Minggu, 10 April 2011

Perewangan Gunung Sireum Bandung Selatan

      Wasiat Resi :

          Gunung menyimpan sejarah tertua sebelum manusia.
          Sejarah kekuasaan makhluk yang lebih tua.
          Sungguhpun Adam ditetapkan menjadi Khalifah Utama.
          Ada juga yang bergantung kepada benang
          selemah benang sarang laba-laba ..


     Hari ini Sarman menghitung kembali hari-hari yang telah dilaluinya. Dibalik-baliknya setiap halaman kalender yang telah penuh dengan tanda silang. Dan dijumlahkannya setiap silang itu pada akhir setiap tahun yang berlalu. Dengan hati berdebar-debar keras ditotalnya,keseluruhan angka yang diperolehnya. Genap tujuh tahun, atau 2.555 hari. la berharap semoga bukan itulah angka yang tercatat di Gunung Sireum.
     Tetapi harapan itu, adalah harapan yang paling lemah. Seperti seseorang berharap matahari lebih cepat terbenam. Dan orang seperti itu akan berlindung di balik bukit, agar matahari cepat hilang dari pemandangannya. Sungguhpun matahari masih menerangi bagian bukit yang lain.
     Hitungan itu telah menyedot seluruh cahaya di tubuh Sarman. Sehingga ia tidak lebih dari seorang insan yang telah kehilangan roh Illahinya sama sekali. Semakin berangsur malam, ia semakin lunglai. Semakin lesu, seperti batang keladi didekatkan dengan panas api unggun. Terasa baginya, tak ada kodrat lain yang dapat mengubah hari-hari yang telah dilaluinya. Kecuali jika dunia kiamat malam ini, barulah mungkin ia dapat menghapus janji lain yang ditetapkan. Pukul 10 malam, ia mandi keramas bersih-bersih, dengan air yang dicampur beberapa bungkus bunga yang telah ditentukan sejak tujuh tahun yang lain. Jenis bunga itu mempunyai kodrat sebagai sarana udara yang bertalian dengan puncak Gunung Sireum.
     Selesai mandi, ia duduk di kursi menghadap ke daun pintu yang tertutup tetapi tidak dikunci. Cara ia duduk itu bukan kebetulan saja. Tetapi tepat di depan Sarman duduk jauh di sana, sebenarnya menghadap gunung yang dijelajahinya 7 tahun yang lalu bersama Rudin, Sateh, dan Garada.
     Mereka telah kaya-kaya, sungguhpun tempat mereka agak berjauhan di Bandung, Bogor, Sukabumi dan Garut. Tetapi mereka sering saling mengirim su¬rat, menghitung hari yang telah ditentukan. Dan berpikir-pikir untuk mengelak jika hari yang menakutkan itu datang juga.
     Kening Sarman yang pucat, melelehkan keringat dingin. Sedangkan gandulan jam kuno di sampingnya melenggang ke kiri dan ke kanan seperti orang menggeleng-gelengkan kepala dan merasa kasihan kepada nasib Sarman yang terakhir. Detak jantung Sarman telah lebih lambat dari detak gandulan jam dinding itu. Dengan jarum yang beringsut seperti tak dapat diiringi dengan mata. Tetapi tiba-tiba saja ia telah menunjukkan pukul 12 malam kurang 9 menit.
     Malam Jumat Kliwon. Malam saat roh didekatkan dengan kubumya. Malam alam barzah dibukakan. Dan juga malam para setan menarik orang-orang yang telah memenuhi janji untuk ke alam mereka.
     Sayup-sayup terdengar bunyi tapak kuda beradu dengan batu jalanan. Lambat tetapi pasti semakin dekat, sungguhpun langkahnya semakin pelan. Kuda itu telah turun dari kaki Gunung Sireum. Luncurannya rata, tidak mengikuti gelombang bukit dan Iurah yang dalam. Kuda gaib yang mungkin hanya Sarman saja yang dapat melihat dan merabanya. Di atasnya ada seorang berkerudung kain merah darah duduk dengan tenang, tanpa terguncang sedikit pun. Dia seorang wanita cantik berwajah putih seperti lilin. Tetapi kecantikan itu menjadi sumbang dan merindingkan bulu roma, karena rona tak berdarah seperti mayat hidup yang dipupur seperti pengantin dengan bedak tebal menghilangkan wajali aslinya. Bunyi tapak kuda itu berhenti di halaman rumah Sarman. Diiringi suatu kodrat, seluruh istri dan anaknya tertidur seperti hening orang mati. Dan udara malam mengubah ruangan rumah menjadi seperti gua-gua pengawet mayat di Toraja.
     Tiba-tiba mata wanita cantik itu memancarkan dua sorot merah bercampur biru di sekelilingnya.
     "Aku datang menjemputmu,.. Sarman. Aku istrimu," bunyi getaran suara beku dingin dari halaman. Suara itu lemah dan pasrah. Tetapi dapat menem¬bus daun pintu yang tertutup. Perlahan-lahan, diiringi oleh angin dingin yang menguakkan daun pintu. Perlahan-lahan pula Sarman memiringkan matanya ke jam gantung. Jarum pendek dan jarum panjangnya telah bersatu. Tak lama kemudian terdengar bunyi dentangan mendengung, seperti gong yang mengantarkan barisan pembakaran mayat di Bali. Bibir Sarman bergetar seperti kedinginan. Ingin rasanya ia menjawab suara itu, menolak undangan wanita cantik yang mengendarai kuda gaib di luar rumahnya itu. Tetapi sejak tujuh tahun yang lalu, Sarman sendiri sebenarnya telah meninggalkan salah situ ujung tali rohnya di Gunung Sireum. Tali roh itu telah ditancapkannya kepada putri gaib yang diakuinya sebagai istrinya di gunung itu.

    "Anak-anak kita telah menantikanmu, ... Sarman, susul suara itu lagi. "Bukankah telah genap janji, bahwa kau akan pulang hari ini?" Air mata Sarman tergenang di bola matanya. Ia sendiri tak dapat menyadari lagi, apakah makna air mata dirinya itu sendiri. Apakah air mata penyesalan, atau air mata terharu, karena akan meninggalkan istri dan anaknya yang sedang tidur nyenyak? Besok tentu semua keluarga akan heran, karena ia pergi tanpa pesan dan jejak. Raib seperti terisap oleh kekuatan langit.
     Seperti orang yang kena hipnotis perlahan-lahan Sarman melangkah ke depan pintu yang sudah terbuka. Baju panjang dan kerudung merah, berlatar belakang kegelapan malam yang pekat terlihat seperti bara neraka yang menyembul dari pusat bumi. Tersaruk-saruk Sarman menuruni tangga. Tangan pucat putih menyambutnya dari atas kuda hitam. Seperti seringan kapas, tubuh Sarman melayang ke belakang perempuan yang memegang kekang. Ketika itu gandulan jam dinding yang bergoyang tetap setia menunjukkan waktu. Tetapi tuannya sendiri telah berangkat ke alam lain... Tujuh tahun yang lalu, Sarman bersama tiga orang lain mendaki Gunung Sireum Bandung Selatan. Mereka terpengaruh oleh ajakan seorang tua berbaju hitam yang tiba-tiba muncul di kampung mereka, Sarman, Rudin, Sateh, dan Garada, menceritakan bahwa mereka pada waktu yang sama di hari yang sama pula, didatangi seseorang yang mengaku sebagai utusan dari salah satu kerajaan kaya raya di kaki gunung. Dan serentak pula mereka berhenti di sebuah warung kecil yang jaraknya hanya 1 kilometer lagi dari pendakian lereng gunung itu.
     "Aku jadi bingung," geleng Sateh, "mustahil dalam waktu yang sama utusan itu mendatangi kita. Terlebih lagi dengan bentuk dan penampilan yang serupa pula."
     "Mungkin saja,.. . sama pakaiannya dan tuanya, tetapi bukankah kita tidak mempunyai fotonya?" tukas Rudin. Berlainan dengan suasana di sebuah restoran besar di tengah kota, sebuah warung kecil di tempat sunyi, membuat orang cepat berkenalan dan akrab. Seperti mereka yang datang dari tempat yang berjauhan, menerima titah datang ke tempat yang sama, dengan tujuan yang sama pula.
     "Bapak-bapak ini .akan pergi ke Gunung Sireum, bukan?" tanya pemilik warung.
     Mereka bertiga berpandangan, dan Garada yang menyahut, "Mamang tahu juga rupanya."
     "Sudah 27 tahun aku di sini, meneruskan wasiat kakek kami yang ratusan tahun tilem ke gunung itu," jawab pemilik warung.
     "Tilem?" songsong Sateh, hampir serentak dengan suara Rudin.
     "Ya ... tilem," ulang yang punya warung lagi" Terkadang datang juga ia menjumpai anak cucunya, sekedar muncul di halaman rumah. Mewasiatkan agar warung ini tetap dibuka sepanjang malam." Mereka, baru menyadari keanehan warung yang telah puluhan tahun tetapi keadaannya tetap seperti baru itu. Dan setelah mereka berpikir bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang datang seperti mereka memenuhi panggilan yang datang ke tempat itu, keraguan mereka disaput keraguan lagi.
     "Biasanya sebelum matahari tegak kalian sudah harus berada di lereng gunung itu," kata pemilik warung yang wajahnya memendam beribu rahasia itu lagi.
     Tak disangka mereka sama sekali, gunung yang kelihatannya sederhana dari jauh itu, berisi hutan tua. Seperti tidak pernah disentuh manusia. Semak-semak setinggi kepala. Akar-akar yang berpintalan, saling rajut-merajut mengambang di atas mereka. Ada yang menghunjam ke dalam tanah, keluar kembali seperti ular besar bergulung-gulung, mencekam perasaan hati. Daun pohon-pohon besar meneduh lembab. Tak ada cahaya matahari yang sampai ke pundak mereka. Di tengah hutan belantara gelap itu sayup-sayup terdengar bunyian-bunyian seruling dan kecapi seperti sebuah pesta merayakan pengantin di zaman dulu. Terdengar pula tawa cekikikan kecil, seperti tawa gadis-gadis kecil yang bermain percikan air di tepi sungai.
     Mereka berempat saling pandang. Keseraman hutan Gunung Sireum terobat dengan bunyi musik klasik dan tawa kegelian gadis-gadis mungil itu. Terasa seperti telah berada di dalam pelukan mereka. Dada mereka bagai telah menganga, menyambut pelukan gumpalan-gumpalan daging empuk dada gadis remaja yang tiarap di pangkuan mereka dengan darah gemuruh.
     Sateh mempercepat langkahnya. Ia ingin duluan mengintip gadis-gadis yang mandi tidak berkain di dalam air. Alangkah mengasyikkan melihat kulit-kulit halus yang putih kuning di dalam air jernih. Ia ingin menerkam tubuh-tubuh itu, seperti melahap sepiring agar-agar merah yang memancing dahaga.
     Tetapi mereka tertahan di sebuah gerbang terdiri dari susunan pualam berbagai warna.
     "Itu dia orang tua yang mengundangku," ujar Sateh.
     "Dia juga yang menghubungiku," sambung Rudin
     "Memang dia yang datang kepadaku," sahut Garada pula.
     Sarman tidak perlu berkata lagi, karena memang orang tua berpakaian hitam itu juga yang menegurnya ketika ia sedang dirundung rugi besar akibat kiosnya terbakar.
     "Kedatangan cucu-cucu memang telah ditunggu", sambut lembut orang tua itu. Suara yang keluar dari mulutnya lebih besar dari bentuk tenggorokannya. Suara itu seperti bukan dari dirinya sendiri. Tetapi dari alam lain yang lebih tua dan hebat. Suara tawa kecil perempuan-perempuan tadi telah menguatkan hati mereka untuk melewati pintu gerbang. Mereka disuruh masuk ke dalam pintu-pintu seperti liang batu tersusun, yang di dalamnya terdengar bunyi gemercik air dari mulut pancuran kecil.
     Kegersangan perjalanan membuat mereka merasa seperti barisan tentara sewaan menempuh padang pasir. Mereka rindu air yang diteguk, rindu kulit wanita yang akan mereka lumat dengan pelukan-pelukan erat. Begitu masuk ke dalam pintu gerbang batu mereka disambut oleh pelukan-pelukan gadis tanpa pakaian. Bergumul mereka di atas rumput halus yang seperti permadani. Di sela-sela tawa cekikikan, palun berpalun dengan lenguh-lenguh napas yang terseret-seret panjang di tenggorokan. Tujuh hari mereka berempat tinggal di dalam kamar batu yang gelap, lengkap dengan makanan yang telah terhidang, bila mereka beristirahat menambah tenaga.
     Tujuh hari itu dibayar dengan tujuh tahun hidup ditunjang oleh alam gaib. Mereka telah meninggalkan air tulang sumsum mereka yang terhimpun di ujung tulang sulbi. Sama juga artinya mereka telah meninggalkan sejemput roh kehidupan mereka, yang pada suatu masa nanti akan mereka jemput sendiri ke tempat ini.
     Ketika mereka keluar dari kamar batu masing-masing, keadaan mereka sudah seperti binatang berkaki empat. Tak mampu berdiri, selain merangkak dengan persendian lemah dan tulang pinggang yang lunglai. Orang tua berbaju hitam dan bercelana gantung itu  melecut mereka dengan cemeti kulit ekor pari yang berduri. Cemeti itu terlihat seperti berlumur cairan kering yang merah kecoklatan, seperti darah kering. Mungkin sudah beratus orang terdahulu yang telah dilukai cemeti itu.
     "Ayoohhh, ... pergi, tunggulah di tempat-tempat yang disebutkan berikutnya, sampai waktu yang dijanjikan istri-istri kalian yang akan menjemput kalian!" hardik orang tua yang tiba-tiba berubah kasar dan buas itu. Mereka merangkak, sambil memekik-mekik diiringi bunyi cemeti seperti mercon yang mengeluarkan api. Melukai punggung dan tengkuk mereka yang tujuh hari yang lalu, bergelung di atas tubuh-tubuh wanita gaib yang menyerahkan tubuhnya. Pukulan cemeti, membuat dedaunan yang tersambar menjadi bertebaran. Sebagai gambaran pertama dari neraka alam marakayangan lain yang akan mereka tempuh di masa yang akan datang. Lutut mereka terkupas, punggung bilur-bilur pecah dihantam cemeti. Sesampainya di warung, mereka dapati warung itu tertutup, seperti tidak pernah didiami, dengan sarang laba-laba dan tanah sarang tawon yang berbuku-buku.
     "Sialan... ke mana pemilik warung tempat kita akan minta minum?" oceh Garada, kemudian mengopek darah yang mengering ditimpa panas pada lengan dan tengkuknya.
     "Mungkin dia tidak pernah ada, secara nyata," jawab Sateh.
     Sateh berdagang kayu bangunan. Yang dalam tempo setahun saja telah membuat ia menjadi orang kaya raya. Orang tidak mengetahui bagaimana caranya Sateh beruntung besar dalam usahanya. Sedangkan orang lain yang sama jenis usahanya dengan Sateh, beringsut menambah modal. Pada hari-hari tertentu, ada saja beberapa buah truk membongkar kayu ke gudang Sateh. Sateh tidak dapat banyak bertanya kepada supir truk, siapa yang mengirimkan kayu itu.
     "Aku hanya disuruh membongkar kayu ini di sini", jawab supir truk itu, "lain tidak." Kemudian truk utusan itu berlalu dengan cepat. Pengaruhnya, orang dikaburkan untuk memperhatikan nomor plat kendaraan itu, terlupa pula mencatat nama supirnya. Sehingga lama kelamaan Sateh menjadi biasa dengan keadaan itu. Dia tidak bertanya lagi menerima kiriman dari Gunung Sireum itu.
     Berlainan dengan Rudin pedagang kain. Ia sering disuruh seseorang yang berpesan, agar menunggu sesuatu di tepi jalan kecil di mulut hutan. Lalu meluncur saja sebuah pick-up penuh membawa tekstil. Berbagai corak dan rupa yang tergambar dalam rencana Rudin memperbesar usahanya.
     Garada termasuk orang yang paling beruntung. Karena pada hari-hari tertentu, ada saja orang membongkar bertruk-truk beras di muka tokonya. Sehingga ia mempunyai berpuluh cabang leveransir beras yang terkenal kaya raya. Sekali ia tertarik kepada seorang tua sederhana yang selalu duduk di bangku panjang halaman tokonya. Beberapa kali ia menyodorkan rokok kepada orang tua sederhana itu. Tetapi orang tua itu menolak dengan sopan, "Nantilah  bila aku telah ingin, baru aku meminta rokokmu."
     Jawaban itu bagai mengandung makna lain di lubuk hati Garada.
     "Tinggal beberapa tahun lagi waktumu," ujar orang tua itu bertanya dengan sinar mata lembut, penuh belas kasihan. Garada ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi cahaya mata orang tua yang kelihatannya mengandung sinar mata seorang kyai itu mempengaruhi keteguhan hati Garada untuk menyimpan rahasia kekayaannya.
     "Kek ...,Kakek tahu dari mana keadaanku?" tanya Garada tergagap-gagap. Terdiam sejenak orang tua jauhari itu, kemudian menyahut, "Aku melihat keadaanmu seperti bunga yang sedang saat berkembang sempurna tetapi tak lama lagi akan gugur."
     Garada menarik tangan orang tua itu ke dalam kantornya. Hanya mereka berdua saja di tengah hari itu. Karena seluruh pegawai Garada sedang makan keluar.  Sejak Garada bersimpuh lutut mengadukan nasibnya yang akan datang kepada orang tua itu, Garada menjadi sering berkelakuan tidak biasa. Ia telah membuat sebuah mesjid besar, yang seluruh biayanya dari dirinya sendiri. Se-tiap malam Jumat, ia mengundang para santri dan anak yatim piatu, untuk membaca Al Quran dan menerima sedekah dari tangannya. Kemudian dia sering mengundang beberapa Ajengan untuk memberi ceramah agama di rumahnya, dan mengundang seluruh pemuka masyarakat.
      Ketika istri gaib Sarman datang menjemput, pada saat yang sama Garada didatangi putri dari puncak Gunung Sireum Bandung Selatan. Sungguhpun Garada jauh berada di Sukabumi. Pada malam itu juga utusan itu mendatangi Garada. Ditandai dari anjing yang melolong panjang ketika menjelang tengah malam. Derap langkah kaki kuda itu sampai juga. Tetapi jauh dari rumahnya. Diiringi oleh ratap halus perempuan seperti kematian anak.
     "Garada .. Garada ... mengapa suamiku mungkir janji?" Suara itu halus membelah malam dengan lirih dan seram. Garada berharap tak seorang pun yang akan mengetahui penjemputan itu. Sebelumnya Garada telah mengundang 19 orang anak yatim piatu dari salah satu yayasan. Garada berlari ke sebelah rumah menuju musola. Lalu membangunkan seluruh anak yatim piatu yang menginap di situ.
     Tak lama kemudian terdengarlah dengung anak-anak di bawah umur membaca Kitab Suci. Dan suara tangis perempuan di luar rumah semakin pilu dan kesakitan. Sedangkan Garada sendiri duduk menghadapkan diri dengan posisi tersendiri, menghunjamkan ujung alip ke dalam bumi dengan keempat anggota badannya terpentang ke halaman rumah.
     Akhirnya terdengar suara seperti letusan knalpot mobil yang tersumbat meledak di halaman rumahnya. Mengepul, dengan rupa asap berbentuk puting beliung seperti gasing besar. Gemuruh kembali menuju arah Gunung Sireum. Batallah penjemputan, dan terhapuslah nama Garada di Gunung Sireum, selama ia tidak lengah memilih jalan bertobat dari mensekutukan Allah pada waktu yang lalu.
     Tetapi hanya Allah pulalah yang akan menilai apa yang dilakukan hamba-Nya, di muka bumi. Sungguhpun Garada telah terlepas dari perjanjian dengan makhluk gaib yang menolong kehidupannya selama ini.
     Di kamar batu di puncak Gunung Sireum, tergeletak berserakan sejemput debu hitam yang telah menjadi arang, berbau amis. Dan orang tua memegang cemeti itu terus-menerus memukuli Sarman ... bertubi-tubi. Karena melepaskan amarah kepada Garada yang terlepas dari penjara alam gaib sampai menunggu waktu kiamat. Cemeti bergetar ... diiringi lengkingan pekik Sarman.
Mpu Wesi Geni
Senang 00531 thn 1982

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar