepertinya beberapa sedang sibuk berdialog dengan diri sendiri. Lalu, dengan beberapa anggukan kecil, seperti sedang mengirit kata-kata, hanya tatapan yang mewakili tekad untuk melanjutkan langkah. Tentu saja karena kondisi daya tahan yang tidak sama dalam menghadapi hujan sepanjang jalan tadi, sehingga tidak semuanya memutuskan untuk melanjutkan menuju puncak.
     Saya sempat mengamati jam di pergelangan tangan, sebelum melangkah. Lima belas menit lagi pukul enam sore. Sekali lagi saya menatap ke arah telunjuk tadi mengarah, berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan tujuan di dalam pandangan mata, namun tetap tidak ada yang terlihat.
 
 melintasi tangga batu ini di saat itu terasa begitu mencekam. Gerimis yang tidak kunjung reda, lalu kabut yang begitu tebal betul-betul membatasi pandangan mata. Ada sensasi yang lahir oleh fantasi manakala menikmati kondisi seakan melayang di atas seonggok batu, yang mengapung di hamparan tanpa dasar..
Jemmy, Iwan dan Indra, kapan kita bisa ke tempat ini lagi.?
 dari rombongan yang berjumlah 27 orang, sayang sekali tidak semuanya sempat menjejak hingga ke puncak Lompobattang. Hanya sembilan orang pada saat itu, diantaranya Indra Diannanjaya, Wahyuddin, Iwan Amran, Riri, Jemmy Abidjulu, Nevy Tonggiroh, Bahtiar Baso, Hero Fitrianto dan Yani Abidin.
 beruntung ketika rombongan kecil Korpala tiba di puncak, di sana juga ada rombongan lain yang sudah tiba beberapa saat sebelumnya. Mereka adalah teman-temannya Riri.. tentu saja ramai.. apalagi untuk foto-foto.

     Hanya lima belas menit di puncak, semuanya bergegas turun dan tiba kembali di pos 9 ketika gelap sudah hampir sempurna. Hanya tersisa sedikit bias cahaya di langit yang baru saja beranjak malam. Dan inilah.. penerangan hanya mengandalkan dua atau tiga lampu badai ditambah beberapa senter, yang juga hanya dua atau tiga buah saja.. senter jadul 'cap kepala singa' dengan baterai besar, panjang dan berat.
     Dalam serba keterbatasan pencahayaan, rombongan bergerak perlahan, hingga di mata air sekitar pos 3, sudah sekitar pukul 2 pagi. Rombongan berhenti di tempat ini untuk beristirahat. Menggigil dan tentu saja lapar, begitu terasa. Api yang cukup besar berhasil menyala, dan inilah.. bekal berupa 'nasi' dalam bungkusan plastik dikeluarkan. Sudah begitu dingin, membeku dan keras.
     As'adi begitu cekatan menyiapkan rantang aluminium untuk difungsikan sebagai panci, dan merebus kembali nasi yang sudah membeku itu. Luar bisa sekali, tanpa lauk sama sekali, nasi yang kembali mendidih di dalam panci itu ludes seketika tanpa mengangkat panci dari api. Hanya jari-jari dingin bergantian keluar masuk panci berburu dengan rasa lambung yang sudah begitu kosong.
 
nampang untuk foto dulu, sebelum meninggalkan Lembang Bu'ne
     Tidak semua peserta sempat teringat oleh saya, namun beberapa masih begitu segar di dalam ingatan.. ada As'adi, Allu, Phiphi, Novandi Arisoni, Buyung, Hukman dan ah.. lain-lainnya sudah tidak teringat lagi namanya...
     Dengan rendah hati saya menunggu komentar kalian, saudara-saudaraku, melengkapi cerita jalan-jalan pertama kita yang begitu bersahaja menuju Lompobattang, sehingga kembali memperkaya dan menyegarkan ruang memori saya yang sudah compang camping.
     Miss U all brader..

     Tidak terlalu jelas di dalam ingatan saya, berapa jumlah anggota Korpala maupun simpatisan yang bersama-sama menjejakkan kaki di puncak Bulusaraung waktu itu. Begitu ramai rasanya, apalagi untuk mencapai Desa Tompo' Bulu' di kaki Bulusaraung, harus ditempuh dengan berjalan kaki seharian penuh.
     Rombongan hanya bisa diantar oleh bus milik Unhas sampai di Balocci. Beruntung karena cuaca di bulan September tahun 1985 itu begitu baik dan cerah, sehingga acara bermalam di Balocci berlangsung lancar. Pagi harinya rombongan baru bergerak menuju Tompo' Bulu' dalam kelompok-kelompok kecil yang dibentuk. Menjelang sore, barulah rombongan saya yang anggotanya sekitar 15 orang, sampai di Tompo' Bulu'. Kelompok ini juga yang kemudian tetap bersama-sama bahu-membahu menuju puncak, keesokan paginya.
di bagian depan ada Bahtiar Baso, Bob, Buyung, Kenanga dan Naya. 
di belakanga ada Hero, Afras, Ahmad Negarawan, Hukman, Magdalena dan Sulaeman Qamar. Beberapa lainnya tidak sempat melekat 'nama'nya di memoriku.. maafkan saya brader..

     Mencapai puncak Bulusaraung dari Desa Tompo' Bulu' terasa lebih singkat. Hanya sekitar 2 jam, hampir seluruh peserta sudah mencapai puncak. Jauh terasa lebih melelahkan ketika sepanjang hari kemarin melintasi setapak di kaki bukit dari Balocci ke Tompo' Bulu'.
 beberapa teman dari FK dan FKG turut serta di dalam kelompok saya. Sayang sekali nama-nama mereka tidak cukup lekat di dalam ingatan. Bila ada yang bisa membantu, dengan senang hati saya menunggu koreksinya di halaman komentar di bawah.

      Masih banyak juga teman-teman yang lain yang tidak sempat ter 'cover' dalam cakupan kamera. Katakan misalnya ada Iwan Sumantri ataupun As'adi Abdullah.. karena rombongan dibagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok kecil itulah, sementara jumlah kamera jadul tidak memadai untuk meliput seluruhnya. Meskipun demikian, tanggapan dan co'do'-co'do' kalian tetap saya nantikan dengan senang hati.. :)
      Butuh waktu 2 malam dan 3 hari untuk kembali pulang ke rumah. Kondisi yang tentu saja sudah sangat jauh berbeda dibandingkan sekarang. Saat ini, sarana jalan permanen sudah menjangkau hingga ke kaki gunung, memungkinkan menjangkau puncak Bulusaraung tanpa harus bermalam di lapangan.
     So, adakah yang mau reuni, napak tilas jalur di saat-saat pertama Korpala memancangkan kaki yang kemudian berdiri kokoh hingga saat ini?

     Menghipnotis diri sendiri layak Anda coba untuk membantu merekayasa kembali kondisi mental maupun emosional ke arah yang Anda harapkan. Metode auto-hipnosa berikut ini begitu mudah untuk bisa dilakukan sendiri. Suatu metode yang dikembangkan oleh Silva bersaudara (Jose dan Juan) sejak tahun 1966. Metode itupun kemudian dikenal dengan nama Metode Silva.
     Metode Silva adalah cara untuk merilekskan tubuh dengan menggunakan gelombang otak di tingkat alpha serta memacu penggunaan otak kanan untuk memperoleh hasil yang positif. Penggunaan otak kanan adalah kuncinya. Metode Silva membantu kita mengoptimalkan kekuatan kreatif dari pikiran dengan menggunakan teknik-teknik visualisasi, imaginasi, berpikir positif dan meditasi.     Begitu sekilas mengenai metode praktis tersebut, dan untuk tidak berpanjang lebar lagi, mari kita praktekkan setiap langkahnya dengan cermat.

     Ambillah waktu secukupnya (kurang lebih 10 menit) untuk melaksanakan latihan yang akan saya bentangkan ini. Sebaiknya Anda lakukan pada pagi hari, kemudian siang atau sore hari dan di malam hari sebelum tidur.
     Ambil posisi santai dengan duduk pada sebuah kursi tanpa penyangga lengan, kaki selonjor saja, punggung disandarkan pada sandaran kursi. Kemudian posisikan kepala tegak lurus terhadap bahu. Arahkan bola mata pada kedudukan horisontal, mengamati suatu benda imajinatif (misalnya bola golf, atau buah apel) berada sejarak kurang lebih dua meter di depan Anda.
     Naikkanlah kedudukan benda imaji tadi (bola atau apel)  pada ketinggian satu meter di atas kedudukan horizontal tadi, pertahankan kedudukannya itu selama 10 detik dengan kelopak mata tetap terbuka. Bayangkan kini pada kedudukan itu angka lima beberapa kali selama 10 detik.
     Kemudian, tutuplah mata Anda, namun bola mata Anda tetap pada kedudukan semula (memandang benda kira-kira 1 meter di atas posisi horisontal tadi). Janganlah di-ubah, karena posisi itu akan membantu Anda untuk mendapatkan kondisi gelombang Alpha di dalam otak.
     Kini imajinasikan angka empat beberapa kali selama 10 detik. Ingatlah untuk tetap menjaga kedudukan bola mata Anda, karena ini adalah faktor yang sangat penting !!!
     Setelah membayangkan angka empat tadi, Anda lanjutkan membayangkan angka tiga beberapa kali, lalu mulai memberi perhatian kepada seluruh bagian tubuh dengan cara menelusuri bagian demi bagian.
     Mulailah dari kulit kepala, dahi, raut muka keseluruhannya, bahu, rongga dada, perhatikan turun naiknya paru-paru, detak jantung, perut, kedua paha, betis, telapak kaki dan akhirnya jari-jari kaki.
     Berikan perhatian pada setiap bagian tubuh yang disebutkan tadi itu, selama lima detik.
     Kini kita lanjutkan dengan mengimajinasikan angka dua beberapa kali, disusul dengan angka satu beberapa kali, lalu Anda membayangkan suatu imajinasi sesuai skenario yang Anda inginkan.

      Berikut ini adalah contoh skenario, tentu saja bisa membuat sendiri sesuai kebutuhan. (Penting untuk diingat, gunakan 'hanya' kata-kata positif di dalam menyusun kalimat skenario Anda)

      Aku duduk di sebuah bangku dengan pemandangan alam yang asri. Disekelilingku adalah taman berumput indah dengan berbagai macam bunga diantara pohon-pohon pinus. Cuaca yang cerah dan udara sejuk, ada angin sepoi-sepoi kurasakan menghembus pada rambut dan kulit tubuhku. Baunya merangsang hidungku, segar dan semerbak. Pemandangan ini dilatar belakangi oleh langit yang cerah, berwarna biru muda dan nampak dihiasi beberapa awan putih indah. Perasaanku sangat santai dan damai.

      Aku mendengar suaraku yang jelas dan tegas. Sikap ramah dan pemurah, ringan tangan untuk selalu membantu sesama. Aku kuat dan percaya akan semua kemampuan yang saya miliki, Aku penuh cinta dan kasih, tulus dan ikhlas sehingga selalu berdaya untuk berguna bagi umat manusia.
   <<< Susun skenario sesuai kebutuhan Anda!!!
Begitulah tadi contoh skenario imajinasi yang hendaknya Anda kembangkan sejelas mungkin di dalam imajinasi, seakan-akan Anda benar-benar memang sedang mengalami hal itu pada kondisi bangun sadar.

     Bila waktu belum sampai sepuluh menit, laksanakan terus pengulangan dari imajinasi Anda di atas.
     Setelah itu kita kembali ke alam sadar dengan melihat angka-angka satu, kemudian dua, tiga, empat dan lima. Pada angka lima kita buka mata, sambil merasakan nyaman di seluruh tubuh, lalu bangun dengan segar dalam kondisi sehat sempurna.
     Janganlah langsung beranjak dari posisi Anda, duduklah dengan santai selama sepuluh detik.

Rekamlah skenario ini pada alat perekam, atau pada komputer Anda, lalu pindahkan ke CD atau ponsel Anda, untuk Anda gunakan sebagai penuntun di dalam melaksanakan proses auto-hipnotis ini. Jadi Anda tinggal mengikuti setiap instruksi yang telah Anda rekam sendiri. Tidak perlu mengingat-ingat lagi sehingga bisa benar-benar berkonsentrasi pada setiap instruksi yang ada.

     Setelah sepuluh hari, Anda bisa beristirahat selama dua hari. Lanjutkan latihan Anda selama sepuluh hari lagi, istirahat dua hari, begitu seterusnya. Amati perkembangan positif dalam perilaku alam bawah sadar Anda, apakah telah memberi efek di dalam sikap sadar sehari-hari sesuai skenario yang telah Anda buat. Setelahnya, Anda bisa merancang skenario yang lain lagi sesuai kebutuhan Anda.

Berikut ini saya memberikan contoh rekaman audio yang bisa membantu Anda dalam tahap latihan awal. Suara dan skenario oleh Ir.DR.Psy, Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Guru Besar dari ilmu pengetahuan Psychorientology, Certified Silva Method Instructor sejak tahun 1983 yang belajar Metode Silva di Brussel, Belgia pada tahun 1980. Selanjutnya Anda bisa merancang skenario Anda sendiri.
     Selamat berlatih.

download file ukuran normal 13,9 Mb - standart untuk PC

download file ukuran 'diet'  1,75 Mb - baik untuk dimasukkan ke ponsel.
materi rujukan berupa artikel dan pelatihan
yang diselenggarakan oleh Silva Foundation
dalam program faraway training.
juga materi pelatihan DR. Lasmono
untuk pengembangan bisnis jaringan.
tulisan ini saya sampaikan sebagai
ungkapan terimakasih untuk
dr. Djalal yang telah dengan sabar
membimbing saya di dalam belajar
teori sekaligus praktek menghipnotis.
I miss U brader...

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.